Tiny Minnie [60]
Yoongi mematikan mesin mobilnya ketika mereka sudah sampai di salah satu pantai Busan. Kembali ia melihat kearah Jimin, namun dirinya hanya menemukan wajah datar yang ditunjukkan oleh bocah itu.
Bingung juga, sebenarnya ia salah apa. Yoongi melepas sabuk pengamannya dan milik Jimin sebelum keluar dari mobil. Ia membawa plastik putih besar serta alas berbahan kain bermotif kotak-kotak dengan tangan kanannya keluar mobil, barulah ia membukakan pintu Jimin meminta anak itu segera keluar. Sudahlah tangan kanan sibuk membawa barang bawaan, kini tangan kirinya sibuk menggandeng Jimin agar anak itu tidak kemana-mana.
Benar, seperti bapak satu anak, kini Yoongi mengakui itu.
Jimin menarik tangan Yoongi, menuntun pria itu menuju salah satu tempat yang cukup teduh tidak terpapar sinar matahari. Pilihan bagus. Yoongi sendiri pun benci jika harus terpapar sinar matahari yang cukup panas dalam waktu yang lama.
“Dicini, oumm!!”
Setelah mendengar permintaan Jimin, Yoongi berucap kepada anak itu untuk menunggu sebentar. Dengan cepat ia menggelar alas yang ia bawa dan meletakkan plastik putih ber-logo nama minimarket yang berisi makanan mereka untuk disantap pada hari itu.
Isinya kebanyakan makanan manis yang Jimin minta, sisanya beberapa lauk untuk makan siang. Jujur, berkendara selama kurang lebih enam jam penuh sungguh membuat dirinya lelah. Apalagi ia belum sempat makan siang, sarapan pun hanya makan dengan porsi yang tergolong sedikit dari porsi orang dewasa kebanyakan.
Ia menyiapkan bekal makan miliknya dan Jimin, lalu meletakkannya diatas alas itu dengan rapi. Setelah berdoa, ia menyantap nasi dan lauk tonkatsu buatannya ke dalam mulut. Ditambah dengan kimchi siap jadi yang baru ia beli di minimarket tadi pagi.
Bersantai di tepi pantai Busan memang yang terbaik. Apalagi dengan cuaca yang tidak terlalu panas cenderung hangat khas musim semi.
Yoongi tertawa pelan sembari menatap pemandangan di depannya dengan takjub. Ya, akibat terlalu lama bergelung di dalam studio dan memandang pemandangan yang monoton setiap hari. Kini matanya terpuaskan dengan laut tenang yang indah di depan matanya itu.
“Eohh... Mama!”
Tiba-tiba saja Yoongi mendengar Jimin berseru kencang. Bocah itu berlari menjauh dari Yoongi guna memeluk seorang wanita yang Yoongi sama sekali clueless mengenai orang itu.
Terburu-buru ia merapikan alat makannya untuk berdiri mengejar Jimin. Matanya membola kaget ketika melihat wanita itu memeluk lembut tubuh Jimin kecil.
Terkejut, pasti. Ada beberapa dugaan Yoongi mengenai identitas orang itu. Namun ketika dirasa tidak mungkin dan mustahil karena reaksi yang terlalu santai, Yoongi menepis dugaan-dugaan yang ada di dalam kepalanya.
“Maaf, anak ini—”
“Park Jimin, benar, kan?”
Tangan Yoongi terjatuh di samping tubuhnya. Senyumnya luntur digantikan raut penuh kebingungan yang terlihat jelas di wajah pria itu.
Kepalanya di miringkan tanda tidak paham. Hanya satu kalimat yang meluncur di kepalanya,
'Bagaimana bisa wanita ini tahu jika itu Park Jimin? Bahkan dengan tubuhnya yang menjadi anak-anak.'
Sebelum Yoongi bertanya lanjut, pria itu terlebih dahulu membungkuk untuk menyapa secara formal barulah menuntun wanita itu dan Jimin untuk duduk di atas alas yang tadi mereka pakai. Setidaknya membuat tubuh sedikit santai dan rileks akan membuat pembicaraan mereka lebih terarah jelas, kan?
Yoongi menuangkan teh yang ia buat ke dalam salah satu cangkir yang sudah Yoongi persiapkan sebelumnya untuk wanita itu. Membiarkan lawan bicaranya untuk minum terlebih dahulu.
Pria itu menatap Jimin kecil dengan heran. Karena, terlihat jelas jika bocah itu kenal siapa wanita ini. Juga ketika dilihat dari Jimin yang sedang meletakkan kepalanya diatas paha wanita itu untuk digunakan sebagai bantal kepalanya, Jimin terlihat aman.
“Maaf nyonya, kalau saya boleh tahu Anda siapa, ya?”
“Kwon Eunyong, ibunya Park Jimin.”
Jika hal itu benar, pantas saja Yoongi merasa tidak familiar. Karena seperti yang semua orang tahu, seorang Jimin tidak suka jika indentitas keluarganya terekspos oleh media.
“Kenapa Jiminku jadi... seperti ini?”
Kepala Yoongi tertunduk bingung, tidak tahu ingin menjelaskan darimana. Ia teramat tahu jika yang dimaksud oleh ibunya Jimin adalah Park Jimin yang berubah menjadi anak kecil. Tapi, bagaimana cara menjelaskannya dengan detail? Ia bahkan belum menemukan penyebab utamanya lelaki itu berubah.
Sebagai jawaban, dengan terpaksa Yoongi hanya menggelengkan kepalanya pelan. Karena ia pun tidak tahu alasan jelasnya.
“Bagaimana Anda... bisa tahu ini Jimin?”
“Orang tua mana yang tidak tahu buah hatinya sendiri?”
ucap Eunyong sembari mengusap lembut rambut cokelat anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Terlihat sekali sifat penuh kasih sayang dari seorang Jimin yang ternyata diwariskan dari keluarganya. Bahkan dari cara menatap Eunyong kepada Jimin, terlihat sangat tulus dan penuh perhatian.
Diam-diam Yoongi menunjukkan seulas senyum pada wajahnya. Berada di tengah atmosfir yang hangat sungguh membuatnya tenang.
“Kamu siapa, ya?”
“Ah, saya... teman kerjanya Jimin, kami satu agensi.”
Wanita itu mengangguk tanda mengerti. Kedua sudut bibirnya tertarik menunjukkan sebuah senyum yang hangat.
Eunyong berdiri sembari menggendong Jimin kecil yang tertidur lelap. Dengan panik Yoongi tanpa sadar ikut berdiri mengikuti wanita yang merupakan ibu dari Park Jimin itu dengan tergesa.
“Rapikan ini semua, lebih baik kalian menginap di rumah saya.”
Yoongi berdiri mematung sembari menatap bingung kearah Eunyong yang mulai berjalan menjauh. Wanita itu berdiri di sebelah mobil sedan hitam milik Yoongi sembari menatap pria itu dengan raut kesal yang sangat kentara.
“Cepatlah! Kamu ingin berjemur disana lebih lama lagi?”
Pria itu hanya tertawa kecil. Dengan cekatan ia merapikan benda-benda yang ia bawa dari Seoul ke dalam tempat semulanya.
Ya, rupanya pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya itu bukan hanya bualan semata. Yoongi mengakui jika sifat lembut dan tidak sabaran Jimin memang diwarisi dari keluarganya. Ia pun menanti sifat apalagi yang bisa ia lihat dari Jimin.
Mungkin, melihat sifat malu-malu dari seorang Park Jimin ketika sedang jatuh cinta?[]