PDKT Class [217]
Ruang keluarga di rumah Jimin pada pagi itu malah terasa sepi sekali semenjak kedatangan satu tamu—yang tentunya sudah tidak terlalu asing—dari luar. Entah apa yang menyebabkan suasananya terasa kaku seperti itu, yang pastinya Jimin dan Yoongi adalah salah satu dalang dari penyebabnya hal itu terjadi.
Kedua anak SMA yang 2 minggu lalu baru saja mengubah status itu kini terlihat sangat canggung dengan satu sama lain. Padahal biasanya mereka tidak segan-segan melempar candaan untuk satu sama lain dan saling mengejek.
Namun, situasi kali ini terlalu canggung dan kaku hingga membuat Ayah Jimin berdecak keras. “Kalian ini mau diem-dieman terus, ya, sampai itu buburnya bakal jadi nasi lagi?”
“Hush, Papa. Gak boleh begitu, ah, sama adek,” sahut Mama Jimin dari arah dapur. Lalu, wanita yang terlihat berada di pertengahan umur empat puluhan itu dengan lembut berucap, “Yoongi kalau mau lama-lama di sini juga gapapa. Sekalian kalau perlu Jiminnya diajak malam mingguan, udah lama kami gak pernah lihat Jiji pacaran, soalnya.”
Satu hal lagi yang Yoongi ketahui tentang Jimin. Bahwa lelaki itu kelihatannya benar-benar suka mengerjai dirinya sebab tidak ada satu pun raut galak yang terpancar dari wajah Ibu dari kekasihnya itu.
Justru malah ia sangat disambut baik saat pertama kali mengetuk pintu rumah keluarga Jimin. Keluarga mereka sangatlah hangat.
“Mama, ih.” Jimin mendesis malu, seraya mengerutkan dahinya dalam-dalam. Entah kenapa malu sekali jika digoda oleh keluarga habis-habisan seperti itu.
Setelah kedua orang tua Jimin pergi untuk belanja bulanan, Jimin baru berani menatap kedua mata Yoongi. Tentu menatap dengan penuh rasa kesal karena seperti hanya dirinya sendiri yang kelihatan malu-malu dengan status baru mereka.
“Katanya jogging, kok ke sininya malah naik motor.”
“Kaki gue bisa patah kalo jalan dari rumah gue sampe rumah lo,” jawab Yoongi sembari mengeluarkan satu per satu bubur yang ia bawa dari dalam plastik. Namun, setelahnya Yoongi hanya menatap Jimin bingung sebab lelaki itu tidak kunjung mengambil bubur yang ia belikan.
Lelaki itu hanya membuka, menutup, lalu menatapnya dengan tatapan datar. “Kenapa, Ji?”
“Ada kacang sama daun bawangnya.”
“Oh, lo gak suka?” Melihat sebuah anggukan Jimin berikan sebagai jawaban bagi pertanyaannya, Yoongi pun segera meraih sendok terdekat dan menyingkirkan semua bagian yang Jimin tidak suka sebelum dipindahkan ke mangkuknya sendiri. “Lain kali gue bilangin ke abangnya biar gak pake kacang sama daun bawang.”
“Makin sayang, deh, sama lo.”
“Lo kalo bercanda jangan begitu, jantung gue mau meledak.”[]