Malam Mingguan – [Yoonmin Oneshot]

Jakarta, di malam hari. Dengan gedung-gedung tinggi yang dihiasi sinar cerah di bagian luarnya, tampak meriah bagi siapa pun yang melihatnya untuk pertama kali.

Jakarta kota, tidak kalah indah dengan ibukota negara Jepang, Tokyo. Tidak kalah meriah dengan kota besar New York. Tidak juga kalah ramai dari jalanan di Itaewon. Jakarta kota pada saat malam hari menjadi destinasi banyak orang ketika pergi keluar, entah dengan sang kekasih atau pun pergi bersama dengan keluarga tercinta.

Begitu pun dengan Yoongi dan Jimin. Berkeliling menghabiskan malam minggu pada minggu ketiga di bulan Maret mengitari kota Jakarta. Memang tidak jelas tujuannya, yang penting keluar saja bersama tercintanya.

Terkadang mereka berhenti sejenak untuk membeli jajanan pedagang yang lewat. Terbukti membuat Jimin bahagia dari tawa cantik yang berasal dari bibir indah itu. Bertepatan juga dengan Jimin yang belum makan malam, lelaki itu mudah sakit jika belum makan, nanti Yoongi juga yang khawatir.

“Ji, mau kemana lagi?”

Tidak ada sahutan untuk pertanyaan Yoongi. Beberapa saat ia menunggu, tetap tidak ada jawaban dari Jimin. Pria yang berada di bagian depan motor sebagai pengemudi pun sedikit was-was karena ada kemungkinan kekasihnya itu terjatuh, atau... tertinggal di perhentian mereka sebelumnya mungkin?

Jujur, ia jadi ingin tertawa. Tiba-tiba saja dirinya teringat ketika Jimin pernah tertinggal di pom bensin ketika lelaki itu ingin buang air kecil. Yoongi yang mengira Jimin telah naik di jok belakangnya pun segera melajukan motornya tanpa kembali melihat ke belakang. Berakhir Jimin yang marah kepada dirinya dan menolak semua ajakan keluar dari pria itu.

Eits, sekarang bukan waktunya bercanda. Ada kemungkinan Jiminnya hilang atau tertinggal di belakang sana. Ah, menyesal juga, kenapa tadi ia tidak meminta Jimin untuk memeluk tubuhnya dari belakang. Setidaknya kan ia tahu jika Jimin 'ada' disana.

“Ji?”

Sekali lagi si pria memanggil nama kekasihnya dengan suara yang sedikit kencang. Lalu kembali panik ketika dirinya tak kunjung kembali mendapatkan jawaban. Dengan tergesa ia menepikan motornya ke bahu jalan, berniat berhenti sejenak untuk memastikan keadaan kekasihnya. Kan, bahaya juga jika Jimin ternyata tertidur disana? Yang mereka tumpangi adalah kendaraan tanpa sabuk pengaman, tentu bahaya jika lelaki itu tertidur di belakang.

“Kak.. kenapa berhenti? Bensin kamu abis? Tadi baru aja ngisi, kan?”

Jimin sibuk menelan pentolan yang mereka beli beberapa saat yang lalu. Sementara Yoongi menghela napas lega sembari sibuk menatapi setusuk pentol yang belum masuk ke mulut Jimin. Segera ia membuka mulutnya, memberi kode jika ia ingin disuapi juga oleh lelaki itu.

Sang kekasih yang langsung mengerti pun segera memasukkan satu buah pentol ke dalam mulut Yoongi. Memasang senyum paling manis yang hanya ia buat untuk Yoongi serta keluarganya.

“Aku laper,”

bohongnya. Padahal sebetulnya ia khawatir setengah mati dengan apa yang terjadi dengan Jimin. Khawatir jika ada hal-hal buruk yang terjadi pada tercintanya.

“Makanya ih, tadi aku suruh kamu makan malem aja malah gamau...”

“Kamu gak ikut makan. Aku gak mau makan sendirian, Ji.”

“Kan aku temenin kamu, lho? Lagian aku kan lagi diet ih.”

“Diet boleh, tapi enggak dengan skip makan malam Ji. Gak bagus buat kesehatan kamu.”

Yoongi menangkup wajah kecil itu dengan tangannya yang lebar. Ia mengecup pipi sang kekasih dengan lembut sehingga menghasilkan semburat merah malu yang terlihat samar karena keadaan jalanan yang cukup gelap.

Tidak peduli lagi dengan keadaan bahu jalan yang cukup ramai dengan adanya anak-anak muda yang sedang berkumpul. Toh, mereka juga sepertinya tidak sedang memperhatikan apa yang Yoongi dan Jimin lakukan. Yah... mencuri kesempatan lah, meskipun hanya kecup pipi.

