The Case [185]
Suara samar dari mesin penyeduh kopi yang ada di pojok ruangan menjadi penengah di antara ketegangan yang ada di dalam ruangan itu. Hari ini juga, hari yang sama dengan hari di mana salah satu sumber informasi mengungkapkan semua yang terjadi di dalam tim, mereka akhirnya dapat menginterogasi salah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan kematian Lim Youngchan.
Ha Ki-joon. Pria berusia 57 tahun, yang akhirnya dipanggil ke dalam ruangan ini.
Pria itu terlihat begitu santai. Ia tetap mempertahankan raut wajahnya yang datar, bahkan dengan berani membalas tatapan yang dilayangkan Jimin padanya.
“Pria ini benar-benar tidak ingin berbicara, aku ngantuk-”
“Jungkook!” Jimin mendengar dengan jelas bagaimana teman-temannya berbincang dengan satu sama lain di ruang sebelah. Pun akhirnya Jimin kembali menghiasi wajahnya dengan senyuman tipis.
“Anda tahu, kenapa Anda bisa dipanggil ke sini?”
“Kalian cuma penegak hukum yang sedang bosan saja. Lagi pula kasus Youngchan sudah selesai, buntu.” Ki-joon menjawab dengan santai.
Mendengar tawa kecil yang keluar dari mulut tersangka di depannya ini, sontak membuat Jimin sedikit naik pitam. Menghadapi orang yang arogan seperti ini bukanlah hal baru lagi baginya, tetapi tetap saja terasa melelahkan.
Apalagi di saat Yoongi tidak bisa menemaninya di saat-saat seperti ini. Pria itu malah sibuk dan meninggalkannya sendirian di ruangan interogasi.
“Lihat ini, pakaian yang Anda pakai saat di pertandingan saat itu.” Jimin meletakkan foto yang ia bawa ke atas meja. Sebelum tangannya kembali mengeluarkan selembar kertas foto lainnya yang berupa tempat kejadian perkara saat Youngchan terbunuh. Lebih tepatnya, di sat Youngchan sedang dibunuh oleh sang pelaku.
“Kalian hanya punya ini?”
“Menggelapkan dana sponsor Red Tiger, mengancam anak didiknya, dan membunuh dua orang yang tidak bersalah.” Atmosfer di ruangan itu terasa semakin menegang. Kedua orang di dalamnya tengah beradu pandang, tidak ada satu pun yang ingin mengalah dengan argumennya masing-masing.
Dua orang dengan tujuan yang berbeda, tetapi dengan emosi yang sama besarnya. Sungguh membuat seisi ruangan itu seperti berada di tengah badai salju.
“Orang yang mati karena penyakit kanker, tidak ada urusannya dengan saya.”
“Oh? Saya tidak pernah menyebutkan jika salah satunya adalah adik Lim Youngchan-ssi yang tengah mengidap penyakit kanker darah. Dari mana Anda tahu?”
“Jincheol bajingan,” makinya dengan bersungut-sungut. Walaupun pada akhirnya, Ki-joon melempar senyum kepada Jimin yang tengah menatapinya sedari tadi dengan tatapan tajam. “Lim Youngchan, memang pantas mati. Anak itu cuma menyusahkan saya, anak tidak berguna yang sudah sepantasnya mati di tangan saya sendiri.”
Di saat itu, Jimin menyadari. Jika yang dihadapinya saat ini, adalah sesosok iblis yang sangat jahat. Iblis dalam bentuk manusia, yang tidak ragu untuk melakukan apa pun pada sesuatu yang menghalangi jalannya.[]