PDKT Class [383]

Hari yang menyebalkan. Justru beruntung dirinya diajak Mina untuk datang ke pameran seni kali ini. Memang terkadang kepalanya yang terasa sangat penuh ini butuh sekali untuk menikmati sedikit hiburan, dibanding harus memikirkan hal-hal yang sama setiap menitnya.

Rasanya begitu melelahkan, saat hal itu-itu saja yang berputar di dalam kepalanya. Membuat kepalanya justru terasa pusing dan panas.

Bahkan kini kepalanya terasa sangat berat untuk menyelesaikan beberapa soal matematika. Yang biasanya dapat ia selesaikan dalam hitungan menit, kini dalam hitungan jam, itu pun dengan hasil perhitungan yang jauh berbeda dengan jawaban sebenarnya.

Mungkin inilah mengapa banyak orang melarang anak-anak kelas 12 untuk berkencan, sebab pastilah fokus mereka terpecah menjadi beberapa bagian. Atau mungkin hanya Jimin yang mengalami hal ini? Alias dirinya yang terlalu memikirkan hubungan Yoongi dan Wendy.

Menyebalkan.

“Kamu gak mau ke lukisan selanjutnya?”

Suara itu telak mengagetkan Jimin hingga membuat si lelaki berjengit kecil. Ia beberapa kali mengusap dada kirinya, berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak dengan sangat cepat.

Meskipun suara Mina terdengar sangatlah lembut dan halus, tetapi tetap saja perempuan itu datang secara tiba-tiba. Membuat dirinya yang takut dengan makhluk-makhluk gaib menjadi kaget setengah mati dengan kemunculannya.

“Eh? Maaf-maaf, kayaknya kamu lagi fokus banget, ya? Sampai kaget begitu,” ucap Mina sembari tertawa kecil.

Tidak. Bahkan kini pikiran Jimin sama sekali tidak tertuju pada lukisan abstrak di depannya ini. Tidak sedikit pun ia menaruh perhatian pada kunjungan kali ini.

Menyedihkan.

“Lo udah selesai keliling?” Mina menganggukkan kepalanya saat mendengar pertanyaan yang Jimin lontarkan. Senyumnya merekah, semakin menunjukkan sisinya yang begitu cantik. “Mumpung udah sore, mau sekalian jajan?”

“Ah, aku gak bisa lama-lama,” tolak Mina, “aku ajak kamu ke sini juga karena mau bilang sesuatu.”

Merasakan atmosfer yang sedikit terasa canggung, Jimin hanya berdiri di sana seraya mengusap tengkuknya kaku. Matanya menatap lurus ke arah wajah sang lawan bicara yang terlihat sangat bersemangat dan cerah, berbeda sekali dengan dirinya yang terlihat kusut.

Ah, ia jadi merasa bersalah. Harusnya ia bisa berdandan dan menunjukkan usaha lebih saat sedang pergi bersama orang lain. Memalukan.

“Aku suka sama kamu, Jimin.”

Ungkapan perasaan yang tentunya sangat tiba-tiba itu seketika membuat Jimin membelalakkan matanya kaget. Jantungnya terasa berat, sementara napasnya seolah sesak.

Sungguh. Pernyataan cinta pertama, dari seorang perempuan.

Yang justru mengingatkannya pada pernyataan cinta yang diutarakan oleh Yoongi saat pertama kali mereka nonton bioskop bersama. Dadanya terasa semakin sesak saat dirinya kembali teringat oleh lelaki itu, tidak satu pun momen yang bisa ia lupakan jika itu menyangkut Yoongi.

“Dari ... kapan?”

“Dari kelas sepuluh,” jawab Mina. Yang justru semakin membuat Jimin tambah terkejut.

“Bukannya lo suka sama Kak Yoongi?”

Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Jimin dengan nada penuh kebingungan, Mina memiringkan kepalanya ke arah kanan, memasang pose berpikir. Mungkin ia sedang mengingat-ingat kembali apa saja yang telah ia ucapkan di depan Jimin.

“Kalau yang kamu maksud itu tentang pertama kali chat kita di WhatsApp, aku nanya itu buat basa-basi.”

Oh. Ternyata memang selama ini ia sudah salah sangka. Malu sekali!

Seketika Jimin menjadi gagap. Huruf-huruf di dalam kepalanya terasa berantakan, kata-kata yang ingin ia ucapkan seolah tertahan di ujung lidah.

Sial. Harusnya di saat seperti ini ia melakukan sesuatu. Menjawab pernyataan cintanya, misalnya.

“Kamu gak harus pusing mau nerima atau nolak, kok. Karena aku cuma mau kamu tahu perasaanku aja.”

“Maaf.” Dari sekian banyak kata yang telah Jimin pelajari sedari kecil, hanya kata maaf yang paling cocok menurutnya.

Memang ia adalah seseorang yang payah, sampai-sampai di keadaan seperti ini pun dirinya hanya bisa diam. Bagaimana nanti jika ia harus bertemu secara tatap muka dengan Yoongi?

Yang pastinya butuh lebih banyak keberanian dan kesabaran untuk tidak melepaskan emosinya begitu saja. Butuh lebih banyak usaha agar ia tidak melakukan hal-hal yang dapat membuat dirinya menyesal di kemudian hari.[]