CLBK Kost [83]

Yoongi menuntun motornya dibawa keluar gerbang. Dengan sabar menunggu Jimin yang sedang bersiap untuk ke kampus.

Memang terkadang ia harus bersabar sedikit lama karena Jimin yang begitu memperhatikan kesesuaian pakaian yang ia pakai. Ia pun paham betul jika Jimin adalah seseorang yang perfeksionis.

Pria itu duduk dengan tenang di bagian depan motor. Bahkan sesekali memeriksa penampilannya apakah sudah cukup rapi atau belum. Tentu ia ingin terlihat dalam penampilan terbaiknya di depan Jimin. Jika Jimin indah, maka dirinya akan berusaha mensejajarkan dirinya sendiri dengan lelaki itu.

Ya, biarlah jika orang-orang mengatainya dengan kata 'bucin'. Karena memang sebenarnya rasa sayang yang ia pupuk sedari dulu belum hilang meski ditelan waktu.

“Ayo Gi.”

“Helm udah?”

“Udah ih.”

Jimin naik keatas motor yang sudah terdapat Yoongi diatasnya sembari menepuk pelan bahu pria itu. Turut protes karena masih mengungkit-ungkit kejadian memalukan beberapa minggu yang lalu.

Setelah Jimin terlihat sudah nyaman dengan posisi duduknya, pria itu langsung menancapkan kunci dan menyalakan mesin motor itu.

Sontak dirinya heran karena mesin motor tak kunjung menyala. Padahal sudah beberapa kali ia melakukan hal yang sama.

“Kenapa Gi?”

“Gak tau ini gak mau nyala. Coba lo turun dulu deh.”

Jimin turun dari sana. Sementara Yoongi men-stater manual motor itu beberapa kali.

Tetap tidak menyala.

“Bensin lo habis kali Gi?”

“Bensin? Lah iya gue belum isi bensin. Duh tolol.”

“Terus gimana?”

“Di depan ada—”

Sebelum Yoongi sempat menyelesaikan ucapannya, gerbang kost-an terbuka. Memperlihatkan Brian disana keluar sembari menuntun motor sport merahnya yang sudah menyala.

Sontak pria itu tersenyum dan menyapa kedua insan yang tengah berdiri kebingungan.

Ah, kenapa disaat-saat seperti ini kompetitor selalu bermunculan? Tanpa sadar Yoongi pun menatap kearah lain, berdecak pelan ketika melihat Jimin membalas sapaan itu dengan hangat.

“Kenapa nih?”

“Oh ini bang, motor Yoon—Bang Yoongi bensinnya habis.”

“Kampus lo dimana emang?”

Jimin menjawab nama kampusnya dengan senyuman. Sementara Yoongi disana hanya bersikap tak acuh sembari tetap memperhatikan interaksi antara Jimin dan Brian.

Ini tidak bagus. Yoongi tahu.

“Lho, kampus gue dong? Sini nebeng gue aja, daripada lo kesana naik ojol.”

“Eh? Boleh nih?”

“Ya boleh lah, nih helm-nya.”

Jimin melepas helm milik Yoongi dengan ragu. Beberapa kali matanya terarah pada pria itu yang duduk diatas motornya dengan wajah datar.

Setelah beberapa saat baru Jimin mengiyakan ajakan yang Brian tawarkan. Lelaki itu duduk di bagian belakang motor sport merah milik si pria, meninggalkan Yoongi yang terdiam disana. Bahkan Yoongi enggan untuk menatap balik Jimin yang melambaikan tangan kearahnya.

“Bangsat lo.”[]