Story of Us — Oneshot
[1 April 2018]
“Jimin, ayo jadi pacarku?”
“Ih, apaan sih, kok jadi aku kamu gitu?”
Senyum itu tak kunjung luntur dari wajah yang lebih tua. Tangannya tetap terulur ke depan memegang erat surat cinta yang ia buat untuk Jimin semalaman penuh.
Bangga sekali, karena pada akhirnya ia berani untuk meminta teman masa kecilnya itu untuk menjadi pacarnya secara langsung. Setelah memendam perasaan selama dua tahun lebih akhirnya ia bisa mengatakan kalimat itu.
“Kenapa? Gak mau ya?”
“Gue... cuma kaget aja. Ini lo lagi april mop, ya?”
“Aku serius, Ji. Udah dua tahun aku suka sama kamu. Akhirnya bisa bilang ini ke kamu secara langsung.”
Yoongi tersenyum sendu. Tangannya gemetar ketika akhirnya Jimin menerima dan membaca surat itu di depannya.
Beberapa kali lelaki itu tertawa pelan sembari menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Bahkan Yoongi melihat langsung bagaimana pipi itu berubah kemerahan hingga ke telinga.
“Gue masih SMA, lo mau pacaran sama bocah?”
“Aku gak masalah. Lagipula tahun ini kan kamu lulus.”
“Oke.”
Yoongi melebarkan matanya. Kepalanya dimiringkan tanda tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Jimin dengan hanya berbasis dari kata 'oke'.
Jimin yang melihat wajah kebingungan dari sahabatnya itu pun hanya tertawa kecil.
“Aku pacar kamu.”
“Hah? Serius?”
“Ya iyalah. Mau yang bercanda?”
Yoongi menggeleng panik. Baru setelahnya memeluk Jimin dengan erat.
Beberapa menit berlalu hingga pria itu melepaskan pelukannya dengan rasa terkejut. Tangannya mengusap bagian belakang telinganya dengan gugup.
Tidak mengira juga jika akhirnya perasaannya akan terbalas. Sungguh merupakan salah satu hari terbahagia dalam hidupnya.
Ia menjadi pacar dari seorang Park Jimin. Teman masa kecilnya yang sangat ia sayangi. Lebih terdengar seperti mimpi.
[1 Oktober 2018]
Yoongi membawa kotak yang berisi sepasang sepatu itu dengan hati bahagia. Berisi sepatu yang diidam-idamkan oleh Jimin sejak beberapa bulan yang lalu. Beruntung uang dari kerja paruh waktunya berhasil dikumpulkan untuk membeli sepatu itu.
Hari ini adalah hari tepat enam bulan sejak pertama kali mereka menjadi sepasang kekasih. Masih terasa rasa bahagia ketika Jimin menerima ajakannya untuk berpacaran.
Jimin begitu menakjubkan.
Bahkan lelaki itu berhasil masuk ke kampus yang sama dengannya. Bahagia karena setidaknya intensitas pertemuan mereka terasa lebih banyak dari sebelumnya.
“Kak Yoongi?”
Jimin membuka pintu apartemennya dengan penuh rasa terkejut. Manik matanya menatap kearah tangan Yoongi yang membawa sebuah kotak sepatu. Baru beralih kembali kearah paperbag yang berada di tangannya.
“Kamu mau kemana?”
“Aku mau ke apart kamu....”
Kini giliran Yoongi yang merasa terkejut. Ada apa ini?
“Ini lho, aku mau kasih hadiah mensive buat kamu.”
“Lho, aku juga mau kasih hadiah mensive buat kamu.”
Kedua insan itu bertatapan sejenak dengan mimik penuh rasa terkejut. Baru setelahnya tawa menyembur keluar dari mulut masing-masing.
Pada akhirnya pun mereka saling memberi kejutan kepada satu sama lain. Hal yang tidak terpikirkan oleh Yoongi sebetulnya.
Jimin pun mempersilakan Yoongi masuk ke dalam apartemennya dengan senang hati. Di dalam, atmosfir hangat mengelilingi mereka. Bersamaan membuka kado dari masing-masing dan saling terkejut juga dengan hadiah yang diberikan.
