Tiny Minnie Sequel [32]

Total sudah seminggu tidak pernah bertemu atau pun saling menghubungi benar-benar membuat Yoongi diambang batas gila. Tentu ikut merasa bodoh karena di hari itu dirinya juga membentak 'mantan' kekasihnya itu. Ah, mantan, rasanya ia tidak pernah menganggap hubungan mereka benar-benar putus, tidak sanggup rasanya.

Maka, pada hari ini Yoongi datang ke apartemen lelaki itu. Menunggu dengan sabar di depan pintunya, terkadang bersandar di dinding ketika terlalu lelah berdiri.

Ia benar-benar harus berterima kasih kepada Namjoon, karena sekarang ia tahu beberapa info untuk mendatangi Jimin sembari membawa beberapa penjelasan mengenai dirinya yang selingkuh dari lelaki itu. Ya, meskipun tidak mengerti juga apa yang dimaksud oleh Jimin. Karena, ia sendiri pun tidak pernah merasa mengkhianati Jimin.

Hanya orang bodoh yang bisa berpaling dari Jimin. Dan Yoongi bukanlah salah satunya.

Yoongi mengangkat kepalanya ketika mendengar suara sepatu yang bertubrukan dengan lantai dibawahnya. Pasti itu Jimin. Jika mengingat suara dan tempo langkah kaki orang adalah sebuah hal yang gila, maka bebas untuk bilang dirinya gila. Bahkan terkadang suara dari nafas lelaki itu saja sudah bisa membuat telinganya berdiri.

Yoongi menatap sepasang mata itu sepersekian detik sebelum Jimin memutuskan kontak mata mereka terlebih dahulu. Beruntung Yoongi sempat menahan pintu yang dibuka Jimin agar tidak tertutup.

“Let me explain.”

”... Shut the fuck up, just go.”

Jujur, pria itu sedikit tersentak ketika mendengar nada datar serta umpatan kasar yang diucapkan Jimin. Lelaki itu sebelumnya tidak pernah seperti ini. Dan Yoongi pun memaklumi hal itu karena terlihat sekali jika Jimin sedang marah besar kepadanya.

“Aku butuh kamu, buat dengar semua penjelasan aku.”

“Soal apa? Kamu selingkuh?”

“I never do that. Aku bukan orang yang seperti itu, Mi.”

“Then, that's enough. Selamat malam.”

Jimin membanting pintu itu di depan Yoongi. Pintu berwarna putih polos itu tertutup tepat di depan wajah Yoongi yang mematung.

Tangannya mengambang karena ingin mengetuk namun terpikir banyak orang yang akan terganggu dengan hal itu. Yoongi pun hanya terdiam disana sembari menyandarkan dahinya di atas pintu unit apartemen Jimin yang tertutup rapat.

“Minnie, dengar aku sebentar aja ya. Aku minta maaf udah bentak kamu waktu di studio, aku pun juga gak bermaksud nuduh kamu selingkuh. Sumpah, salahku lebih mementingkan emosi dan egoku.”

Yoongi menarik napasnya pelan. Terasa berat hingga ingin menyerah. Namun ia tetap menunggu Jimin membukakan pintu itu dan membiarkannya masuk untuk menjelaskan semua hal yang menjadi kesalahpahaman mereka.

“Minnie, aku bakal jelasin semua hal yang kamu curigai, semua bukti yang kamu kumpulkan. Bahkan kamu boleh tanya Namjoon kalau kamu masih nggak percaya.”

Kembali pria itu menarik napasnya yang terasa sesak. Berusaha menguatkan dirinya sendiri dan memantapkan hati untuk tetap tidak menyerah.

“Aku cinta kamu, Jimin. Aku mau dan butuh kamu ada di hidup aku.”

Ucapnya terakhir kali. Kembali menatap pintu yang masih tertutup rapat itu dengan tatapan sendu.

Mungkin ini akhirnya? Akhir dari perjalanan cintanya yang indah bersama Jimin. Satu dari seribu orang yang bisa membuat hidupnya kembali berwarna. Satu dari seribu orang yang Yoongi syukuri keberadaannya di dunia ini.

Dengan lesu, pria itu membalikkan badannya. Membawa langkahnya yang berat menjauhi unit itu untuk pulang. Entahlah, mungkin kembali menangis sendirian di apartemennya yang kosong.

“Masuk, katanya mau jelasin.”

Suara lembut itu memasuki gendang telinga Yoongi. Membuatnya terkejut hingga memutar kembali tubuhnya menghadap pintu unit apartemen itu.

Menatap Jimin yang berada disana berdiri dengan baju kerjanya. Tak apa, meskipun lelaki itu menolak untuk menatap matanya. Yang pasti, ia beryukur karena Jimin telah memberikannya kesempatan untuk menjelaskan semuanya guna mencoba untuk menyatukan kembali hubungan mereka yang sebelumnya retak.

'Semesta, tolong bantu saya,' ucap Yoongi di dalam hati. Kembali ia berharap kepada semesta untuk menghadirkan hal-hal baik di hidupnya. Kembali ia berharap agar Jimin dihadirkan kembali di dalam cerita hidupnya.[]