PDKT Class [322]

Jimin mengeluarkan kepalanya dari jendela kamarnya saat ia mendengar namanya dipanggil samar dari luar sana. Bukan Yoongi dengan tangga yang dipinjam dari tetangga seperti saat itu, tetapi tetap kali ini yang memanggilnya adalah Yoongi.

Pastinya lelaki itu sudah tahu jika mood-nya dari kemarin selalu jelek. Ya, karena siapa lagi kalau bukan karena pacarnya itu sendiri?

Ingatan tentang Yoongi yang mengatakan akan pergi ke acara keluarga, tetapi malah pergi dengan Wendy, salah satu kakak kelas yang mempunyai penggemar di seluruh sudut sekolah. Bagaimana bisa ia lupa, saat lelaki itu menghampirinya di kelas dengan wajah tanpa dosa dan senyum gusinya.

Menyebalkan.

“Jimin!” panggil Yoongi sekali lagi saat melihat jendela kamar Jimin sudah terbuka, dengan kepala si lelaki yang sedikit mengintip, menatapnya dengan wajah sinis. “Pintu lo!”

“Gamau! Bokap sama nyokap gaada di rumah, pergi lo!”

Sesaat Jimin merasa menang saat Yoongi berjalan kembali ke motornya dengan lemas. Namun, perasaan itu segera dipatahkan saat Yoongi mengangkat plastik dengan sekotak martabak telur di dalamnya.

Makanan, adalah kelemahan terbesarnya. Dan hal itulah yang bisa membuat Yoongi masuk hingga ke dalam kamar Jimin dengan senang hati. Ya, meskipun Jimin masih memberikan jarak, dengan membiarkan Yoongi duduk di dekat pintu kamar sementara dirinya duduk di atas ranjang seraya melahap martabak yang dibawakan oleh Yoongi untuknya.

Jimin tidak menaruh atensi sama sekali untuk lelaki itu, membiarkan Yoongi duduk di lantai sambil menepuk-nepuk nyamuk yang hinggap di lengannya yang putih. Bahkan ia sudah sibuk bermain ponsel, berusaha mendiami Yoongi, melampiaskan rasa kesal yang sudah ia pendam dari beberapa hari yang lalu.

Berusaha untuk tidak luluh dengan cepat untuk lelaki itu.

“Lo kenapa?” tanya Yoongi meski Jimin enggan untuk membuka mulut. Helaan napas yang begitu berat keluar dari bibir tipisnya, memutar otak untuk bertanya hal lain yang sekiranya akan dijawab oleh lelaki itu. “Lusa jadi jalan, kan?”

“Terserah,” jawab Jimin singkat.

Senyum tipis terukir pada bibir Yoongi. Setidaknya, kekasih kecilnya itu masih mau menjawab.

Selanjutnya ia pun mengeluarkan gitar miliknya dari dalam tas, sedikit memetiknya perlahan, sebelum memainkan beberapa kunci diikuti sebuah nyanyian pelan. Celengan Rindu, memangnya apa lagi?

Bukannya senang mendengar suara berat Yoongi yang memang terdengar seksi dan maskulin, Jimin malah semakin mengerutkan keningnya. Kenapa setiap lelaki itu memegang gitar, selalu lagu itu yang ia mainkan. Aneh sekali.

Jimin menunggu sampai Yoongi selesai bernyanyi sebelum berucap, “Setiap lo main gitar selalu nyanyi lagu itu, lo rindu sama siapa, sih?”

“Sama lo. Gue selalu kangen sama lo,” jawab Yoongi dengan cepat. Matanya menatap lurus ke arah Jimin, menatap paras lelakinya yang begitu menawan. “Mau se-lama apa pun kita nge-date di luar, mau sesering apa pun kita ketemu, gue tetep selalu kangen sama lo.”

“Kangen gue apa kangen yang lain, tuh?”

“Lo, lah. Cuma lo.”

Terdengar bunyi dari gitar yang bersinggungan dengan lantai di bawah mereka, sebelum mulai terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah Jimin. Lelaki itu mendongakkan kepalanya dengan berani hingga tatapan matanya bertemu dengan manik mata hitam legam milik sang kekasih.

Tampan, memang selalu tampan. Tidak heran jika seluruh isi sekolah membuat lelakinya ini menjadi idola mereka.

“Lo kenapa? Seminggu ini lo ngehindar dari gue, tapi akhirnya hari ini lo bisa natap mata gue lagi, ya.”

Mendengar kalimat yang Yoongi lontarkan barusan, seketika Jimin langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Malu, hampir saja pertahanannya runtuh.

Tidak. Pada dasarnya, memang ia akan selalu luluh untuk Yoongi.

Jari jemari Yoongi yang panjang dan besar membelai rahangnya dengan lembut. Jari telunjuk lelaki itu menyentuh dagunya, membuat kepalanya yang tadinya menunduk kini kembali menatap manik hitam itu dengan lurus.

Wajah mereka semakin dekat, hidung yang saling bersentuhan, serta embusan napas satu sama lain yang membelai hangat bibir masing-masing.

Apa mereka ... akan berciuman? Seperti film-film romantis yang sering Jimin tonton saat sedang liburan. Perlahan ia menutup matanya, memasrahkan seluruhnya pada lelaki di depannya ini.

“Jiji, ini Papa—Ya Tuhan, Jimin!”[]