Cliche [208]
“Capek, ya?”
“Not at all. Memangnya, capek kenapa?” jawab Yoongi dengan cepat. Pria itu memandangi sosok laki-laki yang saat ini ada di depannya dengan tatapan penuh rasa bingung.
Bagaimana tidak? Jimin tiba-tiba saja memberikan pertanyaan apakah dirinya lelah atau tidak, tanpa menyertakan konteks perihal hal apa yang akan membuatnya lelah pada saat itu juga. Apakah kegiatan santai seperti ini seharusnya membuatnya lelah?
“Ya ... take video berulang kali karena kelihatan jelek di kamera, ngobrol secara terus menerus, semua hal yang jarang kamu lakukan di siaran kamu sendiri.” Jimin membalas tatapan si pria, memasang senyum tipis, lalu kembali fokus pada sepiring kue cokelat yang sudah tersaji di hadapannya. “Gak capek? Melakukan banyak hal baru, yang sebelumnya terbilang sangat jarang kamu lakukan.”
Yoongi terdiam. Memikirkan baik-baik, perihal jawaban seperti apa yang nantinya akan ia berikan kepada laki-laki itu. “Asal bersama kamu, I'm really okay. Karena kalau bersama kamu, semua jadi terasa menyenangkan.”
Pria itu pun tertawa singkat saat melihat wajah laki-laki di depannya ini berubah menjadi sedikit kemerahan. Lelaki itu malu, dan sungguh dirinya ini sangatlah mengerti. Namun, ia berusaha untuk diam dan tidak menghiraukan hal itu agar Jimin tidak semakin merasa malu ataupun merasa jika dirinya ini sedang mengejeknya.
Ya, menghormati perasaan Jimin adalah salah satu hal yang menjadi kewajibannya. Ia tidak ingin Jimin merasakan rasa tidak nyaman saat berada di sekitarnya. Ia tidak pernah menginginkan hal itu terjadi pada hubungan mereka saat ini.
“Habis ini kita mau ke—”
“Woah! Min Yoongi dan Park Jimin?!” Ketika suara teriakan itu terdengar lantang memasuki gendang telinga Yoongi dan Jimin, saat itu juga seluruh perhatian semua orang yang ada di kafe berpusat menatap ke arah dua sejoli yang tengah asik mengobrol itu dengan begitu cepat.
Jimin yang sedikit merasa tidak nyaman pun langsung menutupi wajahnya dengan buku menu, menghindari kilatan kamera dari beberapa orang yang mencoba mengambil foto mereka berdua.
Sumpah, Jimin benci dengan hal-hal seperti ini. Diganggu saat sedang bersantai dengan teman, diganggu saat sedang bersantai dengan koleganya, diganggu saat sedang melakukan rutinitas hariannya. Ia tahu, ia adalah salah satu public figure yang lumayan dikenal oleh banyak orang. Namun, hal inilah terkadang yang membuat dirinya memberi tahu teman-temannya untuk tidak memposting apa pun di media sosial selama mereka masih ada di tempat yang sama pada saat itu juga.
Jimin hanya takut, jika teman-teman terdekatnya merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Hanya itu yang ia takuti.
Namun, tampaknya saat ini rasa takut itu terasa sangat berbeda. Tidak seperti rasa takut yang biasa ia rasakan saat mengalami kejadian seperti ini. Semuanya tampak membingungkan hingga Jimin hanya bisa terdiam menatap kosong ke arah meja bundar yang ada di hadapannya.
Sebelum Jimin sempat memikirkan hal lain, tiba-tiba saja ia merasakan lengannya ditarik menjauh dari kerumunan oleh seseorang. Yang ia tahu hanyalah punggung lebar yang menutupi jarak pandangnya ke depan, tengkuk yang terlihat manis, serta wangi maskulin dari parfum yang sangat ia kenal. Yang ia tahu, Yoongi lah satu-satunya orang yang menariknya pergi terbebas dari kerumunan itu.
Dan satu hal lagi yang ia tahu dan mulai ia sadari, jika rasa takut yang ia rasakan adalah rasa takut kalau nantinya hubungannya dengan Yoongi mulai tercium oleh publik. Takut, jika nantinya semua orang mulai mengetahui hubungan mereka yang tidak bisa dibilang hanya berstatus sebagai teman biasa.[]