Tiny Minnie [74]

Yoongi menyelonjorkan kakinya dan menyamankan duduknya diatas alas berbahan kain tipis itu. Kain yang diberikan oleh Eunyong untuk dipakai mereka berdua ketika di pantai. Bahkan wanita itu dengan repotnya juga menyiapkan beberapa bekal untuk mereka makan bersama.

Pria itu menatap bocah lima tahun yang dengan gembiranya membuat istana pasir. Gemas sekali. Belum lagi ketika Jimin berteriak senang ketika menemukan cangkang kerang kosong yang biasa ditemukan di daerah sekitaran pantai.

Sementara anak itu bermain Yoongi disini hanya mengawasi sembari menikmati semilir angin yang mengusap wajahnya dengan lembut. Keadaan memang sangat mendukung pada saat ini.

Beruntung mereka berangkat ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Karena hari pun sudah menuju malam hingga matahari tidak terlalu terik membakar kulit.

Sungguh, pengalaman selama seminggu ini tak henti-hentinya Yoongi kagumi. Menurutnya wajar, karena di rumah ia jarang sekali diguyur afeksi oleh keluarganya. Dipuji atas pencapaiannya saja jika sempat, apalagi sekadar hanya untuk berbagi sebuah pelukan.

Dalam hati, Yoongi bersyukur keluarga Jimin mengguyur lelaki itu dengan sejuta afeksi. Bahkan terlihat sekali jika Ibu Jimin adalah tipe orang yang tidak malu untuk memulai skinship terlebih dahulu.

“Ouummm— Jimi lwelahh..”

Yoongi tersenyum singkat. Tangannya melambai untuk memberikan isyarat kepada Jimin agar anak itu mendekat kearahnya.

Dengan telaten, ia memberikan botol berisi air mineral yang Ibunya Jimin siapkan untuk mereka. Membiarkan anak itu minum terlebih dahulu baru duduk di sebelahnya.

“Oumm.. timaaci-!!”

“Hm? Untuk apa?”

“Kalena Jimi cuda dilawat oleh oum-!!”

Yoongi tertawa kecil. Kembali matanya menatap air laut di depannya yang sedikit berwarna oranye karena pantulan dari langit senja.

“Iya, sama-sama. Lagipula itu sudah menjadi kewajiban om.”

Hening menyelimuti mereka mereka berdua. Sibuk tenggelam dalam hal yang berbeda. Yoongi dengan pikirannya sendiri dan tentu Jimin juga dengan pikirannya sendiri.

Yoongi mulai memikirkan kejadian saat natal tahun lalu. Belum lama terjadi, memang. Hal itu merupakan salah satu hal yang Yoongi ingat dengan baik hingga sekarang.

Cafe kantor, secangkir latte hangat yang masih mengepul asapnya, dan meja di sudut ruangan yang sangat jarang orang perhatikan. Ia ingat bagaimana merahnya wajah Jimin malam itu, bahkan ia masih ingat raut kecewa yang lelaki itu tunjukkan ketika ia membatalkan janji mereka untuk bertemu dengan klien.

Terkesan brengsek memang, tetapi Yoongi pada saat itu hanyalah seseorang dengan tingkat kepekaan dibawah nol. Bahkan terlalu cuek untuk menyadari perasaan yang Jimin pendam.

Menyesal, tentu. Andai saja ia sudah menyadari perasaannya sedari awal, mungkin kini ia dan Jimin sudah menjadi sepasang kekasih.

Mungkin benar kata Namjoon, ia terlalu buta untuk diberi sebuah perasaan cinta.

Kini ia hanya bisa menertawakan dirinya sendiri karena baru menyadari perasaan yang ia miliki. Tanpa disadari, Jimin kecil ini membawa dirinya untuk menyadari perasaannya lebih dalam.

“Semesta, tolong bantu saya.”

Telinga Yoongi berdengung pelan beberapa menit setelahnya. Seketika udara yang tadinya mulai mendingin kini berubah menjadi hangat yang membungkus tubuhnya lembut.

Hangat. Seperti Jimin.

“Bantu apa ya... kak?”

Yoongi menoleh kearah kirinya dengan raut sangat terkejut. Karena, sumpah ia baru saja mendengar suara lembut Jimin dua puluh enam tahun.

Benar saja, Jimin dewasa dengan bentuk wajah yang sangat ia hafal sedang menatapnya dengan raut penuh kebingungan. Lelaki itu nyata di hadapannya, duduk dengan kaki dilipat. Bahkan pakaiannya terlihat sama persos dengan yang Jimin kecil pakai waktu pertama kali bertemu dengannya di lobby kantor.

“Eh, maaf. Maksud saya, apa yang perlu dibantu, Yoongi-nim?”

“Jimin? Maksud saya... kamu benar Park Jimin, kan?”

”... Iya?? Saya Park Jimin. Kenapa Yoongi-nim terlihat seperti sedang bertemu hantu begitu?”

