Spring Day – [Yoonmin Oneshot AU]
“Sudah berapa kali saya bilang, surat dengan alamat tidak jelas seperti ini tidak bisa dikirimkan, Yoongi-ssi. Lihat, bahkan saya sampai hafal nama kamu karena terlalu sering seperti ini.”
“Dia pindah ke Seoul empat tahun lalu, apa tidak ada kesempatan?”
“Kamu kira Seoul itu kota yang kecil? Lagipula nama Park Jimin itu pasaran disana. Sudah, lebih baik kamu kembali ke rumahmu sana!”
Yoongi menatap pria di depannya yang sudah berusia setengah abad itu dengan tatapan nanar. Lalu bagaimana caranya menghubungi Jiminnya disana? Ponsel pun tak punya karena ia berasal dari keluarga yang miskin.
Ia bukan Jimin yang tergolong dalam jajaran orang kaya di kota kecil ini sewaktu dulu. Maka yang bisa ia lakukan semaksimal mungkin adalah mengirim surat setelah empat tahun lamanya mereka berpisah.
Yoongi harus mengirim surat itu hingga sampai kepada Jimin untuk mengungkapkan suatu hal yang belum sempat ia ungkapkan saat dulu.
Setelah kantor pos itu ditutup, Yoongi berjalan pulang kembali menuju rumah kecilnya yang terlihat kumuh. Kembali menyendiri di tengah lampu remang yang digunakan sebagai pencahayaan untuk menghemat listrik. Mungkin dirinya akan menyeduh satu cup ramyeon sebagai makan malam, lagi.
Ia.. rindu teman masa kecilnya itu. Seseorang yang selalu ia pikirkan hingga saat ini. Bertingkah seolah lelaki itu ada disana, menemaninya, menceritakan hal yang mereka lakukan sepulang sekolah.
Rindu waktu-waktu itu. Rindu waktu-waktu ketika mereka masih bersama.
Yoongi mengeratkan jaket dan selimut tipisnya guna menghilangkan rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya. Dingin, karena musim mulai beralih menuju musim semi. Suatu hal yang terus terjadi setiap tahun, mulai dari empat tahun lalu saat pertama kali dirinya mengirim surat untuk Jimin.
Ia betul-betul masih ingat saat pertama kali mereka bertemu, bermain salju bersama di parkiran rumah Jimin yang besar dan mewah, sembari melempari satu sama lain dengan bulatan salju yang padat.
Sekali lagi, ia rindu pada waktu-waktu itu.
Ketukan pelan terdengar di pintunya. Entah siapa, tidak ada seseorang yang pasti memasuki pikirannya sekarang. Maka dengan tatapan hampa dan langkah lemas, ia membawa dirinya untuk membuka pintu kayu itu.
“Saya lupa, tadi siang ada surat yang sampai untuk kamu.”
Oh, pegawai kantor pos tadi ternyata. Yoongi pun menerima surat itu dengan tatapan bingung. Pikirannya berusaha menerka siapa orang yang mengiriminya surat ini.
Yoongi kembali masuk ke dalam rumahnya setelah mengucapkan terima kasih kepada pria itu. Kakinya melangkah membawanya duduk di tempatnya semula saat memakan cup ramyeon.
Entah dari siapa. Tidak ada nama pengirim, hanya tertulis lambang senyum dengan sematan hati kecil pada nama pengirim.
Dari Seoul.
Aneh.
Sekiranya ada dua kertas karton tebal di dalam sana. Dimasukkan rapi ke dalam satu kertas amplop cokelat yang sedikit tertekuk di bagian kiri atasnya.
Dengan hati-hati, Yoongi membuka amplop cokelat itu. Mengeluarkan beberapa isinya sebelum setelahnya tertegun karena melihat beberapa lembar foto yang terjatuh dari dalamnya.
Foto Jimin saat lelaki itu masih tinggal di sini. Jadi, ini semua dari Jimin? Tentu, siapa lagi orang yang ingat alamat rumahnya dengan jelas. Dan siapa lagi teman yang ia punya yang tinggal di ibukota itu.
Rindu, ia rindu. Bahkan rasa rindunya semakin menjadi setelah melihat potret manis lelaki itu di dalam sana.
Perlahan ia membuka sepucuk surat dengan kertas berwarna kuning dan tulisan yang ditulis menggunakan tinta oranye di dalamnya. Cerah sekali, seperti Jimin.
Halo, kak Yoongi. Ini Jimin.
Aku di sini rindu sama kamu, kamu rindu aku juga? Waktu jahat ya sama kita, udah beberapa tahun berlalu tapi kita susah banget mau ketemu.
Di sini lagi musim dingin, mungkin surat ini sampai ke sana saat musim semi. Aku rindu jahilnya kamu waktu lemparin kaca kamarku pakai bola salju.
Aku rindu. Aku selalu mikir kapan ya kita ketemu lagi? Kapan kita lihat satu sama lain lagi.
Tapi, gak bisa, kak. Aku dipaksa menetap di sini. Semenjak papa meninggal, aku tinggal sama mama di sini, sama suami barunya. Aku juga nerusin perusahaan yang dibangun papa di sini.
Dulu, aku suka sama kamu, kak. Kaget ya? Hehe.. maaf. Aku suka kamu. I'm longing for you, in here. Maaf. Mungkin nanti aku bakal hapus perlahan perasaan yang aku punya untuk kamu.
Maaf ya, aku gak bisa pertahanin perasaan yang aku punya untuk kamu. Karena, bulan depan aku menikah. Dengan seseorang yang mama pilih untuk aku.
Sakit? Iya. Aku dipaksa untuk melupakan kamu, aku dipaksa untuk melupakan perasaan aku ke kamu, meski aku gak mau.
Kamu kenapa gak pernah hubungin aku? Aku benci kamu, kamu buat aku nunggu sendirian di sini. Tapi gapapa, se benci-bencinya aku sama kamu pun, masih aku terima maaf kamu, kak.
I loved you. Aku gak tahu kapan lagi aku bisa bilang kalimat itu ke kamu. Maaf, karena cuma bisa bilang lewat surat.
Kamu sehat terus, ya? Cari kebahagiaan kamu, jangan kayak aku. Aku gak pernah berhenti do'a buat kamu dari sini. Semesta sayang kamu, kak, begitu pun aku. Tolong tetap bertahan, untuk aku.
- Best regards, your childhood friends, Park Jimin
Aliran sungai kecil terbentuk di wajahnya. Matanya terhenti dan kembali membaca berulang kali bagian di mana Jimin mengatakan jika ingin menikah.
Bahkan, jika diperhatikan memang foto masa kecil mereka dan surat itu datang bersamaan dengan undangan pernikahan yang terlihat cantik dengan nama Jimin tertera di atasnya.
Jantungnya serasa berhenti. Ia kembali menyalahkan dirinya sendiri karena di sana Jimin juga mencintainya dalam diam, tanpa pernah di utarakan.
Musim semi harusnya menjadi musim terbaik di mana bunga-bunga bermekaran dengan indahnya. Namun baginya musim semi kali ini adalah musim semi terpahit dari yang pernah dijalaninya.
Musim yang seharusnya bahagia, namun dirinya dirinya di sini sedang bersedih menangisi sang cinta pertama yang selamanya tidak bisa ia gapai. Ia terlambat, untuk merengkuh cintanya.[]