Blind to You — [Yoonmin Oneshot]

Siang hari yang sendu dengan gumpalan awan gelap yang menghiasi langit. Kanvas biru itu semakin berubah warnanya dengan semakin lamanya waktu yang ia tempuh di jalan.

Mobil itu melaju dengan kecepatan normal di bawah lima puluh kilometer per jam, tetap menaati peraturan lalu lintas sebisa mungkin. Saking lamanya berada di perjalanan, hari sudah menjadi sedikit gelap menampilkan warna jingga yang muncul secara perlahan.

Yoongi memberhentikan mobilnya di suatu toko bunga yang rutin ia kunjungi selama dua bulan sekali. Di tanggal sembilan setiap bulannya. Bahkan saking seringnya ia berkunjung ke toko itu, sudah kenal dibuatnya si florist yang selalu siap membuat rangkaian bunga yang ia pesan.

Selalu bunga krisan putih, berjumlah tepat tiga belas tangkai. Bahkan selalu diikat menggunakan pita kuning terang yang sangat khas.

Pria itu kembali masuk ke dalam mobilnya sebelum meletakkan bunga yang sudah ia beli itu di bangku samping pengemudi. Matanya menatap rindu sebelum kembali melanjutkan perjalanannya tanpa iringan musik guna menemani hari yang sepi.

Padahal biasanya selalu ada canda tawa yang hadir di sana.

Yoongi memarkirkan mobilnya dengan rapi saat sudah tiba di tempat tujuan. Ia membawa sekaligus rangkaian bunga yang tadi ia beli keluar dari mobil.

Jas hitamnya dikancing, kembali merapikan penampilannya untuk menemui kasihnya di sana. Setidaknya ia harus tampil dalam keadaan rapi, kan?

Kaki dengan alas sepatu pantofel itu dilangkahkan menyentuh tanah, berjalan dengan langkah pelan melewati beberapa makam dengan nama di setiap batu nisannya. Ia berhenti di depan sebuah makam dengan nama kasihnya tertulis di sana. Terbaring nyenyak dalam tidurnya yang abadi.

Yoongi berlutut di sampingnya, mengelus makam itu dengan tangan gemetar dan senyum sendu yang sangat kentara akan kesedihan di wajahnya.

“Halo, Jimin. Aku balik lagi ke sini. Kamu kesepian gak di sana? Aku bawa bunga krisan putih, pitanya warna kuning lho, kesukaan kamu. Jumlahnya sesuai sama tanggal kamu lahir ke dunia.”

Yoongi mengusap rumput pendek yang tumbuh di sana dengan suburnya. Ia meletakkan rangkaian bunga itu di atas makam kasihnya dengan perlahan, berusaha agar tidak berantakan karena ulahnya.

Karena cukup dengan dirinya yang membuat hidup Jimin berantakan saat dulu.

“It's too late to say how I feel you now.”

Kembali dirinya berandai jika saja di hari itu ia dapat mendengar kata terakhir yang Jimin perjuangkan di akhir hidupnya saat melawan kanker ganas. Andai saja di hari itu mereka masih bersama. Andai saja beberapa bulan yang lalu sebelum kejadian itu dirinya tidak menyelingkuhi lelaki itu.

Sehabis sepeninggal Jimin, dirinya benar-benar berubah. Hampir tidak pernah menyentuh yang namanya rokok, alkohol apalagi. Dirinya berubah menjadi lebih baik meski kini lelaki itu tidak berada di sisinya untuk menjadi saksi dari keberhasilannya.

“Ji, sayang, you still stay in my heart. Even though I know it's over.”

Air mata pria itu perlahan turun membasahi wajahnya. Menetes dengan lancar mengenai tanah di bawahnya.

Sudah terlambat untuk menyesali, kini hanya rasa sakit dan rasa penyesalan yang memenuhi rongga dadanya. Sesak yang dirasa saat dirinya mengingat kembali momennya dengan lelaki itu.

“Aku setiap malam berjanji sama bulan, sayang. Kalau nantinya kita bertemu di dunia paralel atau di kehidupan selanjutnya, I'll treat you better with all my love.”

Terakhir setelah puas menangisi kasihnya, Yoongi berdoa sejenak guna mendoakan agar kasihnya tenang di sana. Setidaknya ia sudah berjanji.

Setelahnya pun ia bangkit dari posisinya semula. Badannya berdiri tegap dengan air mata yang beberapa kali turun dari wajahnya dan segera beranjak dari sana.

Ia harap, semesta mengabulkan permintaannya. Entah itu di dunia paralel, atau di kehidupan selanjutnya. Karena yang ia lihat hanya Jimin, dan ia butuh lelaki itu sebagai pelengkap hidupnya.[]