Tiny Minnie [66]
Keluarga Jimin merupakan keluarga yang hangat. Terbilang sangatlah hangat. Yoongi mengakui jika keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu beserta satu anak itu adalah keluarga yang menyukai afeksi.
Kembali ia menyadari sifat Jimin yang sangat suka dipeluk. Atau pun sifat Jimin yang cenderung mendekat kearah seseorang di dekatnya ketika sedang tertawa bahagia. Jimin itu adalah simbol dari sebuah afeksi.
Jujur, sudah lama ia memperhatikan itu semua. Mungkin dirinya yang hanya penasaran atau... sebenarnya sudah lama perasaan itu muncul untuk Jimin? Perasaan spesial yang diberikan untuk orang tertentu yang menguasai tempat khusus di dalam hati. Untuk orang spesial yang sedari dulu menguasai tempat luas di hatinya.
“Nak Yoongi?”
Suara khas bapak-bapak terdengar oleh telinganya. Ia menolehkan kepalanya sembari menunjukkan sebuah senyuman paling ramah yang pernah ia berikan kepada orang lain.
Senyum dibalas senyum, membuat kamar dengan ukuran sedang milik Jimin itu terlapisi dengan atmosfir hangat yang jarang Yoongi rasakan. Gelak tawa dari Park Junsung, ayah kandung Jimin, memenuhi ruangan itu. Tangan besarnya merangkul bahu Yoongi dengan hangat.
Terasa sangat tulus, bahkan Yoongi merasa Junsung memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Sekali lagi tidak heran jika Jimin benar-benar sehangat itu.
“Jimin dulu tumbuh di rumah ini. Bahkan saya sendiri yang menyaksikan bagaimana dia memperjuangkan mimpinya.”
Yoongi mengangguk paham. Matanya mengamati bagaimana Tuan Park dengan lembutnya meraih figura yang berisikan foto Jimin ketika remaja. Mungkin, sekitaran menengah pertama hingga menengah atas.
Tuan Park menatap foto itu dengan raut teduh. Seketika membuat rasa kagum Yoongi meningkat drastis. Rasa kagum karena melihat raut seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya dengan tulus.
“Dulu Jimin senang sekali ketika mengetahui ada perekrutan trainee baru, anak itu berangkat ke Seoul pagi buta untuk pergi audisi.”
Ah, benar, Yoongi ingat. Di ruang audisi nomor dua, dengan keringat mengucur deras Jimin menari di hadapan juri. Menunjukkan semua kemampuan yang ia punya. Namun, entah karena tersandung sesuatu, tubuh lelaki yang masih berumur delapan belas saat itu limbung jatuh membentur lantai kayu ruangan.
Yoongi ada disana, Yoongi ada melihat jerih payah Jimin sedari awal. Ia pun tahu ketika para juri memutuskan Jimin tidak lolos, barulah satu tahun kemudian ia melihat poster Jimin sebagai trainee di divisi model.
Semesta itu lucu. Terlihat sekali jika sedari awal semesta memang berusaha mempertemukan mereka berdua.
“Ya sudah, saya tinggal dulu ya. Jimin kecil ini emang lagi manja-manjanya.”
Pria itu tertawa pelan sebelum menepuk pundak Yoongi dengan lembut. Yang berstatus sebagai orang baru di rumah itu pun hanya membalas dengan senyuman tipis yang sopan.
Pikirannya terombang-ambing. Bahkan seperti bingung harus melakukan apa.
Ia tahu alasan Jimin kembali ke agensi mereka, ia tahu melebihi semua orang. Ia tahu bekal pagi yang di sisipkan Jimin di loker miliknya. Ia tahu lelaki itu yang diam-diam menaruh minuman isotonik di depan pintu studionya. Ia tahu lelaki itu kembali ke agensi dan memutuskan untuk melepas mimpinya sebagai dancer hanya untuk Yoongi.
Hanya untuk pria yang beberapa tahun lalu Jimin temui di koridor agensi, pria yang dengan baik hati menawarkan air mineral dan gimbap instan yang dibelinya di minimarket seberang sebagai penyemangat karena tidak lolos audisi.
Yoongi menatap seisi kamar yang di dominasi warna beige itu dengan teduh. Kini hatinya berusaha untuk tak lagi menampik jika ternyata dirinya sudah lama jatuh untuk lelaki itu.
Jika sebenarnya semesta bermaksud untuk mempersatukan mereka, maka dengan senang hati ia akan menerima takdir yang semesta tuliskan untuk mereka berdua.[]