Malam Mingguan pt.2 [2]
Angin pada malam itu cukup kencang. Dibuat menggigil tubuh orang-orang di jalan yang pergi tanpa menggunakan jaket atau baju tebal berlengan panjang. Ya, seperti biasa, hari-hari ketika Jakarta dilanda musim hujan.
Menyenangkan bagi beberapa orang, menyusahkan juga bagi orang lainnya. Meskipun, juga asik sih karena bisa berdekatan dengan sang kekasih, hahaha.
Yoongi mengeratkan jaket bomber yang membungkus tubuh mereka berdua sembari tetap memasukkan setusuk bilung ke dalam mulutnya. Menikmati santapan malam itu bersama Jimin, lagi. Makan di tepi jalan dan duduk di bangku yang sudah disediakan, kedua insan itu tetap memadu tawa meskipun bukan di restoran mahal.
Entah bagaimana atau darimana Jimin mendapatkan ide seperti ini. Setahunya Jimin bukanlah seseorang yang mengikuti tren yang sedang naik, jadi bisa dipastikan jika ide itu datang dari seorang Jimin sendiri.
Terkadang hal-hal inilah yang membuat Yoongi kerap jatuh cinta berkali-kali pada lelaki itu. Ia merasakan bagaimana rasa tulus Jimin memenuhi raga lelaki itu ketika bertatapan atau berada bersamanya. Bisa menjadi kekasih dari seorang Jimin adalah suatu hal yang berulang kali Yoongi syukuri adanya.
“Ji, kamu tuh ya, udah berapa banyak busa yang keluar dari mulutku cuma buat bilang biar kamu pakai jaket? Atau seenggaknya pakaian tebal deh.”
Yoongi menjeda ucapannya. Memasukkan tusuk bilung terakhir yang berada di dalam plastik dan mengunyahnya dengan perlahan.
Pria itu meneguk sebotol air mineral yang sebelumnya mereka beli setelah mampir ke minimarket. Kembali menatap kekasihnya yang sedang asyik dengan seporsi nasi goreng yang lelaki itu tempatkan di dalam kotak tupperware berukuran sedang.
“Ji, kamu itu pernah sakit, bahkan sakitnya gara-gara aku bawa kamu jalan malam-malam begini. Kamu waktu itu sakit kena angin malam, gimana kala—”
cup
Yoongi bungkam. Dengan kaku menyentuh bagian bibirnya yang sebelumnya di kecup sekilas oleh Jimin.
Gila. Jelas kaget. Jimin jarang sekali ingin melakukan skinship di tempat umun seperti ini. Bahkan lelaki itu harus diseret paksa hanya untuk berpelukan.
Ia tahu jika Jimin takut. Karena nyatanya hubungan sesama jenis bukanlah hal lumrah yang bisa diumbar oleh masyarakat sekitar. Terlalu tabu untuk diperlihatkan ke khalayak umum.
“Diem, bawel. Aku lagi makan tau gak sih, gak ketelen nih gara-gara kamu “
Jimin menunjuk-nunjuk area tenggorokannnya. Lelaki itu menatap sebal kearah Yoongi hingga membuat lelaki itu tertawa sejenak.
Gemas.
“Aku kan khawatir sama kamu....”
Yoongi masih saja menyentuh bibirnya dengan kagum. Kini pria itu terlihat lebih diam dari sebelumnya.
Ya, akibat dari masih syok.
Tiba-tiba saja si pria memutar tubuhnya menyamping. Menatap kedua mata Jimin yang membola lucu disertai ekspresi kaget. Bahkan sendok yang tadinya sudah masuk ke dalam mulut Jimin pun dibiarkan begitu saja.
“Aku boleh nge-dance WAP gak sih? Aku masih di surga habis kamu cium tadi.”
Jimin tertawa pelan. Berusaha mengunyah makanannya seberhati-hati mungkin agar tidak tersedak.
“Kecup, kak.”
“Iya, kecup. Habis kamu kecup, rasanya aku mau terbang.”
Jimin memukul bahu Yoongi main-main. Sementara yang terkena serangan hanya tertawa pelan sembari merapatkan tubuh mereka.