Jika Yoongi memutuskan untuk memberikan sepatu yang diinginkan Jimin, maka Jimin memutuskan untuk memberikan kamera yang Yoongi inginkan.
Benar-benar atmosfir yang hangat, meskipun udara dalam kamar itu terasa dingin. Saling berharap semoga hal-hal seperti ini berjalan selamanya meskipun rasanya tidak mungkin untuk diwujudkan karena yang namanya perpisahan pasti akan terus ada.
[31 Maret 2019]
“Besok kita anniv, kamu mau apa Ji?”
Yoongi menolehkan kepalanya kearah Jimin yang terlihat sedang fokus memakan es krimnya. Lelaki itu memutar matanya keatas, tanda sedang berpikir keras mengenai apa yang ia inginkan.
Sementara pria di sampingnya terlihat gemas kuadrat ketika melihat es krim vanila itu ikut hinggap di ujung hidung kecil Jimin.
“Aku mau macaroon.”
“Cuma macaroon? Aku bisa kasih kamu apa aja.”
“Cuma macaroon, aku gak mau kamu boros demi aku, kak. Kamu kan di semester akhir, pasti perlu buat penelitian, skripsi, dan lain-lain.”
Yoongi tersenyum gemas ketika kekasihnya itu sedang menjabarkan mengenai apa saja yang seorang mahasiswa tingkat akhir butuhkan. Jari-jari kecil laki-laki itu mengambang menunjuk-nunjuk dengan lucu.
Gemas. Betapa beruntung dirinya bisa berpacaran dengan seorang laki-laki seperti Jimin.
Namun, tiba-tiba saja Yoongi meraih jari itu dan menggenggamnya lembut. Jimin yang merasakan sentuhan Yoongi itu pun terdiam dan menoleh dengan wajah bingung.
Perlahan, Yoongi mengarahkan jari telunjuk itu untuk menghapus setitik es krim yang hinggap di hidung Jimin. Baru setelahnya si pria menjilat bekas es krim di jari kekasihnya itu sekilas.
“Kak! Jorok ih....”
“Kamu makannya belepotan gitu.”
“Ya, gak di jilat juga jariku.”
Yoongi tertawa pelan sebelum mencubit pipi Jimin gemas. Kembali dirinya memperhatikan Jimin yang mengoceh dengan bahagia.
Pasti waktu-waktu seperti ini akan bertahan selamanya kan?
[22 September 2019]
Jimin meletakkan segelas susu cokelat itu di meja Yoongi. Kekasihnya sudah begadang selama beberapa hari mengejar ketertinggalannya dikarenakan demam beberapa hari yang lalu.
Selalu, Yoongi dengan sifat pekerja keras dan perfeksionis. Tidak hilang sedari dulu. Memang terkadang sifat itu bagus, tetapi juga pria itu suka melebihi batas.
Jimin ingin pria itu tahu batas dan beristirahat sejenak. Walau cuma hanya sepuluh menit pun, ia rasa cukup.
“Kak, istirahat dulu, yuk?”
“Nanggung Ji. Tinggal beberapa halaman lagi.”
Jimin memijit tengkuk Yoongi dengan lembut. Lelaki itu menyemangati Yoongi dan menemani Yoongi dari belakang.
Support dan kalimat semangat adalah hal yang dibutuhkan oleh pria itu untuk sekarang. Maka disini Jimin berusaha untuk menjadi itu semua bagi sang kekasih yang tengah bekerja keras memperjuangkan pendidikannya.
“Jangan lupa istirahat ya, kak. Aku mau lihat kamu di podium sana, jadi mahasiswa terbaik.”
“Kamu positif banget kalau aku bakalan jadi mahasiswa terbaik.”
Yoongi menghentikan pekerjaannya sejenak untuk mengalihkan atensi sepenuhnya kepada lelaki itu. Matanya memejam lembut ketika Jimin membubuhkan ciuman manis kepada bibir tipis sang kekasih.
Beberapa menit tetap menautkan bibir bahkan cenderung tidak ingin saling melepaskan. Walau akhirnya Jimin menjauhkan wajahnya lebih dulu dengan napasnya yang terengah.
“Aku yakin, karena aku tahu kamu bisa.”
“Kalo kamu ngomong gitu, aku jadi ikut positif nih.”
