Blind to You — [Extra Ending]

Aroma kopi yang khas menguar dari dalam cafe itu. Hiasan natal memenuhi seisi toko itu ikut meramaikan hari yang dirayakan setahun sekali di tengah musim dingin.

Yoongi mengeringkan cangkir kopi kecil yang baru saja ia cuci untuk digunakan kembali. Tumben sekali dirinya terlihat lebih santai dari biasanya, toko tidak seramai pada hari-hari sebelumnya. Bahkan pelanggan yang masuk ke dalam cafe itu bisa dihitung dengan jari.

Suara kerincing bel di pintu masuk dan sapuan angin dingin yang menerpa wajahnya menandakan jika ada seorang pelanggan yang masuk ke dalam. Yoongi pun dengan senang hati memasang senyum terbaiknya guna menyambut pelanggan yang baru datang tersebut.

Jantungnya seketika seperti berhenti berdetak, turut familiar dengan wajah yang kini ada di hadapannya. Menyisakan rasa penuh kerinduan yang sangar kentara di dalam hatinya.

Entah karena di kehidupan sebelumnya mereka pernah dipertemukan, atau sebenarnya mereka saling kenal di dunia paralel yang lain. Yang pasti, ia merasakan rasa rindu itu semakin kuat menghantam dadanya.

Vanila Latte satu, ya? Oh dan apakah aku bisa dapat dua buah kue jahe itu juga?”

Yoongi mengangguk kaku. Jarinya beralih menekan beberapa tombol pada mesin kasir sembari tetap mencuri pandang pada lelaki itu. Lelaki dengan bibir tebal kemerahan yang terlihat cantik, tubuhnya yang kecil berada dalam balutan padding cokelat muda yang panjang, serta rambut keemasannya yang cantik.

Entah kenapa, menimbulkan rasa nostalgia pada dirinya sendiri.

Yoongi menyiapkan pesanan lelaki itu dengan segera, berusaha tetap fokus meski kini lelaki itu sedikit mengambil perhatiannya.

Satu cup vanila latte dan dua buah kue jahe itu tersaji dengan cepat di meja pick up. Belum sempat ia membunyikan bel yang menandakan pesanan telah siap, lelaki itu terlebih dahulu berjalan menuju meja pick up guna mengambil pesanannya.

Ah sial, saking tenggelamnya bahkan ia lupa untuk menanyai nama lelaki itu seperti pelanggan lainnya.

Dengan spontan, ia keluar dari counternya guna menyusul lelaki yang belum terlalu jauh berjalan keluar cafe dengan sedikit berlari. Mengabaikan jika udara di luar berada di bawah dua puluh derajat dinginnya sementara dirinya di sini hanya menggunakan kaus tipis berlengan panjang yang biasa ia gunakan untuk bekerja.

Semuanya untuk menuntaskan rasa mengganjal yang hadir di dalam perasaannya.

“Hei, permisi.”

Berhasil, lelaki itu menghentikan langkahnya sebelum memutar tubuhnya dan menoleh kearah Yoongi dengan raut kebingungan.

Yoongi menarik nafasnya sejenak, berusaha kembali menetralkan nafasnya yang menjadi cepat karena berlari.

“Maaf, tapi boleh saya tahu nama kamu?”

Lelaki itu tersenyum. Matanya menyipit lucu dengan sudut bibirnya yang tertarik membentuk senyuman lembut yang indah.

“Jimin, namaku Park Jimin.”[]