CLBK Kost [109]
Jam dua pagi Yoongi pulang ke kost-an dengan keadaan berantakan. Bau rokok yang pekat menguar dari bajunya, entah sudah habis berapa batang yang dibakar oleh pria itu.
Yoongi meneliti keadaan sekitar kost yang sudah gelap, hanya lampu beberapa kamar yang menyala, mungkin kamar Yeonjun entahlah. Begitu juga dengan kamar Jimin yang berada lurus pada pandangannya. Aneh, sudah jam dua pagi namun lelaki itu sama sekali tidak ada tanda-tanda untuk menuju ke alam mimpi.
Matanya bergulir pada sosok Brian yang baru saja memarkirkan motornya rapi, sejajar dengan motor maticnya. Ah, rupanya mereka baru saja pulang.
Jam dua pagi?
Sontak amarah kembali menguasai dirinya. Tungkai kakinya yang terbalut jeans hitam dipacu cepat, sedikit berlari kearah Brian. Dahinya mengerut tajam, matanya menyipit kesal dengan amarah terpatri jelas di matanya.
“Lo baru pulang?”
“Eh? Yoongi lo kemana aja? Jimin nyariin tuh.”
“Gak usah basa-basi, gue gak suka lo deket-deket sama Jimin. He's fuckin' mine.”
Menanggapi nada bicara Yoongi yang terdengar marah, Brian hanya tertawa pelan sembari melempar kunci motornya ke atas meja.
“Ya ampun Gi, lo kayak bocah lima tahun yang diambil mainannya. Kalau ternyata gue udah jadian sama Jimin gimana?”
Emosi pria pucat itu semakin kuat terasa. Berbanding terbalik dengan Brian yang berdiri santai dengan mimik jenakanya.
Yoongi melangkah satu langkah lebih dekat dengan Brian. Tak segan pria itu menarik bagian depan kaus yang dipakai Brian, menatap tajam dengan nafas mendengus panas yang keluar dari hidungnya.
“Gue gak mau diajak main-main sama lo, Bri. Gue serius.”
”... Serius apa sih? Cemburu lo kayak anak kec—”
Pukulan telak jatuh pada sisi kanan rahang Brian, membuat pria itu tersungkur ke belakang. Yoongi pun tidak berhenti di sana, malah semakin liar dengan berusaha menduduki perut teman sejawatnya itu guna menahan segala pergerakan perlawanan dari Brian.
Belum sempat ia kembali melayangkan pukulannya ke rahang kiri pria itu, seseorang menahan kepalan tangannya di belakang. Refleks ia langsung ingin menarik tangannya sebelum mendengar suara familiar yang memasuki indra pendengarannya.
“Lo sinting, ya? Lo bau alkohol, Gi. Mending lo berantem sama gue yang sabuk item taekwondo.”
Jimin di sana berusaha menarik tubuh Yoongi yang sedikit lebih besar dari tubuhnya itu sekuat tenaga. Tidak mudah karena Yoongi memang cukup keras kepala, apalagi dengan pengaruh alkohol yang entah berapa teguk sudah masuk ke dalam tubuh pria itu.
“Bang Brian ayo gue bantuin obatin luka lo.”
Lelaki itu membopong tubuh Brian yang masih shock akan kerasnya pukulan Yoongi setelah ia membawa mantan kekasihnya itu duduk di kursi ruang tengah.
Kembali ia menolehkan kepalanya ke arah seseorang yang masih memenuhi pikiran dan hatinya itu dengan raut kecewa.
“Lain kali, kalo mau ribut jangan di sini. Kalau lo cemburu bilang baik-baik, jangan asal jotos anak orang. Mental lo emangnya mental preman, ya?”
Telak sudah kalimat Jimin menusuk hati Yoongi. Pria itu perlahan mulai sadar dari efek alkohol yang menelan dirinya.
Sontak rasa penuh sesal memasuki pikirannya sembari menatap punggung Jimin yang berjalan menjauh darinya. Bahkan kini tembok dingin yang nampak kokoh seolah terbangun di antara dirinya dan Jimin. Berusaha kembali menyadarkannya akan kesalahan yang sangat fatal berujung kekecewaan yang ia hadirkan untuk Jimin.[]