Keno Godho — [Yoonmin Oneshot AU]
“Tuan muda Park Jimin, kerajaan dari Britania Raya meminta persetujuan Anda.”
Jimin mengikuti langkah kaki asisten yang diberikan raja untuknya ketika mengurus kerajaan ini. Menjadi putra mahkota bukanlah hal yang menyenangkan kalau boleh ia bilang. Sibuk ini itu, membangun citra baik di depan para rakyatnya, sekaligus mempertahankan martabat kerajaan yang telah dibangun oleh para terdahulu.
Semua orang terlalu lama melihatnya sebagai seorang pangeran yang keras seperti ayahnya, namun sebetulnya perangai asli yang ia miliki hanya pernah dilihat oleh satu orang seumur hidupnya.
Kekasihnya, Min Yoongi. Seorang prajurit kerajaan yang ditempatkan pada barisan terdepan. Hanya pria itu yang mengetahui sisi lain dirinya yang ingin dimanja.
Cinta mereka sangat murni dan pasti. Yoongi setia dan jujur, mencintainya bukan sebagai pangeran putra mahkota tetapi mencintainya sebagai seorang Park Jimin.
Yoongi adalah alasan mengapa Park Jimin tidak mati.
Sayang sekali mereka harus menyembunyikan hubungan mereka di depan para warga kerajaan. Hubungan antara lelaki dengan lelaki sangatlah dihina oleh raja, apalagi posisi mereka sebagai putra mahkota dan prajurit. Tambah sulit bagi mereka jika ingin mengumbar hubungan mereka terang-terangan.
Ngomong-ngomong, ia rindu sekali. Semenjak Yoongi dikirimkan untuk berjaga di perbatasan sana, mereka jarang sekali bertemu. Sudah beberapa bulan hanya sepucuk suratlah yang ia terima dari sang kekasih.
Sedih bisa dibilang, namun sudah menjadi kewajiban pria itu ketika Yoongi memutuskan menjadi seorang prajurit. Ia pun disini sama sibuknya dengan gelar seorang pangeran, intinya mereka sibuk dengan urusan masing-masing.
“Apa? Para prajurit sudah kembali?”
“Iya, tuan. Saya mendengarnya dari penjaga gerbang utama. Tetapi, suatu hal menyebabkan prajurit Min Yoongi diseret ke ruang eksekusi.”
Ruang eksekusi? Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh pria itu hingga dikenai hukuman sebegitu beratnya oleh kerajaan?
Jimin seketika melupakan semua tugasnya dan berlari kearah ruang eksekusi. Pastilah disana sudah ramai akan warga yang ingin melihat proses eksekusi yang diberikan oleh kerajaan. Maka sebelum itu terjadi, ia harus terlebih dahulu sampai disana.
Pangeran muda itu memacu tungkai kakinya untuk berlari semakin cepat. Hingga akhirnya setelah melewati beberapa lorong, dirinya sampai disana. Sudah melihat tubuh kekasihnya diikat dengan tali tambang yang tebal, supaya tidak bisa melarikan diri.
“Yoongi.”
“Jimin?”
Jimin mengamati sekitarnya, memaksa prajurit yang berjaga untuk pergi dari sana, membiarkannya sendiri bersama kekasihnya disini. Setelah sekiranya sudah aman pun baru Jimin merendahkan tubuhnya, melipat satu kakinya agar sejajar bertatapan dengan Yoongi.
Kepala itu mendongak menatap sendu sang kekasih hati. Matanya penuh raut penyesalan, yang Jimin tidak mengerti karena apa.
“Saya selingkuh, dengan seorang wanita dari pihak musuh. Saya menidurinya, menandainya setiap malam selama saya berjaga disana.”
Manik mata Jimin melebar penuh keterkejutan. Dirinya sungguh tidak menyangka seorang Yoongi akan mengkhianati dirinya sekaligus mengkhianati kerajaan.
Meskipun perasaan Jimin dipenuhi rasa kecewa, lelaki itu tetap bersabar dengan memasang ekspresi tenang. Sekarang ia mengerti kenapa Yoongi harus dihukum, karena memiliki hubungan dengan pihak lawan adalah suatu hal yang sangat di tentang oleh kerajaan.
Hukuman eksekusi lah yang akan di terima Yoongi. Dirinya sendiri pun tidak bisa melakukan apa-apa karena kekuasaan masih berada di bawah tangan ayahnya, sang raja.
“Jadi itu, maksud maaf di surat terakhirmu, ya?”
Yoongi mengangguk, kembali menundukkan wajahnya menatap lantai yang dilapisi semen dibawahnya dengan tatapan sendu. Menyesal karena telah menyakiti hati Jimin. Ia tidak peduli dengan hukuman mati dari kerajaan, yang ia pedulikan hanyalah perasaan Jimin.
Sementara disana Jimin mengusap lembut surai kehitaman sang kekasih. Menyentuhnya terakhir kali sebelum berpisah selamanya dengan pria itu.
“Aku selalu cinta kamu, Yoongi. Tapi maaf, aku gak bisa apa-apa.”
“Maaf.”
Jimin menolehkan kepalanya dengan cepat ketika mendengar pintu besi itu terbuka.
Waktunya telah tiba, saatnya ia berpisah dengan sang kekasih. Diam-diam Jimin mengecup sekilas bibir tipis Yoongi, memberikan ciuman selamat tinggal sembari merasakan sesak di dadanya.
Jimin mendengarkan sorak sorai dari para rakyat kerajaan itu dari dalam bilik sel yang dingin dan kosong. Bahkan ia mendengarkan bagaimana para warga itu mengutuk kekasihnya diatas sana. Bahkan ia tahu jika algojo sudah memotong telak kepala sang kekasih hati ketika mendengar sorak sorai warga semakin kencang.
Mereka senang jika pengkhianat dihukum sebegitu sadisnya. Sementara dirinya disini menangisi kepergian sang kekasih hati. Sementara dirinya disini menyesali dirinya yang tidak bisa melakukan apa-apa.
Hukuman yang setimpal untuk laki-laki yang kena goda. Namun dirinya sendiri pun sudah memaafkan seberat apa pun kesalahan yang Yoongi buat, meskipun kini dirinya hanya bisa mengharapkan ketenangan yang Yoongi dapatkan ketika sampai di surga sana.[]