Tiny Minnie Sequel [37]
Yoongi kembali menyeruput teh beraroma leci yang di sajikan oleh Jimin. Gelas ketiga, dengan teh yang sama jenisnya.
Bahkan sekiranya Yoongi sudah ke kamar mandi sekitar dua sampai tiga kali. Kembung juga perut dibuatnya. Bahkan mereka baru sampai menanyakan kabar masing-masing belum sampai ke pembahasan hal yang membuat hubungan mereka putus.
Seminggu tidak bertemu, seminggu tidak bersentuh, seminggu tidak menatap wajah satu sama lain. Tidak ada interaksi yang sejujurnya sangat berat dilakukan oleh kedua belah pihak.
Ketika Jimin pergi ke Jeju dalam waktu lima hari saja Yoongi ketar ketir. Bahkan berniat ikut kesana untuk menghampiri Jimin.
Tidak bisa dipisahkan.
“Aku... nggak selingkuh, Ji.”
Jimin menegapkan duduknya. Menatap lurus dengan ekspresi serius kearah Yoongi. Menatap 'mantan'nya itu yang sangat ia rindukan kehadirannya.
“Tapi, aku selalu liat kamu ngehindar, selalu sembunyiin sesuatu dari aku.”
“Aku punya alasan.”
“Ya, apa?!”
Jimin sekilas menaikkan nada bicaranya tidak sabar. Bertatapan dengan kedua mata kucing Yoongi dengan raut kesal. Jelas sekali lelaki itu merasa dibohongi, bahkan baginya saat ini Yoongi sedang berbohong kepadanya.
Tanpa disangka, Yoongi mengeluarkan kotak beludru berwarna hitam dengan bentuk familiar yang Jimin kenal. Seperti... kotak cincin.
Jimin bergantian menatap Yoongi dan kotak cincin itu, turut bingung dengan apa yang dimaksud oleh Yoongi. Apa ternyata pria itu ingin bertunangan atau sudah bertunangan dengan orang lain? Makanya ingin disembunyikan dari Jimin?
“Aku mau lamar kamu.”
Satu kalimat yang diucapkan oleh Yoongi itu menghantarkan sejuta rasa terkejut ke dalam kepala Jimin. Lelaki itu mematung, menatap tidak percaya dengan mulut yang sedikit terbuka.
Total bungkam dengan apa yang barusan dibilang oleh Yoongi. Terlalu... kaget.
Karena sesosok Yoongi yang ia kenal, bukanlah tipe orang yang akan melakukan acara kejutan seperti ini. Jangan-jangan selama ini Yoongi telah berpikiran matang di belakang Jimin tanpa lelaki itu ketahui.
Jimin menjadi lebih kaget lagi ketika Yoongi membuka kotak itu. Memperlihatkan dua buah cincin sederhana yang nampak di mata.
“Ini... apa Yoongi?”
“Aku mau lamar kamu, Jimin. Tadinya. Sebelum kamu ngucap putus, aku mau lamar kamu tanggal dua puluh nanti.”
Yoongi mengusap kedua cincin itu dengan sayang. Kembali pria itu menatap Jimin dengan ekspresi si lelaki yang penuh keterkejutan. Terserah lah jika ingin menganggap Yoongi bohong lagi.
Lelaki itu hanya terdiam sembari menunduk. Kedua tangannya bertaut resah diletakkan diatas paha.
“Yoongi, maaf.”
“Dimaafkan. Sekarang coba kamu lempar bukti satu-satu, nanti aku jawab jujur.”
Jimin meraih smartphone yang sebelumnya ia letakan diatas meja. Menyalakan layarnya hingga menampilkan home dan menuju galeri. Lelaki itu mencari foto beberapa minggu lalu, yang sempat ia ambil secara diam-diam.
Foto Yoongi sedang berpelukan dengan 'selingkuhan'nya.
“Ini. Di hari itu kamu bilang sibuk, ternyata kamu ketemu sama cewek ini. Gak sekali dua kali aku lihat kamu sama dia.”
Yoongi meneliti foto itu. Dahinya sedikit berkerut memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan.
Lantas hal selanjutnya yang Yoongi lakukan adalah tertawa. Sementara Jimin yang tidak mengerti ada hal apa yang lucu menjadi sedikit kesal dengan Yoongi yang malah sempat-sempatnya tertawa.
“Ini itu temenku, Son Wendy. Waktu itu kami pelukan gara-gara... apa ya? Dia hamil kalau gak salah. Dia udah nikah, sayang. Bahkan yang bantu aku cari cincin ini itu dia.”
“Heh, gak usah pakai sayang-sayang. Kita udah putus.”
Jimin berucap ketus sementara Yoongi tetap dengan tawanya yang belum berhenti. Malahan semakin kencang ketika melihat wajah malu Jimin karena telah salah menduga. Ya gimana, mereka putus kan juga karena Jimin yang memutuskan sepihak.
Jimin pun malu mengakui jika itu salahnya. Maka disini Yoongi berperan sebagai penenang dengan mencoba untuk memeluk lelaki itu lembut.
Tubuh kecil itu diusap lembut. Napas si pria yang hangat mengenai bagian leher Jimin, membuatnya tenang sesaat.
“Aku kangen kamu, kak Gi.”
“Iya, aku emang ngangenin.”
Jimin membiarkan Yoongi lolos untuk itu. Saat ini ia hanya butuh pelukan sang 'mantan' yang sangat dan masih ia cintai sepenuh hati.
“Kamu mau gak, jadi tunangan aku?”
“Nggak ih!”
Tubuh Yoongi terdorong menjauh dari Jimin ketika lelaki itu mendorong tubuhnya. Kembali Jimin menatap Yoongi dengan bersungut-sungut.
Yang benar saja, benarkah ia ditolak lagi?
“Lamarnya gak romantis, siapa yang mau terima kalau kayak gitu?”
Mereka bertatapan untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya tawa lepas mereka keluar mengisi ruang apartemen Jimin yang sebelumnya kosong tanpa kehadiran Yoongi.
Memang terkadang, sebuah kesalah pahaman hanya butuh dijelaskan dengan komunikasi dan kepala dingin.
Dua hal fatal yang sebelumnya Yoongi dan Jimin abaikan sehingga membuat keretakkan. Namun, berbahagialah karena nyatanya semesta memang tidak ingin memisahkan kedua insan yang sedang memadu kasih itu.[]