Malam itu menjadi lebih hangat dari sebelumnya. Padahal kegiatan mereka hanya makan bersama, itu pun membawa bekal sendiri-sendiri. Tetapi entah kenapa hal itu bisa membuat hati Yoongi menghangat.
Yoongi mengamati sepasang anak remaja yang lewat di depan mereka sembari berpegangan tangan. Tertawa, bercanda ria, tepat seperti yang Yoongi dan Jimin lakukan.
Dengan cepat, Yoongi memutar kepalanya kearah Jimin, menatapi lelaki itu dengan tatapan yang sangat dalam. Jimin yang sadar ditatapi seperti itu pun hanya memerah sembari mengemasi kotak bekal kosong yang tadinya tempat untuk membawa nasi goreng.
“Aku mau pegang tangan kamu, boleh?”
Yoongi meminta izin. Kedua pasang mata itu bersitatap seolah sedang saling menyampaikan telepati.
Jimin yang mengangguk adalah sebuah persetujuan yang dianggap mutlak bagi Yoongi. Dengan senyuman tipisnya, pria itu meraih telapak tangan yang lebih kecil dari telapak tangannya dan menggenggamnya lembut.
“Tuhkan dingin, kita pulang aja ya? Aku takut kamu sakit.”
Yoongi menempelkan telapak tangan itu pada pipi kanannya. Menciumi aroma vanila manis yang keluar dari sana.
Suka. Ia selalu suka Jiminnya.
“Tapi aku masih mau sama kamu....”
“Kangen, hm?”
Jimin mengangguk, membenarkan pertanyaan Yoongi. Pria itu hanya tersenyum sebagai balasan lainnya.
Perlahan, ia mengecup punggung tangan lelaki yang lebih muda darinya dengan lembut. Menyisakan rona kemerahan yang perlahan timbul dari pipi sampai telinga Jimin.
“Ke kost-an aku, ya?”
“Hm, boleh.”
Yoongi bangkit dari duduknya. Pria itu mengeratkan jaket bomber miliknya yang tergantung rapih di tubuh Jimin.
Satu lagi perhatian yang ia berikan untuk Jimin. Hanya.. ia tidak ingin kekasihnya itu jatuh sakit.
“Aku boleh gombal gak sih?”
“Tumben banget kamu, coba.”
“Tau gak, kenapa malam ini bintang gak muncul?”
Yoongi menunjuk kearah langit. Memperlihatkan langit kelam sebelum hujan Kota Jakarta. Bahkan malam itu bulan saja tidak terlihat keberadaannya.
Jimin berpikir sejenak sebelum mengangkat kepalanya menatap lurus pada mata Yoongi. Melihat pahatan sempurna yang terpatri pada wajah pria itu. Sontak ia pun tertawa pelan dengan spontan.
“Karena mau hujan? Gak tau aku, kak.”
“Karena, kamu cantik banget malam ini. Indah, cantik, ganteng, sampai-sampai bintang di langit aja gak mau nunjukkin dirinya karena kalah sama kamu.”
Jimin memukul dada Yoongi main-main. Refleks tangannya memeluk perut di depannya itu dan menenggelamkan wajahnya disana.
Menghirup aroma yang paling ia sukai. Menghirup aroma dari pria yang ia cintai.
“Aku sayang kamu, kak.”
“Aku sayang aku juga, makasih—addadah sakit sayang. Kok kamu suka banget nyubit perut aku sih?”
“Nyebelin!”
Jimin berdiri dan berjalan kearah motor Yoongi. Membuat pria itu harus mengejarnya sesegera mungkin dengan tetap menggoda lelaki itu sembari berjalan.
Acara malam minggu yang sempurna bukanlah dilihat dari nominal yang kamu keluarkan untuk satu malam itu. Tetapi dengan siapa kamu menghabiskan waktu kamu, di malam itu. Terkadang orang yang dicintai tak harus berupa pacar, disini Yoongi memilih untuk ber-malam mingguan bersama Jimin yang adalah orang yang paling ia cintai. Bukan kekasih, karena Yoongi menganggap hubungan mereka lebih dari itu.[]