“Kamu jangan gitu, ih. Malu diliat orang.”

“Aku gak peduli sama mereka, aku pedulinya cuma sama kamu.”

Terakhir, Yoongi menjawil kecil ujung hidung Jimin. Menghasilkan tawa halus dari sang kekasih sebelum kembali menjalankan motornya.

Setelah memelankan laju motornya sedikit lebih pelan dari sebelumnya, Yoongi meraih lengan Jimin yang sedang memegang bungkusan makanan. Membawa lengan lelaki itu memeluk bagian perutnya dengan erat.

Nyaman. Dadanya berdesir halus ketika Jimin mengeratkan pelukannya.

“Kamu tuh, kalo lagi di jalan, peluk aku dong!”

Yoongi sedikit menaikkan volume suaranya. Karena, man, banyak sekali kasus obrolan tidak nyambung ketika sedang berkendara dengan motor. Masa bodoh dengan orang lain di sekitarnya, yang sekiranya bisa mendengar mereka. Yang terpenting, Jimin bisa mendengar apa yang ia ucapkan pada lelaki itu.

“Kenapa?”

“Nanti kamu hilang ditiup angin, aku nyarinya susah. Soalnya aku gak bisa terbang- adahh!! Sakit ih, kenapa kamu nyubit perut aku?”

“Lagian, kamunya sih... mana bisa aku dibawa angin.”

Mereka berdua tertawa pelan. Diikuti dengan Jimin yang menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.

Nyaman rasanya. Ketika menghirup wewangian parfum Jo Malone orange blossoms dari jaket denim pria itu, bau keringat samar yang tertutupi parfum, serta merasakan hawa hangat di tengah angin malam yang dingin. Kombinasi yang sangat pas. Jimin semakin mendusel nyaman di bahu pria itu, bahkan dirinya mengabaikan fakta jika sedang menggunakan helm.

Biarlah, Yoongi pun rasanya tidak keberatan.

“Yah.. macet Ji.”

Jimin mendongakkan kepalanya, melihat jalanan penuh di depan sana yang hanya bergerak beberapa senti per menit. Jimin merengut sebal. Bagaimana tidak? Kakinya sudah sangat pegal dan ingin segera bergelung di dalam selimut tebalnya.

“Tadi kan udah aku bilang, kamu jangan lewat sini. Jam segini tuh biasanya macet, apalagi ini malam minggu.”

“Iya iya... maaf.”

Yoongi dan segala sifat keras kepalanya pun hilang ketika berhadapan dengan Jimin. Dampak lelaki itu terlalu kuat meski Yoongi lah yang lebih dominan.

Kalau kata teman-teman mereka Yoongi itu “suami takut suami”. Ya, awalnya hanya terdengar seperti omong kosong. Namun nyatanya benar-benar terjadi. Terbukti dengan Yoongi yang hanya lunak jika berhadapan dengan Jimin. Bahkan ibunya saja mengakui.

“Kan, emang niat awal kita jalan-jalan juga, hehe.”

Jimin tersenyum tipis ketika mendengar gurauan yang dilontarkan Yoongi. Tak apa lah sekali-kali terjebak macet di jalan. Setidaknya mereka terjebak bersama.

Yoongi mengistirahatkan tangannya. Pria itu membawa tungkai kaki Jimin untuk beristirahat di atas pahanya.

“Capek ya? Maaf ya, tadi aku gak ikutin kata kamu.”

Yang lebih tua memijit kaki kekasihnya dengan pelan. Sembari tetap mengamati jalanan yang mungkin saja bergerak. Karena, man, mereka benar-benar terjebak dan tidak begerak se-inci pun. Bingung disebabkan oleh apa, namun yang ia duga di depan ada sebuah kecelakaan atau sebuah galian. Ditambah lagi ini malam minggu. Lengkap sudah.

“Bagi dong cilornya, masa kamu makan sendiri sih daritadi.”

“Tadi kamu gak minta, ish.”

Jimin menyodorkan setusuk cilor ke depan mulut Yoongi. Membiarkan pria itu memakan jajanannya sedikit.

Beberapa saat mereka terdiam, menatap jalanan ditemani udara panas dari kendaraan di sisi kanan dan kiri. Dihimpit mobil dan motor, belum lagi asap hitam dari bus di sudut kanan mereka.

Menyebalkan. Beruntung pemandangan malam ini terlihat indah. Beruntung dirinya terjebak dengan sang kekasih.

“Ji, liat deh, bulannya cantik.”

“Hu'um... tweruss??”

“Cantik kayak kamu.”

