Jangan Berhenti Mencintaiku — [Yoonmin Oneshot AU]
Udara siang yang panas menyapa kulit. Kaki di langkahkan menyusuri jalanan berbatu pada siang itu, tangan yang memegang satu cone es krim ukuran besar, serta keringat yang terus mengucur deras membasahi wajah.
Jimin meneruskan langkahnya melewati taman yang saat itu penuh dengan beberapa orang yang sibuk bermain atau pun berpacaran.
Ia berdiri disana, bergantian menatap cone es krim vanila yang ia bawa dan pasangan yang sedang menikmati es krim berdua sembari bermesraan. Pikirannya melayang pada seseorang yang sangat ia cintai, seseorang yang sangat berarti di hidupnya.
“Kak Yoongi mau es krim juga, gak ya?”
Lelaki itu mengedikkan bahunya sebelum berjalan masuk ke suatu minimarket guna membeli satu cup es krim yang nantinya akan ia nikmati bersama sang kekasih di rumah. Ya, setidaknya mencoba untuk menghibur pria itu di tengah musim panas yang menyengat ini bukan suatu hal yang salah, kan?
Kembali dirinya mematai ponselnya dengan harapan mendapat sebuah panggilan atau balasan email dari kantor yang ia datangi untuk melamar kerja. Memang tidak mudah untuk mencari sebuah pekerjaan, apalagi posisinya disini adalah seseorang yang baru saja lulus dari kampus. Ditambah lagi kampusnya bukanlah kampus yang memiliki nama, maka perjuangan hebat yang harus ia jalani untuk ke depannya.
Jimin membuka pintu apartemen yang menjadi tempat tinggalnya dengan Yoongi itu secara perlahan. Memasuki salah satu unit yang berukuran kecil itu pelan-pelan, sedikit berhati-hati untuk tidak mengganggu Yoongi yang mungkin saja sedang beristirahat.
Satu cup es krim yang tadinya ia beli ditaruh di dalam kulkas, berusaha keras untuk tidak membuatnya mencair.
Apartemen yang mereka tinggali bukanlah sebuah apartemen mewah yang menyajikan segala perabotan mewah. Mereka sudah memutuskan untuk tinggal di dalam apartemen dengan harga terjangkau yang lingkungannya nyaman. Karena saat ini pun mereka hanya bergantung pada tabungan mereka yang disatukan menjadi satu.
Perlahan Jimin membuka pintu kamar mereka. Mendorong pintu itu dengan pelan seolah akan membangunkan seseorang di dalamnya.
Benar saja, kini Yoongi tengah tertidur diatas ranjang berukuran double size itu dengan nyaman. Tubuhnya dibuat telentang agar tidak menyakiti kakinya yang masih dalam masa pemulihan.
“Kak Yoongi, aku udah pulang.”
Jimin menyisir pelan rambut sang terkasih, membelai lembut pipi putihnya, sebelum mengecup sekilas bibir sang pria.
Yoongi yang menyadari dan merasakan ada seseorang di sebelahnya itu pun perlahan bangun dari tidurnya. Senyum terulas tipis di bibirnya, tangan kanannya bergerak guna mengusap pelan kepala kekasihnya.
“Kamu capek? Mau aku pijitin?”
Jimin menggenggam tangan lebar prianya yang berada di pucuk kepalanya sembari menggeleng pelan. Bibirnya mengecup pelan telapak tangan sang pria setelah dibawa turun mendekati bibir tebalnya.
“Aku beli es krim buat kamu.”
“Yaudah, nanti kita makan es krimnya sama-sama, ya?”
Jimin membantu Yoongi untuk bersandar di bagian dipan kasur. Lanjut duduk berdampingan sembari memeluk lembut tubuh kekasihnya itu.
Sementara Yoongi disana menatap dengan ekspresi sendu kearah lelakinya. Merasa bersalah karena ia tahu Jimin diluar sana berjuang keras mencari pekerjaan, sementara dirinya disini hanya berbaring diatas ranjang tanpa bisa melakukan apa pun.
Kecelakaan dua bulan yang lalu setelah mereka lulus dari bangku kuliah merenggut kemampuan berjalannya. Dikatakan telak oleh dokter jika kakinya lumpuh dan tidak bisa berjalan untuk selamanya atau untuk waktu yang tidak bisa ditetapkan.
Ketika dirinya hanya sendiri berjuang melawan perasaan sedih karena merasa tidak berguna, hanya Jimin yang berada di sisinya. Kini ia juga yang membuat Jimin susah dengan merawatnya, sedangkan lelaki itu seharusnya punya hidup yang lebih baik.
Dirinya seperti benalu dalam hidup Jimin.
“Maaf ya, kamu capek karena aku. Aku gak bisa apa-apa Ji, bahkan aku pun rela kalau kamu cari pendamping lain untuk kamu, yang lebih pantas buat kamu.”
“Kak... kenapa kamu ngomongnya gitu?”
“Kakiku lumpuh, Ji. Bahkan buat naik ke kursi roda aja perlu bantuan kamu. Aku kayak parasit di hidup kamu.”
Jimin menegakkan duduknya. Menatap pria itu dengan bibir melengkung kebawah menahan tangis.
Sontak Yoongi yang melihat itu pun langsung memeluk sang kekasih. Merasakan baju di bagian pundaknya basah karena air mata si lelaki yang jatuh dengan deras.
“Aku gak ngerasa susah karena kamu! Kenapa kamu ngomong gitu. Aku cuma mau kamu gak berubah, aku cuma mau cinta kamu ke aku gak berubah, aku gak butuh apa-apa lagi dari kamu....”
Suara Jimin yang sedikit teredam itu terdengar bergetar pelan. Kini Yoongi yang merasa bersalah sebab lelaki itu menangis karena dirinya.
Yang Yoongi bisa lakukan disana pun hanya mengusap lembut bahu kekasihnya yang bergetar menahan isakan. Bahkan kini bagian depan kausnya pun ikut kusut karena diremat kencang oleh Jimin.
“Maaf ya, aku jadi bikin kamu nangis gini.”
“Gak nangis!”
“Iya iya.. gak nangis. Maaf udah buat kamu sedih.”
Setelahnya suara tawa kecil Jimin pun terdengar dari bibir tebal lelaki itu. Habis menangis malah tertawa. Sontak Yoongi pun ikut tertawa pelan karenanya.
“Serius kak, aku gak butuh apa-apa selain perasaan kamu ke aku yang gak berubah.”
“Perasaan aku bakal tetap sama buat kamu.”
“Jangan berhenti mencintaiku, meskipun mentari berhenti bersinar. Cuma itu yang aku mau.”
Pagutan hangat pun diberikan untuk Jimin oleh Yoongi. Dua bilah bibir berbeda volume itu memagut hangat merasakan perasaan masing-masing yang sangat murni.
Perasaan yang begitu berarti dengan Jimin yang mencintai semua kekurangan dan kelebihan Yoongi, serta Yoongi disana yang siap untuk memberikan semua cintanya untuk sang lelaki. Perasaan tulus yang diberikan kepada satu sama lain, meskipun nantinya mentari akan berhenti bersinar.[]