The Case [174]

“Kamu masih belum pulang juga?” Suara berat milik Yoongi menggema di dalam ruangan itu. Hoseok yang tengah melahap mi instannya pun sedikit mendongakkan kepalanya sebelum menggeleng pelan, memaklumi perselisihan yang kembali terjadi di antara anggota mereka.

Ya, siapa lagi kalau bukan Yoongi dan Jimin? Semenjak pagi tadi, Yoongi terus-terusan meminta Jimin untuk beristirahat dan pulang ke rumah karena kondisi badan laki-laki itu yang sedang tidak baik. Meskipun pada akhirnya Jimin tetap bersikukuh tidak ingin pulang dengan tetap menempelkan pantatnya pada kursi kerjanya.

Jika dua orang yang begitu keras kepala dipertemukan, seketika itu juga pertempuran akan terjadi. Bahkan Hoseok hanya bisa berdecak malas, serta melempar tatapan yang menyuarakan, 'Dasar bocah-bocah ini' kepada kedua insan itu.

“Kamu itu lagi sakit, Ji—”

“Permisi,” ucap salah seorang rekan mereka dari divisi lain. Dengan sigap, Yoongi mempersilakan sosok laki-laki berumur di awal dua puluhan itu untuk masuk ke dalam ruangan mereka.

Sekilas terbentuk perempatan imajiner di saat ia melihat rekannya itu membawa salah seorang laki-laki yang lebih muda. Berdiri, mengekorinya begitu saja.

“Hwang Jincheol-ssi?” sahut Hoseok dari jauh. Ia melupakan mi instannya di atas meja, dan segera bergerak mendekat ke arah meja Jimin.

“Siapa?”

“Oh? Temannya Lim Youngchan-ssi. Catcher dari Red Tiger.” Hoseok menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Yoongi dengan pasti dan yakin. Namun, seketika tatapannya berubah menjadi tatapan penuh kebingungan. Bingung perihal hal apa yang membuat lelaki itu sampai datang kemari.

Setelah sang pengantar sudah selesai dengan tugasnya dan keluar dari ruangan, kini hanya tersisa mereka bertiga di dalam sana. Jimin yang sedikit merasa pusing pun hanya menumpu dagunya dengan tangan, berusaha menangkap apa pun yang akan diucapkan dari teman si korban.

Tentu, hal ini bisa menjadi bukti yang sangat kuat dan akurat. Karena sebelumnya baik anggota tim dan anggota lawan tidak ada satu pun yang ingin berbicara dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa.

“Apa kasus dari Youngchanie sudah selesai?” tanya lelaki bermarga Hwang itu dengan suara yang begitu lirih.

“Dua tersangka terakhir tidak berhubungan dengan kasus itu. Jika hal ini berjalan konstan untuk lima tahun ke depan maka kasus ini akan ditutup.”

“Begitu, ya ....” Helaan napas yang dikeluarkan dari bilah bibir lelaki itu terdengar sangat berat. Terlihat jika dirinya sangatlah sedih akibat kehilangan salah satu rekan se-timnya. “Saya hanya ingin keadilan, untuk Youngchanie kami.”

“Keadilan?” Mendengar sesuatu yang menarik keluar dari mulut lelaki itu, sontak Yoongi berdiri dengan tegap. Ia memasang telinganya baik-baik, berusaha memusatkan perhatiannya pada Jincheol. “Jelaskan dengan rinci.”

“Youngchanie, telah melewati masa-masa sulit di dalam hidupnya.” Lelaki itu tersenyum pahit, seraya menatap semua yang ada di ruangan itu secara bergantian. “Awalnya kami gak terlalu dekat, dua tahun yang lalu dia masih muda sekali. Selalu bekerja keras banting tulang demi adiknya yang ada di rumah.

“Pulang larut malam, berangkat pagi buta. Sampai akhirnya titik awal kehancuran dia, adalah saat adiknya divonis kanker darah.” Jincheol semakin mengeratkan genggaman tangannya satu sama lain, menahan rasa sesak yang ada di dadanya saat perlahan-lahan membuka luka lama rekan satu timnya.

“Dari dia yang kerja 100%, sampai melonjak jadi 200%, bahkan dia seringkali tertidur di tribun stadion tempat kami latihan. Dan itu wajar, dia butuh uang untuk mengobati adiknya.

“Namun, yang ada di otak 'dia' hanyalah uang.”

“Dia? Lee Youngchan-nim?” tebak Jimin walau akhirnya mendapat gelengan pelan dari sosok yang duduk tepat di depannya ini.

“Pelatih kami, Ha Ki-joon.” Ketika mendengar nama yang tidak pernah mereka curigai dari awal, sungguh membuat Hoseok, Yoongi, dan Jimin terkejut. Nama yang bahkan tidak ada di dalam daftar tersangka. “Dia menggunakan Youngchanie untuk mendapatkan uang lebih, dari sponsor. Meski akhirnya, uang bayaran untuk Youngchanie gak pernah sampai ke tangannya bahkan sampai dia beristirahat dengan tenang.

“Waktu itu dia tetap latihan, dengan tetap berpikir kalau nantinya pelatih kami akan membayar gajinya, tetapi nihil. Hal itu gak pernah terjadi. Sampai akhirnya adiknya meninggal di rumah sakit, lalu dia yang mulai kecanduan narkoba, dan mencoba self harming.” Lelaki itu menjeda ucapannya untuk meraih segelas air putih yang baru saja diletakkan oleh Hoseok di atas meja. Entah sudah ke-berapa kalinya ia menghela napas untuk menghilangkan rasa sakit yang melekat di dadanya.

“Pelatih kami tentu tidak senang dengan hal itu, apalagi Youngchanie juga lumayan terang-terangan dengan pacarnya.” Atmosfer semakin tegang seiring berjalannya waktu. Cerita yang baru saja dipaparkan oleh teman dari Lee Youngchan sungguh mengagetkan mereka. “Pelatih kami pernah bilang, kalau dia ingin membunuh Youngchanie dengan tangannya sendiri.”

I found it. Video di hari Lee Youngchan terbunuh.” Sontak pengakuan tersebut terputus saat masuknya Jungkook ke dalam ruangan sembari membawa bukti baru yang akan menuntun mereka ke titik akhir dari kasus ini.[]