Belum Siap Kehilangan – [Yoonmin Oneshot AU]

Suasana ramai memasuki indra pendengarannya ketika memasuki salah satu bar ternama di Seoul itu. Jika bukan karena dibayari dan diundang oleh panitia reuni sekolahnya saat menengah atas, tentu dirinya tidak akan datang kesini.

Yoongi menyapa beberapa orang yang ia kenal saat di klub basket, sebelum duduk tepat di samping teman yang dulu dekat dengannya ketika kelas dua belas.

Pria yang berusia di tengah umur dua puluhan itu duduk disana, meraih gelas birnya sembari mencoba mengikuti obrolan yang teman-temannya bicarakan meskipun dirinya tidak mengerti sepenuhnya. Dirinya disana hanya mencoba membaur hingga saat salah satu temannya menyinggung tentang cinta pertama saat masa SMA memasuki telinganya.

Cinta pertama, ya?

“Yoongi lo dulu deket banget sama Jimin, ya? Gue penasaran banget sekarang sama cewek yang mana dia. Dia dateng gak sih?”

“Jimin gue undang kok, gak tau dateng apa nggak.”

Jantung Yoongi serasa berhenti ketika mendengar nama indah itu. Cinta pertama, sekaligus kekasih pertamanya.

Tidak ada yang tahu jika dulu mereka berpacaran, hanya untuk menghindari stigma sosial yang kebanyakan kontra dengan hubungan sesama jenis.

Lima tahun mereka menjalin hubungan, dan terhitung juga sudah sewindu mereka tidak bertemu. Rasa rindu pastilah ada. Bahkan dirinya tanpa sadar selalu mencari-cari keberadaan lelaki yang ia cintai hingga saat ini. Berniat mengembalikan kembali cinta mereka seperti dulu.

Lima tahun yang terasa sebentar. Ia ingin mengetahui kenapa dulu Jimin memutuskan dirinya secara sepihak dari panggilan telepon.

Bolehkah ia berharap bisa bertemu kembali dengan lelaki itu sekarang?

Saat itu seseorang masuk ke dalam bar yang menjadi tempat diadakannya acara mereka, ditandai dengan bunyi kerincing kecil yang menjadi penandanya. Sontak Yoongi seketika menolehkan kepalanya, menatap kearah pintu masuk.

Nafasnya berhenti, jantungnya berdegup dengan cepat. Manik matanya melebar ketika melihat wajah rupawan yang dulu mengisi hari-harinya itu. Bahkan senyumannya masih sama seperti dulu.

“Jimin!”

Salah satu teman di meja Yoongi memanggil lelaki itu untuk mendekat. Sejenak mata mereka bertatapan, kembali memori hangat yang lampau terputar indah di kepala Yoongi.

Kini lelaki yang terlihat matang itu duduk tepat di depannya. Dengan setelan jas rapi, rambut yang ditata membelah tengah menunjukkan bangga dahinya yang bersih dan mulus.

Jimin berubah banyak, namun cintanya kepada Jimin tidak pernah berubah setitik pun.

Hatinya sakit ketika laki-laki itu sama sekali menolak untuk menatapnya. Bahkan menyapa pun tidak, seolah cerita mereka tidak pernah tertulis di buku takdir.

“Jimin, hai, apa kabar?”

”... Baik,”

Jawab laki-laki itu sesingkat mungkin membalas sapaan hangat Yoongi. Bahkan senyumnya masih saja manis walau hanya senyum tipis. Hanya mendengar suara lelaki itu saja bahkan sudah membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan. Suara hangat yang sudah sewindu lamanya tidak ia dengar.

Memang rasa itu masih tertanam kokoh di hatinya.

Beberapa menit berlalu dengan Yoongi yang masih saja fokus menatapi sisi samping Jimin. Tidak turut ikut dalam percakapan grup kecil mereka meski hanya sesekali membalas pertanyaan teman-temannya hanya dengan anggukan kecil atau hanya sekadar gelengan singkat.

Beberapa tahun telah berlalu namun sampai sekarang dirinya tidak bisa melepaskan pandangan dari sang cinta pertama.

