Double Take [1]
Kulit yang basah karena keringat itu menempel nyaman satu sama lain. Yang lebih tua memeluk pinggang sempit itu dengan lembut, bahkan memijit-mijitnya perlahan sebab ia tahu pasti jika partner nya itu sedang kelelahan.
Kegiatan panas yang mereka habiskan tiga jam penuh sangat menyita tenaga mereka. Apalagi sang pihak bawah yang sama sekali tidak diberikan waktu istirahat oleh lawan mainnya itu, terus digempur hingga paha kebas menahan bobot tubuh.
“Capek ya?”
“Pakai nanya ih....”
Yoongi tertawa pelan mendengar gerutuan lelaki itu. Meskipun mereka saling membelakangi, ia tahu jika lelaki itu sedang merengut memajukan bibirnya beberapa centi ke depan.
Sebuah kebiasaan kecil yang kerap kali mengambil hatinya secara perlahan.
Ia mengecupi bagian leher belakang Jimin dengan lembut. Menghirup aroma gula kapas yang manis terasa di indra penciumannya namun tidak meninggalkan kesan menyengat menusuk hidung.
Aroma Jimin sehabis seks adalah aroma yang ia sukai melebihi aroma petrichor. Aroma gula kapas yang bercampur dengan keringat.
Suka.
Bahkan rasanya ia suka semua hal yang ada pada Jimin. Ia menyukai, lelaki itu.
Mungkin sudah berjalan selama satu atau dua tahun lamanya. Pertama bertemu di club malam, namun disana Yoongi sebagai pelanggan sementara Jimin sebagai seorang pole dancer sekaligus melayani nafsu para pria berkantong tebal.
Ia pun tahu Jimin bekerja seperti itu untuk menghidupi dirinya sendiri. Ia membuka matanya, menghargai lelaki itu, dan kini ingin memiliki Jimin sebagai miliknya seorang.
Tidak ada orang lain yang ia lihat selain Jimin.
“Kamu tumben diem aja.”
“Nothing, just... I love you.”
“Bercanda kamu gak lucu, Yoongi. Aku ini kotor, mana pantas sama kamu yang datang dari keluarga baik-baik. Kamu bakal malu kalau punya pasangan kayak aku.”
Yoongi semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Jimin. Semakin menghirup aroma itu dengan rakus seolah tak ingin kehilangan lelaki itu.
Bahkan ia disini mencintai dengan tulus, meski lelaki itu berulang kali membawa laki-laki lain ke dalam apartemennya. Sekali, saat ia berkunjung, baru ia langsung membatalkan niatnya ketika matanya menatap langsung Jimin yang mencium bibir orang asing itu dengan nafsu.
Bagi Jimin, dirinya hanya pelanggan. Bahkan ia rela jika Jimin hanya menganggapnya sebagai mesin pencetak uang semata. Asal Jimin membiarkannya mencintai lelaki itu dengan tulus, tak apa.
“Aku harus kerja lagi, kak. Kamu gapapa ya, kali ini sendirian?”
“Iya, I'm okay. Emangnya aku bayi yang terus dijagain sama kamu?”
Yoongi bangkit dari tidurnya. Duduk bersila menatap Jimin yang meraih satu persatu potong pakaiannya sebelum memakainya rapi.
Lelaki itu menyemprotkan parfum dengan aroma buah-buahan lembut guna menghilangkan aroma percintaan mereka sebelumnya. Bahkan Jimin seribu kali lebih harum daripada memakai pewangi sialan itu.
Dengan santainya Jimin mengambil tumpukan lembaran uang yang sudah Yoongi sediakan sedari awal disana. Seperti biasa. Bahkan lelaki itu sempat-sempatnya menoleh ke belakang, melambaikan tangan kecilnya kearah Yoongi disertai senyuman manis yang seharusnya hanya untuknya seorang.
“Aku cuma lihat kamu di mataku. Isn't that enough?”
Monolog Yoongi pada dirinya sendiri setelah mendengar pintu utama apartemennya terkunci, tanda jika lelaki itu telah pergi. Meninggalkan dirinya dan seonggok cinta yang seolah tidak ada arti lebihnya di mata lelaki itu.
Kembali ia sendiri, memegang teguh perasaan yang entah sampai kapan akan ia pertahankan. Menyedihkan.[]