Malibu Nights [4]

Angin berhembus kencang. Udara malam yang dingin mengusap lembut bagian kulit lengan Yoongi yang terpampang nyata sebab ia melupakan jaketnya di mobil.

Kembali ia disana, diam bertumpu tangan mengamati pemandangan sungai walau gelap hanya terpantul cahaya bulan. Dua tahun lalu ia merenung disana, dengan pecahan hati yang sama persis.

Entah karena ia yang tidak pantas merasakan yang namanya cinta, atau memang hanya dunia yang belum berkehendak memasangkannya dengan orang lain.

“Lo, ngomong sama gue?”

Namun, satu hal yang tampak berbeda dari potongan kenangan dua tahun lalu itu. Sekarang, disini ada seorang laki-laki yang turut merenung sepertinya dengan mimik sedih memandangi sungai dibawah sana.

Terlihat sepertinya. Bahkan Yoongi pun ikut merasakan apa yang lelaki itu rasakan, sepertinya.

“Iya, emangnya siapa lagi yang ada disini selain aku sama kamu?”

“Gue kira lo lagi monolog sama diri lo sendiri.”

Lelaki itu mengulas senyum. Bibir tebalnya membentuk senyuman cantik yang terlihat bersinar meski keadaan sedikit gelap saat itu. Bahkan kini ia ikut mengamati bagaimana mata kecil itu sedikit menyipit dengan lucu. Entah karena angin yang menerpa wajah laki-laki itu, atau menyipit dikarenakan tersenyum.

Aneh sekali mengamati seseorang seperti ini, bukan dirinya sekali. Tetapi, ia pun tidak berbohong bahkan tidak ingin menyangkal jika lelaki itu memang terlihat indah dan menawan.

Hah... sedang memikirkan apa kamu ini Yoongi?

“Lo kenapa? Mau cerita? Katanya, kalau suatu beban dibagi ke orang lain, bakal mengurangi rasa sakitnya. Meskipun cuma cerita atau bersandar. Ya, tapi kalo lo mau aja sih, gue gak maksa.”

Yoongi kembali melipat tangannya diatas pagar pembatas. Berusaha terlihat tidak acuh jika ternyata seseorang tersebut sedikit terganggu dengan semua pertanyaan yang ia lontarkan.

Bukan, ia bukan seseorang yang penasaran dengan masalah orang lain. Tetapi ia hanya ingin setidaknya berbagi rasa sakit itu bersama. Tepat seperti yang Hyeri lakukan padanya beberapa tahun lalu, di tempat yang sama.

Yoongi mengeluarkan desah kesalnya disertai erangan frustrasi. Kembali memikirkan seseorang yang kamu sayangi namun ternyata orang itu membuatmu kecewa sangatlah menyakitkan. Sontak bisa saja semua kenangan manis yang sudah ia lewatkan bersama wanita itu muncul begitu saja di pikirannya.

“Aku... dibohongi tunanganku.”

Yoongi menoleh dengan cepat saat lelaki itu mulai mengeluarkan suaranya perlahan.

Mereka... punya cerita yang tidak jauh berbeda. Disakiti dengan cinta, dipermainkan oleh cinta yang jahat dan kotor.

“Aku pikir dia suka dan cinta aku, tetapi ternyata dia cuma mau tubuhku. Bahkan dia gak suka cowok, he's not even gay, why did he date me tho?”

Yoongi berdiri disana dengan kaku. Lengannya merangkul bahu sempit itu secara tiba-tiba dan perlahan.

Entah karena dorongan apa ia melakukan itu. Benarkah ia hanya bersimpati dengan apa yang dialami lelaki ini di dalam hidupnya? Atau nyatanya ia hanya ingin merangkul sesama pejuang cinta yang digagalkan oleh kenyataan yang tidak sebaik itu?

Entahlah. Ia pun turut abai dengan maksud dari rangkulan hangat yang ia berikan. Lelaki itu sendiri pun tidak merasa risih dengan rangkulan itu, malah semakin menyamankan dan mendekatkan dirinya kearah Yoongi.

“Kalau kamu, kenapa?”

“Gue... lihat calon tunangan gue selingkuh sama temen gue sendiri satu tahun yang lalu. Bahkan semuanya ikut pura-pura gak tahu apa-apa. She's my biggest supporter since the beginning, gue gak ada siapa-siapa lagi buat tempat cerita.”