“Dangdut banget tau gak sih.”

Jimin menepuk lembut punggung Yoongi. Lelaki itu kembali menempatkan kakinya diatas pijakan motor ketika melihat mobil di depan mereka mulai berjalan beberapa meter ke depan.

Ajaib sekali ketika melihat kendaraan mulai berjalan normal meskipun tetap di kecepatan yang sedikit lambat. Sedikit sedih juga karena harus mengakhiri acara kencan mereka. Mengingat setelah ini mereka kembali disibukkan dengan kerjaan masing-masing.

Diam-diam Yoongi mengambil jalan yang berbeda dari biasanya. Entah karena dirinya yang mendengar isi hati Jimin agar tidak segera pulang, atau memang dirinya juga menginginkan hal yang sama. Ya... tipikal dua orang yang sedang dimabuk cinta.

“Kak! Kamu ngapain lewat sini ih....”

Jimin berteriak kencang ketika Yoongi mengambil belokan ke kanan. Sungguh ia tahu jalan apa itu.

Jalan tempat lampu merah 'keramat' terletak. Yang lamanya sampai bisa membuat orang-orang seperti menunggu matahari terbit. Heran sekali sebetulnya dengan kekasihnya itu, bisa-bisanya mengambil jalan yang 'salah'.

“Sengaja kok aku.”

“Kok gitu?!”

“Masih mau berduaan sama kamu, hehe.”

Yoongi berucap santai sementara di depan mereka sudah terdapat barisan memanjang kendaraan yang sedang menunggu lampu merah berubah warna. Pria itu menunjukkan gummy smile nya kearah Jimin melalui kaca spion. Bahkan sedikit membuka kaca helmnya agar wajahnya lebih terlihat jelas.

“Ya gak lewat sini juga dong... muter-muter kek, beli jajanan kek.”

“Tunggu aja, biasanya kan ada abang-abang jualan tahu-adadahh... kok aku dicubit lagi sih?”

“Malesin!”

Yoongi tertawa pelan sembari memperhatikan wajah cemberut Jimin yang terlihat dari spion kanan. Pria itu mengusap-usap lutut sang kekasih untuk membuatnya tenang.

Salahnya juga sih yang iseng karena ingin menggoda Jimin. Ya, agar tidak cepat berpisah juga. Padahal ia tahu seberapa benci lelaki itu dengan lampu merah 'keramat' ini.

Yoongi memutar otak, memikirkan apa yang akan ia lakukan supaya Jimin kembali tersenyum. Dibelikan makanan sudah, digombali juga sudah, yang belum hanya...

“Ji, aku mau nyanyi.”

Berhasil. Terbukti dari wajah penasaran kekasihnya yang mengintip melalui kaca helm. Terlihat jelas dari wajah si lelaki yang terlihat lebih cerah dari sebelumnya, apalagi dengan mata berbinar penasaran yang mengharapkan Yoongi untuk segera mengeluarkan suaranya.

Yoongi pun mengambil kesempatan itu tentunya. Ia menarik napas pelan serta berdeham sekilas.

“Saya masih ting ting, dijamin masih ting ting.”

Jimin tertawa sekeras-kerasnya sembari menepuk keras punggung lebar itu. Yoongi hanya ber-hehe ria sembari menjalankan motornya yang mulai maju dikarenakan lampu merah yang sudah berubah hijau.

Pria itu kembali berhenti karena lampu sudah merah lagi. Menyebalkan sih kalau terjebak sendirian. Baru saja jalan sedikit sudah merah lagi, beruntung ia sedang bersama Jimin. Yah, setidaknya ada tawa lelaki itu yang menemani kebosanan di lampu merah.

“Ngakak banget kamu.”

“Ya iyalah, aku kira kamu mau nyanyi apaan.”

“Nanti nyanyi benerannya di tempat aku aja, kan ada gitar, bisa jadi iringan.”

“Terserah kamu deh.”

Jimin kembali tertawa halus sembari menyandarkan kepalanya di bahu lebar Yoongi. Mengeratkan lengannya memeluk yang lebih tua, membisikkan kata-kata 'keju' yang membuat mereka berdua tertawa bersama.

Menikmati malam mingguan di tengah-tengah jalanan yang macet bersama kekasih memanglah hal terbaik. Selain bisa berbagi gurauan dan tawa, bisa juga saling memberi afeksi satu sama lain. Ya, setidaknya ada teman lah untuk mengeluh. Atau mungkin hanya sekadar berbagi kehangatan di tengah udara malam hari yang dingin. Ini malam minggu ala pasangan Yoongi dan Jimin, malam minggu ala kalian gimana?[]