Tiny Minnie Sequel [4]

Yoongi menyanggupi permintaan Jimin untuk cuddle bersama. Selain kekasihnya yang ingin, ia pun jujur rindu dengan aroma manis yang Jimin punya. Apalagi setelah seharian bekerja, tubuh yang letih tentu perlu energi tambahan.

Suhu ruangan dibawah dua puluh tiga derajat, ditemani satu cup tteokpokki yang sudah kosong, tidak lupa suara percakapan antara karakter dengan karakter yang keluar dari laptop. Keadaan kamar remang-remang dengan pencahayaan yang sedikit dari lampu di nakas.

Kedua insan itu memfokuskan tatapan kearah film yang sedang diputar. Tangan memeluk satu sama lain, serta tubuh bergelung erat di dalam selimut tebal. Yang satu biasanya sibuk mengusak-ngusakkan wajahnya kearah kaus dengan aroma parfum yang masih melekat kuat, sementara yang satunya lagi sibuk menciumi aroma shampo yang mereka beli bersama minggu lalu.

“Kenapa ya, kita itu pakai shampo yang sama lho. Kok wangi yang keluar bisa beda di aku.”

“Dari dulu kamu bilang gitu terus, emang di aku wanginya gimana?”

“Kayak... hmm, bayi.”

Jimin mencubit bagian perut Yoongi main-main. Ikut tertawa ketika pria itu juga tertawa. Terkadang sebal sekali jika Yoongi terus-terusan melabeli dirinya dengan kata 'bayi', tetapi lama kelamaan ia suka panggilan itu.

Berarti Yoongi mengakui kan kalau dirinya gemas dan... ekhem—lucu.

Jimin meletakkan kepalanya di antara perpotongan leher kekasihnya. Mengusakkan hidungnya ke lipatan leher itu dengan nyaman. Di lain sisi Yoongi dengan posisi yang sudah paten mengusap bahu yang lebih muda dengan penuh kasih sayang.

Terkadang mengusap, di lain waktu Yoongi memijit lengan kekasihnya itu perlahan. Mengerti jika Jimin sedang lelah dan butuh perhatian lebih.

Film tetap berjalan sementara Yoongi bergelut dalam pikirannya sendiri karena tidak terlalu menikmati film yang diputar. Pikiran Yoongi mengambang disana, sembari berpikir keras mengenai kejadian satu tahun lalu.

Ketika Jimin berubah menjadi anak berumur lima tahun, dan setelah kembali normal lelaki itu sama sekali tidak mengingat apa pun yang terjadi. Bahkan dunia seolah-olah lupa jika hal itu pernah terjadi.

Aneh.

“Kak, scene pernikahannya lucu ya....”

Jimin semakin mengeratkan tubuhnya kepada Yoongi. Berusaha kembali membujuk kekasihnya itu, atau setidaknya dibuat peka lah.

Namun, respon yang ia dapat sangat mengecewakan menurutnya. Lihat saja bagaimana Yoongi dengan cueknya hanya mengangguk pelan bahkan tanpa melempar senyum setitik pun.

Sungguh. Ia. Ingin. Menikah.

Umur, finansial, dan mental mereka sudah bisa dibilang mantap dan mapan. Bahkan beberapa bulan lalu Yoongi sempat mengatakan ingin menikahi Jimin. Namun apalah hanya angan belaka yang diterimanya.

Mungkin memang bukan saatnya. Atau itu semua karena Yoongi ragu dengan hubungan mereka? Karena jelas hubungannya dengan Yoongi baru saja menginjak bulan ke tujuh. Terbilang masih sangat muda untuk dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius.

Jimin pun sebenarnya tidak banyak menuntut, bahkan mungkin dengan tunangan saja sudah lebih dari cukup. Ia ingin melihat ke seriusan Yoongi pada hubungan mereka.

Sedikit sedih, namun ia mencoba untuk mengabaikannya. Setidaknya ia harus mencoba bersabar menunggu Yoongi. Namun sampai kapan...

“Lusa kamu mau temani aku ambil setelan di butik gak, kak?”

“Pasti aku temani lah.”

Jimin tersenyum lembut ketika Yoongi menjawabnya dengan cepat. Bahkan tanpa berpikir.

Bahkan dari jaman awal mereka pendekatan pun Yoongi memang seseorang yang protektif. Namun masih bisa ditolerir dan wajar.

Ya, jika memang pada dasarnya Yoongi lebih merasa nyaman dengan hubungan yang seperti ini maka Jimin akan mencoba untuk mengimbanginya. Ia yakin Yoongi punya alasan lain. Karena jujur, pria itu selalu berpikiran matang.

Mungkin jika memang dunia memberikan skenario yang seperti ini, maka tugas Jimin adalah mengikuti alurnya. Walau harus bersabar ekstra, ia yakin di depan sana ada pelangi yang menunggunya tiba.[]