Aneh. Masa iya semesta benar-benar langsung mengabulkan permintaannya?

Yoongi yang heran dan sedikit terkejut dengan keadaan tersebut pun memijit pangkal hidungnya pelan. Berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Bahkan ia masih ingat satu jam yang lalu Jimin kecil sedang bermain istana pasir di depannya. Kini, Jimin dua puluh enam tahun muncul di hadapannya.

“Kamu ingat sesuatu? Sekitar dua bulan ini, kamu ngapain aja?”

Jimin memberikan gelengan kecil sebagai jawaban atas pertanyaan Yoongi. Lelaki itu meremat tangannya gugup dan wajahnya sedikit memerah ketika ditatap intens oleh Yoongi. Apalagi dengan keadaan pria itu semakin mendekatkan tubuhnya kearah Jimin. Sangat tidak bagus untuk kesehatan jantung.

“Bulan Februari di tanggal dua. Ingat sesuatu?”

”... Februari tanggal dua? Ah, saya berada disini waktu itu. Sehabis melakukan beberapa photoshoot saya ke Busan untuk merenung. Dan... saya memilih tempat ini waktu itu. Kenapa, ya?”

Masuk akal sebetulnya. Kamu berubah kembali ketika berada di tempat yang sama. Namun, yang menjadi pertanyaan Yoongi adalah, apa pemicunya?

Tidak mungkin Jimin hanya berubah tanpa sebuah alasan yang jelas. Makanya terbilang aneh untuk Yoongi.

“Kamu... merenungkan apa? Saya boleh dengar?”

Yoongi menenangkan dirinya sendiri. Berusaha terlihat senyaman mungkin agar Jimin percaya padanya.

Selain ingin tahu alasannya, ia pun ingin tahu apa-apa saja yang sudah dilewati oleh lelaki itu. Bukan penasaran, ia ingin mengenal Jimin lebih dalam.

“Saya... saya sering menyesali masuk ke dalam industri permodelan. Saya tidak pernah menyukainya, jujur. Saya memilih ini pun karena... ekhem—suatu alasan.”

Kembali pipi lelaki itu dihiasi semburat kemerahan, serta bibir tebalnya digigit pelan dengan gugup. Bahkan kini Jimin sedikit mengalihkan tatapannya kearah lain, menolak bersitatap dengan Yoongi.

“Saat saya sampai disini, saya menangis. Deras sekali waktu itu. Saya mengatakan ingin kembali menjadi anak berumur lima tahun saking lelahnya.”

Yoongi mengangguk mendengar lanjutan ucapan lelaki itu. Mulai beberapa masuk di akal.

Yoongi yang turut bersimpati dan mengerti susahnya melangkah di dunia ini pun merangkul bahu Jimin dengan lembut. Mengusap lengan yang sedikit lebih berbentuk darinya itu penuh kehangatan. Berusaha menyalurkan apa yang telah disalurkan oleh Jimin dan keluarga lelaki itu.

Jimin memberhentikan ucapannya sejenak. Lelaki itu menghembuskan napasnya yang terasa berat. Jujur, saat ini detak jantung Jimin tidak karuan cepatnya.

“Lalu, percaya tidak? Ada suara di kepala saya, dia bilang kalau dia akan merubah saya menjadi anak berumur lima tahun. Namun, syarat untuk kembali ke tubuh awal adalah... harus ada seseorang yang membunuhku atau mencintaiku dengan tulus.”

Yoongi menatap Jimin dengan raut terkejut untuk ke sekian kalinya. Tentu, ada dua opsi dan yang satunya sangatlah gila. Benar-benar beruntung dirinya yang menemukan Jimin kecil pada saat itu.

Pria dengan surai segelap malam itu pun mengusap punggung yang lebih muda dengan lembut. Memberikan afeksi terbaik yang bisa ia beri.

Ya, sedikit berlatih untuk ke depannya.

Yoongi memerah sendiri ketika mendengar pikiran itu di kepalanya. Dengan kaku ia mengusap bagian belakang telinganya dan sontak berdiri dari duduknya.

Ia menatap bulan yang telah naik menggantikan sang matahari dengan takjub. Kembali ia mensyukuri hal-hal yang terjadi padanya selama beberapa bulan ini.

“Ayo, saya antar kamu pulang.”

“Yoongi-nim tahu rumah saya dimana?”

Yang ditanyai hanya melemparkan senyum kikuk tanpa menjelaskan lebih. Pria itu meraih telapak tangan yang lebih kecil darinya itu dengan lembut.

Sekali lagi, ia ingin berterima kasih kepada semesta karena telah menghadirkan skenario yang indah di dalam hidupnya. Sungguh, kehadiran Jimin agaknya seperti sebuah hadiah istimewa yang dikirimkan semesta untuknya.

Maka, dengan segenap hati, ia ingin dan sudah sangat melebihi yakin untuk memberikan seluruh perasaannya untuk Jimin. Lelaki yang kini ia cintai.[]