Yoongi menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya setelah melepas rangkulannya pada bahu lelaki itu. Menyisakan mereka yang terdiam bergulat dengan pikiran masing-masing.

Malam semakin larut ditandai dengan bulan yang semakin naik menampakkan sinarnya. Angin pun turut menjadi dingin menusuk tulang.

“So, we're a broken person.”

“We're fucked up. 'Can I hold on for another night?' Itu yang gue pikirkan waktu di jalan. I'm done, I don't even wanna trust in love again.”

“Aku juga.”

Helaan napas yang terdengar berat keluar dari masing-masing insan. Bahkan kini laki-laki itu ikut menenggelamkan wajahnya di atas lengan yang dilipat mengikuti Yoongi.

Mereka sama-sama hancur, dan dunia mempertemukan mereka pada malam itu untuk saling berbagi cerita. Entah disengaja atau tidak.

“Lucu ya, nasib kita sama tapi dengan cerita yang berbeda. Mungkin kalau gak ketemu kamu malam ini, aku gak tau mau gimana lagi.”

Kedua insan itu menertawakan nasib yang membawa mereka seperti ini. Saling bercerita di bawah langit kelam di hari itu, bahkan tubuh mereka ikut saling berdekatan. Sikut bertubrukan dengan sikut, hingga suara nafas yang terdengar dari masing-masing insan.

“Lo enak diajak ngobrol, kira-kira kita bisa ketemu lagi?”

“Pasti ketemu, kalau semesta mengijinkan.”

“Gue bakal maksa semesta buat pertemukan kita berdua.”

Lelaki itu tertawa pelan. Tangan kecilnya menutupi area mulutnya dengan lembut.

Cantik.

“Nanti, kalau kamu butuh teman cerita lagi, ingat saja kalau masih banyak orang baik di dunia ini. Pasti ada satu atau dua orang yang mau dengar ceritamu dengan tulus, mau itu orang yang kamu kenal, atau orang asing sekali pun.”

“Sepertimu?”

“Sepertiku. Kamu juga hari ini berperan sebagai 'orang asing' itu lho bagiku, terima kasih banyak.”

Laki-laki yang belum ia ketahui namanya itu menegakkan tubuhnya. Baru terlihat jelas tampak seseorang yang tadi mengajaknya berbicara bertukar pikiran.

Yoongi mengamati dengan sangat bagaimana tangan itu tenggelam di dalam balutan hoodie putih. Bahkan kini terlihat jelas mata lelaki itu yang terlihat sembab seperti habis menangis.

Ah, ia tahu, laki-laki itu sendirian seperti dirinya.

“Tunggu, lo mau pergi?”

Yoongi menahan tangan si lelaki yang tampak sepantaran dengannya itu dengan tergesa. Oh, bahkan ia baru menyadari jika orang itu membawa sepeda untuk sampai kemari.

Lawan bicaranya itu mengangguk pelan. Mengiyakan pertanyaan Yoongi yang secara spontan dikeluarkan oleh pria itu.

“Gue belum tahu nama lo, gimana nanti kita bisa ketemu lagi kalau gue gak tau nama lo?”

“Jimin, Park Jimin. Nanti sapa aku, ya, waktu kita bertemu kembali. Pastikan juga kamu menyebutkan namamu saat kita bertemu lagi.”

Yoongi melepaskan genggamannya pada lengan laki-laki itu, Jimin, setelah mendengar jawabannya. Ia sangat harus bertemu lagi dengannya.

Setidaknya tumbuh kembali rasa ingin melanjutkan hidup di keesokan harinya karena Jimin. Diam-diam ia mengucap kalimat terima kasih sembari menatapi punggung sempit itu yang berjalan perlahan sembari menuntun sepedanya.

Pasti, semesta akan mempertemukan mereka kembali. Pasti, semesta akan membiarkan mereka menyatukan kepingan masing-masing yang telah lama hancur. Pasti, semesta akan mempertemukan mereka saat keadaan mereka telah membaik, baik secara mental atau pun keadaan.

Tanpa sadar harinya menjadi lebih baik setelah bertemu dan berbagi cerita lelaki itu. Memang terkadang kita hanya butuh di dengarkan ceritanya oleh orang lain. Sebuah pertolongan sederhana yang memberikan secercah harapan untuk kembali melanjutkan hidup.

“Until we meet again, Jimin.”[]