“Harus dong! Nanti aku mau foto sama kamu sambil peluk kamu, trus nanti aku pamerin ke Twitter.”
“Dasar.”
Yoongi tertawa lembut sembari menjawil lembut hidung kecil itu. Kembali mengecup bibir tebal sang tercinta. Menikmati momen yang ada sebelum nantinya tidak bisa ia rasakan lagi bersama Jimin.
[26 Agustus 2020]
Yoongi menutup album foto yang penuh akan kenangannya dengan Jimin itu dengan senyum sendu. Tangannya mengusap lembut makam yang ada di depannya.
Perlahan ia meletakkan album foto itu diatas tanah. Diikuti topi wisuda miliknya diletakkan dengan rapi diatas album foto itu.
Pria itu meletakkan beberapa tangkai tulip putih diatas makam itu. Matanya memejam pelan berusaha menahan rasa sakit yang mulai muncul di dadanya.
“Ji, sayang, hari ini aku wisuda.”
Suaranya bergetar menahan tangis. Senyumnya terkesan dipaksakan terlihat baik-baik saja. Masa bodoh dengan yang mengatakan jika dirinya cengeng.
Ia hanya... rindu.
“Aku tepati janji aku ke kamu, aku lulusan terbaik. Tapi... katanya kamu mau foto bareng aku, katanya kamu mau pamer.”
Yoongi mengusap makam itu dengan tangan gemetar. Tidak peduli akan pipinya yang mulai basah akibat tangisnya yang tidak bisa di bendung lagi.
Kembali ingatannya melayang pada kejadian beberapa bulan sebelum dirinya lulus. Hari itu hujan deras, jalanan basah dan licin karena hujan yang turun, dan Jimin disana menjadi korban tabrak lari dari seseorang yang tidak bertanggung jawab.
Tubuh lelakinya yang penuh darah terlihat dengan jelas tepat di depannya. Tangannya yang gemetar sampai-sampai kesulitan untuk menekan nomor tenaga medis di negaranya.
Bahkan masih sempat-sempatnya lelaki itu mengucap jika dirinya mencintai Yoongi, dan akan terus menjaga Yoongi dari surga. Yang selanjutnya ia tahu jika kata-kata tersebut adalah kata terakhir yang Jimin ucap untuknya sebelum pergi meninggalkan dunia, meninggalkan dirinya yang merindu dengan sejuta kenangan.
“Harusnya hari itu kita di rumah aja, ya? Nonton Netflix, makan es krim, minum susu cokelat yang biasa kamu buat. Coba aja waktu itu tanganku cepat-cepat manggil ambulans buat kamu, Ji.”
Beberapa kali pria itu menarik napas, berusaha menenangkan dirinya sendiri, menenangkan isakannya yang semakin kencang.
“Ji... aku kangen. Kangen semua tentang kamu, kangen kebiasaan kita.”
“Maaf ya, kamu harus lihat muka jelek aku kalo lagi nangisin kamu. Kamu kangen aku juga, gak?”
Semilir angin membelai wajahnya. Ikut berusaha menenangkan dirinya yang tampak hancur di hari yang seharusnya menjadi hari bahagia baginya.
Sayup-sayup ia merasakan pelukan Jimin di bahunya. Entah hanya perasaan atau memang Jimin hadir di sana. Hari yang dingin, namun ia merasa hangat.
Setelah beberapa menit merapikan makam itu dari rerumputan liar yang tumbuh disana ia pun segera mengemas barang-barangnya. Yoongi berdiri sembari sekali lagi melihat kearah tempat tubuh lelaki kesayangannya itu terbaring.
Mungkin, memang Jimin kini sedang melihatnya dari atas sana. Karena ia pun merasa begitu.
'Selamat atas kelulusan kamu, kak.'
Yoongi kembali tersenyum sedih ketika sayup-sayup telinganya mendengar suara Jimin yang lembut. Suara khas dari lelaki yang ia sayangi sepenuh hati.
Baru setelah mendoakan lelaki itu dalam hati, ia segera beranjak dari sana. Kembali melanjutkan hidup, tanpa seseorang yang sangat ia cintai. Kembali melanjutkan hidup tanpa Jimin di sisinya seperti dulu. Namun ia yakin, lelaki itu akan terus melihatnya dari surga yang indah.[]