PDKT Class [284]

“Tas lo taruh aja di atas meja gue,” ucap Yoongi seraya menggantung jaketnya pada hanger yang ada di dalam lemari. Ia memperhatikan kekasihnya itu dengan yakin, baru selanjutnya membuka pintu kamar bermaksud untuk keluar dari ruangan itu. Ya, jika saja tangannya tidak ditahan oleh lelaki itu.

“Kenapa lo ninggalin gue di sini?”

“Gue mau ambil minuman buat lo,” jawab Yoongi dengan suara yang teramat sangat lembut. Tangannya melepaskan genggaman Jimin pada lengan bajunya sembari berucap, “Tunggu di sini dulu, ya, Pangeran kecil. Gak ada dedemit, kok.”

Jimin pun hanya memberikan tatapan tajam saat kekasihnya itu berucap mengejek. Menyebalkan, memang.

Setelah Yoongi pergi, Jimin yang ditinggal sendiri di kamar itu mengalihkan tatapannya untuk memperhatikan sekelilingnya dengan cermat. Sesekali berdecak kagum, sebab ternyata kakak kelasnya itu terlahir dengan sendok emas.

Padahal, Yoongi yang selama ini ia lihat, seperti orang-orang kebanyakan. Akan tetapi, setelah dilihat lagi, mungkin juga alasan dari lelaki itu bisa dengan mudah memberikan barang kepunyaannya pada orang lain—seperti jaket yang dilepas begitu saja untuk dirinya—karena Yoongi bisa membeli lagi dengan uangnya sendiri.

Manik mata Jimin bergulir pelan mulai dari meja belajar yang terlihat minimalis, rak buku dengan susunan yang begitu rapi nyaris seperti tidak pernah disentuh, hingga matanya berhenti pada sebuah gitar akustik yang terletak di sudut ruangan.

Kekasihnya ini, memang terkenal dengan kalimat 'Si serba bisa Yoongi'. Sudahlah merupakan bagian dari komite kedisiplinan, kapten di tim basket sekolah, masuk peringkat paralel, bahkan hingga bermain musik seperti ini.

Benar-benar mengagumkan. Jimin ingin sekali membanggakan kekasihnya yang begitu hebat, tetapi sayang sekali mereka malah backstreet.

“Udah selesai ngelamunnya, Tuan?”

“Ih! Lo ngagetin ....” Jimin menatap sebal pada lelaki yang lebih tua darinya itu sebelum menerima segelas teh hangat dari tangan Yoongi. Datang tidak memberi salam, wajar saja dirinya kaget.

“Lagian, lo lagi mikir apa, sih?”

“Lo emang serba bisa, ya?”

Terdengar tawa samar dari mulut Yoongi. Ia mengikuti arah pandang kekasih kecilnya, sebelum mengangguk mengerti. “Gitar? Mau gue mainin buat lo?”

Manik mereka bertatapan. Jimin sedikit mendongak sebab dirinya duduk di atas kasur, sementara Yoongi menunduk sebab posisinya saat ini sedang berdiri tepat di sebelah lelaki itu.

Melihat tatapan memohon mirip anjing kecil yang manis, akhirnya Yoongi pun menghela napas pasrah. Sungguh, ia tidak akan pernah bisa menang melawan kekasihnya ini. Siapa yang bisa mengatakan tidak saat lawan bicaramu memiliki tampang semanis Jimin?

Yoongi melangkahkan tungkai kakinya, perlahan meraih gitar yang sering ia mainkan jika sudah bosan dengan rentetan huruf dan angka yang menemani dirinya setiap malam. Sedikit memetiknya asal, sebelum akhirnya memainkan beberapa kunci nada yang terdengar sangat familiar.

Dan tunggulah, aku di sana, Memecahkan celengan rinduku, Berboncengan denganmu, mengelilingi kota, menikmati surya perlahan menghilang,

Celengan rindu, oleh Fiersa Besari. Lagu itu memang sering kali diputar dan menjadi favorit anak-anak kelas jika ada seseorang yang membawa speaker. Namun, melihat Yoongi bernyanyi di depannya seperti ini, sungguh terasa berbeda sekali.

Hingga kejamnya waktu, menarik paksa kau dari pelukku, Lalu kita kembali, menabung rasa rindu, saling mengirim doa, Sampai nanti, sayangku.

Apalagi, saat lelaki itu menatap matanya lurus-lurus pada baris terakhir lagu itu. Membuat jantungnya berdebar cepat, serta wajahnya menjadi panas hingga ke telinga.

Ia benar-benar ... menyukai kakak kelasnya ini.[]