PDKT Class [332]

“Kok lo makan cimol sendiri, sih?” tanya Yoongi saat motor yang mereka kendarai berhenti saat di lampu merah.

Jimin mendongakkan kepalanya, memperhatikan angka yang bergerak, yang menunjukkan berapa lama lagi lampu akan berubah menjadi hijau. Baru saat melihat angkanya masih berada pada angka dua ratusan, Jimin memberikan plastik cimol yang ada di genggamannya untuk Yoongi.

Yoongi pun menerima plastik itu dengan wajah penuh kebingungan. Maksud dari ucapannya itu ingin disuapi oleh kekasihnya itu, tetapi Jimin malah langsung memberikan plastik itu untuknya.

“Bahaya, kalo gue yang nyuapin lo,” ucap Jimin seolah bisa membaca pikiran dari Yoongi. “Nanti kalo lo keselek tusukan cimol, siapa yang mau tanggung jawab?”

Mendengar ucapan polos yang dilontarkan oleh kekasihnya itu, Yoongi hanya tertawa pelan. Telapak tangannya yang lebar digunakan untuk mengusap lutut Jimin yang tertutupi oleh kain celananya. “Lo, lah. Kan lo yang nyuapin gue.”

Suara tawa pun akhirnya terdengar saat Jimin mencubit pinggang Yoongi dengan kekuatan sedang.

“Lo emang suka banget main kekerasan, ya?”

“Diem lo. Gue bisa taekwondo,” ucap Jimin sambil mendongakkan kepalanya bangga, seolah memberikan peringatan keras untuk lelaki yang merupakan kekasihnya itu. Ya, meskipun maksud darinya adalah hanya untuk bercanda semata.

Waktu seolah berjalan lambat pada saat itu. Kini waktu di lampu merah itu hanya sekitar 120 detik atau sama dengan dua menit lamanya, yang semakin membuat Jimin mengeratkan pelukannya pada pinggang sang kekasih.

Waktu sudah semakin sore, matahari juga sudah hampir tenggelam dengan meninggalkan warna kuning kejinggaan di langit pada sore itu. Entah kenapa, rasanya ia tidak ingin segera mengakhiri hari ini begitu saja. Ia masih ingin meluangkan waktu bersama Yoongi, untuk berjaga-jaga jika nantinya tidak akan ada hari-hari seperti hari ini lagi.

“Kok motor lo bukan yang kemarin, Kak?”

“Lagi diservis, makanya gue pake yang ada aja.”

Jimin berucap 'ooh' dengan pelan dan samar, tanda jika ia mengerti dan paham. Kembali mereka saling mengunci mulut, sampai hanya terasa angin sore yang berdesir halus, usapan lembut pada lutut kanan Jimin, serta detak jantung mereka yang sama-sama menggila.

Sore ini, mereka kembali merasakan perasaan satu sama lain yang sebegitu dalamnya untuk masing-masing insan. Jimin hanya berharap, jika sore ini akan terulang lagi dan bukan sore terakhir mereka menghabiskan waktu bersama.

Karena perasaan yang ia rasakan untuk Yoongi, bukanlah perasaan main-main yang bisa hilang begitu saja meski untuk waktu yang lama.[]