Positions [1]
“Min Yoongi-ssi, silakan masuk ke dalam ruangan direktur Park.”
Pria yang tengah duduk di ruang tunggu itu mengangkat kepalanya. Jarang sekali dirinya merasakan interview seperti ini, kebanyakan yang melakukan interview adalah bagian HRD, bukan direktur utama seperti ini.
Di interview oleh HRD saja sudah gemetaran, apalagi berhadapan langsung dengan direkturnya? Mungkin memang perusahaan OJ ini punya mekanisme yang berbeda. Atau ternyata dirinya yang berbeda?
Ah, jangan berharap terlalu jauh, Min Yoongi.
Kakinya melangkah pelan disertai degupan jantungnya yang semakin berdetak cepat. Udara dingin menyentuh bagian tengkuk lehernya hingga dibuat bergidik pelan dirinya. Di sana hidungnya mencium beberapa wangi yang bercampur, antara omega dengan alpha. Ia merasa sedikit lega sebab aroma para beta disana menetralkan wangi yang bercampur padu itu.
Beberapa langkah dihabiskan, kini dirinya berdiri di depan pintu kaca bergaya arsitektur modern yang kebanyakan dipakai oleh para perusahaan.
Megah sekali, impresi petamanya saat memasuki ruangan luas itu. Bahkan dirinya dibuat terkagum-kagum ketika melihat kamar mandi sekaligus kamar tidur yang ada di dalam sana.
Seperti rumah. Jika dirinya diberi fasilitas seperti ini pun lebih baik ia tidur di kantor daripada di apartemennya yang kecil dan sempit.
“Selamat datang Min Yoon—alpha....”
Direktur utama bernama Park Jimin itu membeku saat melihat Yoongi yang berada di hadapannya. Kerutan halus terlihat jelas karena surai cokelat gelapnya disisir ke atas, menunjukkan dahinya yang mulus.
Yoongi di sana pun terdiam sembari memegangi bagian belakang telinganya dengan kaku. Rasanya, baru pertama kali ia merasakan wangi semanis ini. Tidak bohong jika perutnya terasa digelitiki lembut hingga ingin membuatnya tertawa.
Perasaan yang aneh. Perasaan yang baru ia rasakan setelah hidupnya berjalan selama dua puluh enam tahun lamanya.
Dengan sopan, dirinya duduk tepat di kursi yang disediakan sedari awal di sana setelah dipersilakan oleh Jimin. Yoongi duduk di sana, mengunci mulutnya dengan senyuman yang tetap terpatri di wajahnya meski kini sang direktur itu menatapnya intens.
“Informasi tentang kamu yang diberikan oleh asisten Jang kepada saya sangat menarik. Saya tertarik, cuma kamu yang langsung saya panggil ke ruangan ini.”
Yoongi mengangguk kaku. Turut takjub juga dengan dirinya sendiri saat tahu bisa menaklukkan hati pria itu.
Mungkin memang benar kata Hoseok, pesonanya sebagai alpha tidak ada tandingannya.
“Tidak ada hal penting yang ingin saya obrolkan lagi di sini. Saya hanya.. penasaran, alpha.”
”... Terima kasih?”
Bodoh. Untuk apa menjawabnya dengan sebuah nada bertanya yang terasa mengambang. Tangannya meremat celana kerjanya, kembali merasakan tatapan intens yang dilayangkan seorang direktur besar itu dihadapannya.
Takut jika dikeluarkan lebih awal. Gila saja, belum diterima sudah dipecat.
“Saya seorang omega.”
“Pantas manis sekali feromonnya....”
“Ah, wangi saya manis?”
Terkutuklah mulut jujur Yoongi yang sering mengucap tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Bisa-bisanya ia mengucapkan batinnya dengan keras di depan orang penting seperti Park Jimin ini.
Dirinya di sini hanya berusaha sekuat mungkin agar tidak dipecat. Karena ia sangat butuh uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya.
“Sebaliknya, saya suka aroma kamu. Pohon pinus.. hm, menyegarkan.”
Tangan yang lebarnya terlihat lebih sempit itu menggenggam tangannya yang terbaring nyaman diatas meja. Sembari lelaki itu menatap dalam kearah matanya lamat-lamat.
“I'll switchin' my positions for you.”
“Maksudnya?”
“I'll cookin' in the kitchen, then playing in our bedroom?”
Tubuh Yoongi menegang saat mendengar godaan singkat yang diberikan oleh Jimin. Bahkan matanya berusaha tidak menatap kedua mata yang mengerling manis menggodanya itu.
Tanpa disadari, bahkan lelaki mungil itu duduk diatas pangkuannya, mengalungkan tangannya dengan nyaman di lehernya. Bahkan jemari kecil itu mulai mengusap serta menarik-narik rambut bagian tengkuk Yoongi yang memanjang.
“After that I'm tryna meet your Mama on Sunday, then make a lotta love on Monday. Did you like it, sir?”
Jimin memilin pelan dasi hitam polos yang menggantung indah di leher si pria. Bibirnya mengecup basah leher putih sang alpha, menghirup aroma pinus menenangkan yang menguar dari sana.
“Kamu gak perlu jadi intern disini, perusaahan ini kamu yang ambil alih.”
Bahkan Jimin sanggup menukar posisi tertingginya di perusaahan itu. Menyerahkan perusahaan yang diwariskan oleh para terdahulu keluarga Park hanya untuk sang alpha yang memiliki scent feromon yang menarik hati.
Tak apa, karena selanjutnya hidupnya berubah. Melepaskan perusahaan, dan mendapat mate seumur hidup sebagai pelengkap hidupnya.[]