PDKT Class [402]

Jimin kembali menertawakan dirinya saat ia mendapati kakinya kembali melangkah di sepanjang trotoar menuju rumah Yoongi. Trotoar yang ia hafal betul, entah karena kejadian kemarin yang menyesakkan hati, atau karena kunjungan pertama kalinya yang sangat mengesankan.

Rumah besar dengan pagar tinggi khas orang berada. Sungguh rumah yang rasanya tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidup.

Hari ini, entahlah. Mungkin memang lebih baik ia yang harus menyelesaikan semuanya.

Ketika rasa percaya sudah tidak bisa lagi mereka rasakan untuk satu sama lain. Ketika hatinya sudah hancur berkeping-keping saat melihat kekasihnya mencium pipi orang lain.

Harusnya ia tahu, jika dirinya ini bukanlah siapa-siapa. Bukanlah seseorang yang amat berharga di dalam hidup laki-laki itu. Harusnya ia sudah menyadari, sejak pertama kali rasa cemburunya hadir saat perempuan bernama Wendy mulai memenuhi isi dari laman Twitter sang kekasih.

Tungkai kakinya berhenti melangkah saat mendengar namanya dipanggil dari kejauhan. Suara berat yang sangat ia rindukan, kini terdengar begitu menyebalkan di telinganya.

Apalagi saat rasa hangat mulai menyebar di bagian luar tubuhnya, kembali ia rasakan pelukan hangat dari sang kekasih, yang justru terasa hambar. Pelukan yang begitu hangat, meski sesuatu di dalam tubuhnya tetaplah dingin seolah tidak tersentuh sama sekali.

“Baru gue mau ke rumah lo. Soal beberapa hari yang lalu gue minta maaf, ya. Makanya gue mau kasih—”

“Gue mau putus,” ucap Jimin dengan suara yang begitu parau.

Seketika Yoongi melepaskan pelukannya. Ia menjauhkan tubuh Jimin, sementara matanya yang penuh keterkejutan berusaha untuk menatap manik mata lelakinya. Meski tidak berhasil, sebab Jimin benar-benar menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Lo bercanda, kan?” tanya Yoongi. “Jimin, lo bercanda, kan? Kita masih bisa perbaikin ini, Ji. Gue sama lo.”

Bahu Jimin bergetar samar, kepalan tangan yang berada di kedua sisi tubuhnya terlihat dikepalkan begitu keras untuk menahan segala emosi yang kini sedang ia rasakan.

“Gue mau putus, Kak.”

Tepat saat Jimin mengatakan satu kalimat penuh itu, hujan mulai turun membasahi mereka. Baju yang sudah basah kuyup bahkan tidak lagi mereka hiraukan.

Saat ini, yang berdengung berkali-kali di kepala Yoongi hanyalah ajakan putus dari Jimin. Yang tentunya, tidak akan pernah ia duga akan keluar dari mulut lelaki itu.

Yoongi sedikit mundur beberapa langkah. Telapak tangannya mengusap wajahnya yang terlihat begitu frustrasi, sementara jari telunjuk serta ibu jarinya mengusap kedua matanya yang berair.

“Jimin ... gue minta maaf,” ucap Yoongi dengan suaranya yang mulai terdengar bergetar. Ia mencoba untuk meraih tangan Jimin, meski akhirnya lelaki itu melangkah mundur menjauhi dirinya.

Helaan napas yang begitu berat Yoongi keluarkan dari mulutnya. “Kenapa? Kenapa lo mau putus?”

“Gue gak bisa LDR, gue gak sanggup.”

“Lo bohong,” bantah Yoongi. Karena sejujurnya ia tahu, Jimin juga merasakan sakit yang sama seperti rasa sakit yang kini tengah ia rasakan. Karena hal itu tampak sangat jelas dari tubuh kecil si lelaki yang terlihat begitu rapuh.

Sekali lagi Yoongi memanggil nama Jimin dengan suara yang begitu lantang saat akhirnya Jimin berjalan menjauh darinya. Ia jatuh terduduk, menatap putus asa ke arah punggung si lelaki yang terlihat semakin menjauh dan pudar. “Jimin please ... gue minta maaf.”

Sementara di sisi lain, air mata yang ditahan sedari tadi pun akhirnya tumpah membaur dengan air hujan yang membasahi tubuhnya. Dari awal Jimin sudah mempersiapkan segala hal untuk menghadapi Yoongi.

Namun, semua usahanya itu seolah hilang begitu saja saat melihat wajah dari lelaki yang begitu ia rindukan. Wajah sang cinta pertama, yang masih ia cintai dengan begitu kuatnya.

Momen yang begitu menyakitkan. Keputusan yang sudah ia pikirkan entah sejak berapa bulan lamanya. Keputusan berat, yang ia tidak tahu apakah dirinya akan menyesali keputusan ini nantinya.

Dan ia jamin. Setiap hujan turun, momen ini akan selalu membekas di dalam benaknya. Momen di mana ia kehilangan cinta pertamanya, kebahagiaannya, serta sosok yang akan terus meninggalkan rasa pahit bercampur manis di sepanjang hidupnya kelak.[]