Double Take [4]

Seperti janjinya pada Jimin pagi tadi. Membayar jasa laki-laki itu beberapa jam bukan untuk seks seperti biasa, namun hanya untuk berjalan santai mengelilingi jalanan malam sembari memakan jajanan pinggir jalan.

Sebetulnya bukan Yoongi sekali, karena biasanya ia lebih suka diam di satu tempat sembari berkencan. Bukan berjalan-jalan menghabiskan banyak tenaga seperti ini.

Bahkan kini ia hanya mengikuti pasrah tarikan Jimin pada tangannya, mengikuti langkah kaki Jimin entah kemana mereka dibawa.

Pada akhirnya setelah Jimin kelelahan dan lapar, mereka berhenti di depan salah satu stand odeng, tteokpokki, dan jajanan khas dari kue beras lainnya. Semua makanan yang mereka makan pada hari ini pun total Yoongi juga yang membayar.

Asal Jimin senang dan ia bisa melihat senyuman sang lelaki maka tak apa.

“Habis ini udah yayaya, aku capek.”

“Tadi kamu lho, yang ngajak muter-muter.”

“Habisnya aku cari pajeon tapi gak ada....”

Yoongi tertawa pelan mendengar keluhan si lelaki. Kembali dirinya terpaku, menatapi bibir kemerahan itu yang maju beberapa centi akibat kesal.

Manis.

Mungkin seperti ini nantinya jika Jimin menjadi pacarnya. Hanya tawa dan senyum yang mereka jumpai. Maka hidup seperti di surga lah yang akan ia rasakan.

Jari jemari Yoongi dibawa menghapus noda saus tteokpokki yang hinggap di sudut bibir si lelaki. Selalu, makan berantakan karena tengah semangat.

Jimin sekali.

“Makan itu pelan-pelan, kamu gak lagi dikejar deadline, lho.”

“Habis ini kan aku masih ada 'pelanggan', kak.”

Ah, iya. Suatu hal yang ia lupakan. Rupanya memang dirinya yang terlalu tenggelam dalam suasana hingga melupakan satu hal penting yang krusial.

Jika Jimin hanya menganggapnya pelanggan. Satu dari sekian pelanggan yang lelaki itu layani.

Setelah mereka menyelesaikan beberapa tusuk jajanan itu, Yoongi mengajak Jimin hanya berjalan santai menyusuri jalanan berbatu itu dengan santai. Ada hal yang ingin ia ungkapkan juga sebetulnya, lelah menahannya terlalu lama.

“Jimin.”

“Iya, kak?”

“Aku suka kamu, enggak, aku cinta kamu.”

Langkah kaki mereka terhenti. Kini mereka berdiri berhadapan, menatap mata satu sama lain, menghantarkan perasaan yang berbeda ke masing-masing insan.

Yoongi menatap tegas kearah Jimin, sementara tatapan mata sang lelaki terlihat panik dengan binar kebingungan yang tampak jelas hadir disana.

“Kamu bercan—”

“Enggak, aku gak pernah bercanda tentang perasaanku ke kamu, Jimin.”

“Kak Yoongi.... aku—aku gak bisa.”

“Apa? Masih tentang pekerjaan yang menurut kamu kotor, ini? Aku gak masalah, aku cuma mau kamu. Aku bisa kasih hidup yang lebih baik untuk kamu.”

“Kak—”

“Jimin, aku tahu aku pernah bilang kalau nantinya kita teman selamanya. Tapi, I don't see nobody but you. Di antara mural kota yang kita lewati waktu keluar, di antara gedung tinggi yang kita datangi sama-sama, aku cuma melihat kamu. Aku melihat kamu sebagai seseorang yang aku cintai.”

“Aku—”

Jimin menjeda ucapannya sejenak. Menarik napasnya yang terasa berat, sebelum tatapannya dipalingkan kearah lain, enggan untuk menatap balik Yoongi yang menagih jawabannya.

“Aku cuma anggap kamu sebagai pelangganku, Yoongi. Aku cuma mau uang dan kepuasan yang kamu berikan. Gak lebih dari itu, maaf.”

Yoongi membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, namun hilang begitu saja menguap di udara.

Kecewa? Bisa dibilang iya. Rasanya ia sudah berulang kali mengatakan kepada dirinya sendiri jika hanya itu yang Jimin inginkan darinya, tidak lebih dan tidak kurang.

Sakit.

Pria itu pun pergi begitu saja dari sana dengan emosi dan perasaan kecewa besar yang menghinggapi raga dan pikirannya. Pria itu meninggalkan Jimin sendiri disana dengan kepalanya yang masih menunduk menatap jalanan berbatu itu.

Setetes air mata jatuh membasahi bebatuan itu. Membuat aliran sungai kecil air mata mengaliri pipi cantik Jimin.

Tubuhnya bergetar pelan menahan isakan. Sendiri disana terpapar udara dingin tanpa ada Yoongi yang biasanya merangkulnya hangat atau bahkan meniupi telapak tangannya supaya terasa lebih hangat.

“Aku juga suka kamu kak, maaf.”

Ia sendiri pun tidak tahu bagaimana bisa dirinya melibatkan perasaan ke dalam pekerjaannya. Jika saja ia tidak memilih hal ini sebagai pekerjaan, maka ia akan bebas mencintai Yoongi apa adanya.

Ia juga ingin memiliki Yoongi, namun kontrak dari tempat kerjanya lah yang menghalangi. Mengekang dirinya untuk tidak memiliki perasaan khusus dengan para pelanggan. Kontrak yang mengikat yang sudah ia tanda tanganin tiga tahun lalu atas namanya sendiri.

Mungkin memang sejatinya mereka hanya dipertemukan untuk sementara, bukan untuk bersatu selamanya. Mungkin memang mereka hanya ditakdirkan untuk melihat dan saling mengagumi tanpa memiliki satu sama lain.[]