PDKT Class [44]
“Udah, sih. Fokus aja sama makanan lo,” omel Jimin sembari tetap memasukkan potongan siomay ke dalam mulutnya. Perempatan imajiner semakin nampak jelas saat Taehyung terang-terangan masih menatapinya dengan raut penuh rasa penasaran.
Benar-benar laki-laki ini. Menyebalkan.
“Katanya mau ketemu Andin, kok malah diem di sini? Lo terpesona ya liat gue makan?”
“Dih, engga ya, anjing.” Taehyung memukul pucuk kepala Jimin dengan lumayan keras hingga dihadiahkan tatapan yang begitu tajam dari sahabatnya itu. Jimin dulu yang tidak memberi tahu, baginya salah Jimin sendiri. “Lo belum cerita apa-apa. Soal baret di kaki lo, jendela kelas 12 MIPA satu, sama jaket yang lagi lo pake.”
Mendengar Taehyung menyebutkan benda keramat itu, sempat Jimin tersedak saat ia sedang meminum air mineral yang ia bawa dari rumah. Mengagetkan saja. Lambat laun Taehyung juga pasti tahu, kan?
Mungkin dengan segala koneksi yang lelaki itu punya, nantinya ia bisa dibebaskan dari pantauan anggota OSIS yang sangat ia hindari.
“Lo lama, ah. Gue balikin piring dulu, keburu jam istirahat habis sebelum gue ngapel ke kelasnya Andin.” Taehyung pun berjalan menjauh dari meja mereka. Bahkan tanpa menyadari jika Jimin sedang menghela napas lega karena tak lagi diteror secara terus-menerus oleh seribu pertanyaan yang lelaki itu lontarkan padanya.
Taehyung memang teman paling kepo dari semua teman yang ia punya. Lelaki itu begitu menyebalkan.
“Ck, apaan, sih? Katanya mau ngapelin Andin,” ucap Jimin sembari tetap melanjutkan kegiatan makannya yang sempat tertunda. Aneh, sentuhan di pundaknya tak kunjung menghilang bahkan setelah beberapa menit berlalu dari sejak pertama ia mengucapkan kalimat itu.
Ini Taehyung 'kan? Masa iya ada hantu di siang bolong seperti ini.
“Gak lucu anj—”
“Flashdisk gue ada di kantung kiri jaketnya. Tolong ambilin dong, gue mau presentasi.”
Mampus.[]