Cliche [107]

Suara tawa dan obrolan sehalus angin mengikuti seiring langkah kaki mereka yang berjalan berdampingan. Jimin yang tertawa karena candaan yang dilontarkan Yoongi, sementara yang lebih tua terus-terusan berbicara guna menemani malam yang terasa sepi itu.

Setelah mereka menyelesaikan acara makan malam kecil mereka di restoran bernuansa Jepang, Yoongi memutuskan untuk mengajak si influencer yang belum lama ia kenal itu untuk datang ke agensi tempat temannya bekerja.

Iya, Namjoon. Kim Namjoon si rapper kebanggaan Korea. Atau seseorang yang memiliki nama panggung sebagai RM.

Ya, bisa dibilang juga jika agensi itu juga merupakan tempatnya bekerja karena sering kali ia mengerjakan beberapa project bersama Namjoon dengan mengandalkan kepiawaiannya dalam hal bermusik. Hitung-hitung mengisi waktu luang jika dirinya sedang malas berada di depan kamera.

Jimin sendiri yang mempunyai seorang teman yang suka sekali dengan musik si rapper Namjoon pun turut bersemangat. Kapan lagi ia pamer kepada Hoseok dan Seokjin yang suka sekali menggodanya secara terus menerus?

“Wah, bigger than I thought before.”

“Awalnya aku juga begitu, bigger than I thought before. Padahal aku tahu betul agensi ini punya nama yang besar,” ucap Yoongi sembari tertawa pelan. Jarinya menekan tombol lift untuk membawa mereka naik ke lantai atas, tempat temannya bekerja.

Tentu ia sudah meminta izin terlebih dahulu kepada Namjoon. Yoongi tidak suka jika ruangannya dimasuki sembarang oleh orang lain, maka berlaku juga untuk orang lain yang ingin ia kunjungi.

Beberapa saat setelah mereka keluar dari lift pun mata mereka langsung dipertemukan oleh sosok lelaki tinggi dengan hoodie hijau tua dan rambut hitam yang dipotong pendek. Namjoon duduk di sofa depan studionya sembari memainkan ponselnya dengan tenang.

Mungkin menunggu mereka? Entahlah.

“Joon,” panggil Yoongi hingga membuat pria itu menoleh.

Sempat Jimin merasa terpesona saat Namjoon menunjukkan dimplenya yang begitu dalam seperti Palung Mariana. Apalagi melihat senyum teduhnya yang begitu menenangkan jiwa.

Sekarang ia mengerti kenapa banyak orang yang menyukai dan mendukung Namjoon. Selain karena musiknya yang memang jenius, pria itu juga memiliki paras yang begitu rupawan dan memanjakan mata.

Menakjubkan. Sosok kharisma seorang artis sungguh tertanam jauh pada diri pria bermarga Kim itu.

“Kim Namjoon. Kamu Park Jimin 'kan?” Namjoon mengulurkan tangannya ke depan Jimin sembari tetap memasang senyum ramahnya. Sontak tawa pelan keluar begitu lembut saat mendapati tangan Jimin begitu bergetar saat menyapa tangannya yang terulur.

Sial. Pria ini begitu menakjubkan hingga pesonanya membuat jantung Jimin berdegup cepat.[]