Belum ada satu jam lamanya mereka berbincang dan tertawa bersama, Yoongi dibuat panik dengan Jimin yang tiba-tiba saja mengatakan jika harus kembali lebih dulu. Bahkan laki-laki itu sudah bersiap merapikan barangnya untuk keluar dari bar, menuntaskan kehadirannya di acara reuni itu.

Sontak, Yoongi yang panik itu segera berlari keluar bar, menyusul cintanya untuk membicarakan semuanya. Ia hanya ingin tahu alasan Jimin. Meskipun nantinya alasan itu akan menyakiti dirinya sendiri. Setidaknya sebuah kejelasan akan semua pertanyaannya terjawab semua hari ini.

“Jimin, aku mau ngomong.”

Berkali-kali Yoongi berusaha meraih tangan Jimin meskipun sempat beberapa kali ditepis kasar oleh lelaki itu. Hingga akhirnya dirinya berhasil memberhentikan langkahnya, sebelum berdiri di depan mantannya itu dengan nafas yang tidak beraturan.

“Yoongi, cerita kita udah selesai.”

“Aku yang belum siap kehilangan kamu, sampai-sampai aku gak mau anggap cerita kita selesai begitu aja, Jimin.”

Jimin menunduk menatap kearah jalanan berbatu di bawahnya. Enggan untuk menatap balik seseorang yang pernah mengisi buku hidupnya.

“Semuanya rancu, Jimin. Kamu gak pernah bilang kenapa kamu mutusin aku secara sepihak.”

“Bukannya udah jelas? Kita gak bisa sama-sama, Yoongi. Kamu cowok, dan aku pun juga. We have the same sex.”

”... Lalu untuk apa kamu dulu pacaran sama aku?”

“Aku gak bohong kalau dulu aku sempat suka sama kamu. Tapi, mama mau cucu dari aku, Yoongi. Karena kak Jihan mandul.”

Genggaman Yoongi pada lengan Jimin terlepas. Tangannya terjatuh begitu saja di sisi tubuhnya yang berdiri kaku.

Matanya menatap sendu kearah lelaki yang merupakan cinta pertamanya itu dengan kosong.

“Kak Jihan mandul, dan mama mau cucu. Aku gak bisa dapat itu kalau aku sama kamu, Yoongi.”

“Adopsi, kita bisa adopsi, Jimin.”

“Mama yang gak mau, Yoongi. Maaf, karena aku gak pernah cerita ini ke kamu. Maaf, udah buat kamu nunggu selama delapan tahun lamanya demi sesuatu yang gak jelas. Aku minta maaf, karena gak bisa berakhir sama kamu.”

Jimin menyodorkan potongan kertas yang membentuk persegi panjang yang bertema hitam dan putih itu kepada Yoongi.

Undangan pernikahan, tepat seperti yang Yoongi rencanakan bersama Jimin sejak dulu. Bukan kebohongan semata karena memang benar terukir nama mantan kekasih hatinya itu diatas potongan kertas yang sialnya nampak indah jika saja tertulis namanya juga sebagai pendampingnya di altar nanti.

“Lupain aku, Yoongi. Kita udah gak bisa sama-sama lanjutin buku cerita kita. Udah saatnya, aku sama kamu mengukir tulisan 'The End' di akhir buku ceritanya.”

Telinga Yoongi berdengung. Tangannya gemetar sementara matanya tetap membaca berulang kali nama yang tertulis indah di undangan pernikahan itu dengan tatapan tidak percaya.

Terlalu tidak sanggup jika nantinya ia harus berpisah jauh dengan Jimin, karena lelaki itu masih ada disana, merajai tempat spesial di dalam lubuk hatinya.

“Kamu bahagia ya, Yoongi, meski bukan sama aku.”

Lelaki itu kembali melangkahkan kakinya menjauhi Yoongi yang masih terpaku disana. Yoongi pun mengangkat pandangannya, menatap lurus kearah punggung tegap sang cinta pertama yang perlahan menghilang dalam pandangannya.

Perlahan hujan turun membasahi tubuhnya, sekaligus menyembunyikan tangisnya dalam air yang berjatuhan itu.

Menangisi cinta pertama yang pergi karena dipisahkan oleh semesta. Menangisi dirinya yang terlihat menyedihkan di bawah rintik hujan. Sekaligus menangisi kepergian Jimin dari hidupnya.

Karena sejujurnya, ia belum siap kehilangan lelaki itu.[]