PDKT Class [256]

“Pake mi bihun sama mi kuning,” ucap Jimin sembari menahan pergerakan Yoongi yang baru saja ingin beranjak dari meja mereka. Tangannya meremat ujung kemeja putih yang Yoongi pakai, sementara wajahnya menunduk malu. “Favorit gue. Gue gak mau makan kalo lo salah pesennya.”

Hanya terdengar suara tawa kecil dari yang lebih tua, diikuti dengan usapan ringan pada pucuk kepala. Yang sungguh, membuat jantung Jimin menjadi lebih berdebar-debar dari biasanya.

Pun setelahnya, Yoongi baru benar-benar berjalan menjauh, menghampiri penjual bakso langganan mereka.

Jimin yang sedari tadi menahan malu hanya berusaha mengalihkan perhatiannya pada ponsel genggam bututnya. Berulang kali mengumpat sebab layarnya yang nge-heng, sampai-sampai kembali mengundang suara tawa dari sang kekasih.

“Setiap lo sama gue, kenapa ngumpat terus, sih?”

“Lo juga gitu, kalo kalah sparing.”

“Tabiat buruk gue jangan ditiru, dong, Pacar.” Panggilan singkat dari Yoongi itu lagi-lagi membuat wajahnya memerah samar. Entah sudah berapa kali hari ini dirinya dibuat malu-malu seperti ini hanya karena gombalan receh yang dituturkan oleh lawan bicaranya itu.

Menyebalkan. Yoongi yang ia kenal, memang selalu menyebalkan.

“Biarin. Orang gue udah gini dari dulu.” Tawa Yoongi kembali menyambut ucapan yang dilontarkan oleh Jimin. Menertawakan betapa imut lelakinya ini, serta betapa manis pangeran kecilnya.

Tidak ada yang menemani hening di antara mereka saat tengah menunggu 2 bakso dan 2 es teh yang mereka pesan untuk makan siang di hari itu. Tidak terasa canggung sama sekali, bahkan malah terasa hangat.

Entah karena mereka yang berbicara melalui tatapan dan sentuhan tangan di atas meja, atau karena memang ikatan batin mereka yang terjalin begitu kuatnya sejak menjadi sepasang kekasih.

“Ji,” panggil Yoongi, “lo gak mau kayak orang-orang lainnya? Manggil aku—kamu, gitu.”

Kepala Jimin naik, menatap kedua pupil hitam legam milik kakak kelasnya itu dengan tatapan bingung. Sejenak ia berpikir dalam-dalam, baru akhirnya membuka mulut dan berkata, “Gak jijik, lo?”

“Kan, sama pacar.”

“Najis,” balas Jimin sembari tertawa ringan. Senyum terukir pada bilah bibir plum-nya, turut mengundang sang lawan bicara ikut tersenyum kecil menemani dirinya. “Kalo sama kamu, aku ikut aja.”

“Ini baksonya, Den.”

“Eh, iya, Mang.” Jimin menyahut dengan sedikit gugup. Seolah tertangkap basah habis melakukan suatu kejahatan yang tiada duanya.

Ia begitu malu, sebab dirinya seperti tengah menggoda Yoongi. Yang padahal lelaki itu adalah kekasihnya sendiri. Memalukan.

Kembali ia fokus kepada mangkuk baksonya. Berusaha melupakan semua pikiran yang bergejolak di dalam kepalanya. Ia menyeruput kuahnya dengan tenang, seraya sesekali mengibaskan tangan di sekitar wajahnya dengan raut tidak nyaman.

“Woy! Rafli, kan, ya?” teriak Yoongi yang ditujukan untuk seseorang di belakang Jimin. “Tolong matiin rokok lo, ada orang lagi makan.”

“Eh? Iya, Bang, maaf.”

Jimin pun hanya mengulum senyum dengan wajahnya yang tetap menunduk dalam-dalam menyembunyikan wajahnya yang total memerah. Jika kuah bakso ini sudah panas maka wajah Jimin tidak kalah panasnya dengan benda cair itu.

Apalagi saat Yoongi berbisik tepat di wajahnya. Mengatakan, “Gak bisa kena asap rokok, catet. Biar kamu nyaman jalan sama aku tiap hari.”[]