Ting-Ting — [Yoonmin Oneshot]
Pagi yang ramai seperti biasa di tengah-tengah kota metropolitan Jakarta yang padat. Jimin keluar dari rumah itu dengan raut datar yang terlihat malas. Bahkan tangannya dengan lemas menenteng tas ransel abu-abu yang selalu ia pakai untuk kuliah.
Kakinya sedikit dihentak keras menyapa lantai putih di bawahnya tanda sedang merajuk.
“Hei, kok lemes gitu, hm?”
“Kamu gak nganter aku kampus....”
Jimin bergelayut manja, bahkan juga mengeratkan pelukannya pada tubuh sang kekasih. Yoongi yang melihat dan merasakan pelukan hangat dari Jimin pun tertawa pelan.
Pria itu mengusap lembut pucuk kepala kekasihnya dengan sayang. Jarinya menyisir surai pirang itu ke belakang mengekspos dahi bersih sang kekasih sebelum mengecupnya pelan.
Yang menerima kecupan pun tersipu malu, malah tambah masuk ke dalam pelukan si pria terkasih. Jarang sekali sebetulnya Yoongi memberikan kecupan hangat seperti itu, paling hanya berpegangan tangan dan melakukan afeksi kecil seperti berpegangan tangan saat jalan-jalan.
“Mobil aku kan masih di bengkel, sayang. Minggu depan ya aku antar, hm?”
Yoongi menemani Jimin sampai ke depan, kembali bermesraan seperti dunia hanya milik berdua. Turut mengabaikan para ibu-ibu komplek yang sedang berbelanja sayuran tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Karena saking dekatnya, bahkan telinga pria itu mendengar umpatan dan gosipan yang jelas tertuju untuk dirinya dan Jimin, turut sebal juga karena kekasihnya dikatai yang tidak-tidak. Belum sempat ia menegur mereka, Jimin lebih dulu angkat suara hingga membuatnya sedikit terkejut akan keberanian lelaki itu.
“Bu, saya masih perjaka, ya. Pacaran pun masih baru dan belum berpengalaman, saya memang tinggal bersama kak Yoongi di satu rumah yang sama, namun bukan berarti kami sudah melakukan hal tidak-tidak seperti yang ibu-ibu bicarakan.”
Yoongi pun hanya bisa mengusap kepala lelaki itu dengan lembut, tersenyum penuh kemenangan karena kekasihnya begitu pintar membalas tuduhan yang dilontarkan kepada mereka.
Namun bukannya berhenti Jimin malah tambah memanas-manasi para ibu-ibu itu dengan mengeratkan pelukan pada lehernya sembari mengecupi sisi lehernya itu dengan halus. Yoongi yang merasakan itu pun hanya tersenyum malu dengan wajah memerah.
“Kita emang belum anu kok, nanti aku kasih ya, kak? Eh jangan, atau nunggu malam pertama aja sama kamu, hm?”
Yoongi pun hanya tertawa pelan serta meremat pinggang kekasihnya itu dengan erat. Baru dilanjutkan mengecup singkat bibir lelakinya, mengucapkan salam perpisahan karena kekasihnya itu harus segera berangkat ke kampus.
Kebetulan sekali ojek online yang Jimin pesan juga sudah sampai, maka berakhirlah pagi yang panas itu dengan kepergian sang kekasih. Meninggalkan Yoongi di sana bersama ibu-ibu yang masih berbelanja dengan heningnya sehabis dibalas telak oleh Jimin.
“Makanya ibu, mulut manis kekasih saya itu pedas, jangan coba-coba. That's why I love him.”
Dengan santainya Yoongi berjalan kembali masuk ke dalam rumahnya. Kedua tangan dimasukkan ke dalam kantung celana, mengabaikan ibu-ibu yang mulai mengatainya pria kurang ajar.
Biarlah, mereka duluan yang memulai api. Bahkan seenaknya mengatai kekasihnya yang jelek-jelek, setidaknya untuk pelajaran agar mereka lebih menjaga omongan dan tidak bergosip meskipun sulit.
Yang terpenting, ia tahu luar dalam kekasihnya. Tak apa jika orang lain tidak tahu bagaimana aslinya mereka. Daripada memiliki seribu tangan untuk menutup mulut orang, lebih baik hanya mempunyai dua tangan untuk menutup telinga sendiri dan mengabaikan hal-hal jelek seperti tadi.[]