Alamat Palsu – [4]
Laju motor itu semakin melambat dikarenakan Jimin sendiri yang meminta sang pengemudi ojek online itu untuk memelankan laju motornya. Matanya dengan tajam meneliti berbagai sisi dari komplek perumahan yang bisa dibilang elit itu dengan cermat.
Sungguh bukan main perjuangannya guna mencari sang kekasih yang telah lama putus kontak dengannya. Lama tidak berhubungan dipisahkan oleh keadaan.
“Pak, ini kemana, ya?”
“Lho, saya juga gak tau mas. Masnya sendiri belum pernah kesini toh?”
“Nggak pak, ini pertama saya ke Jakarta. Saya ke sini cari pacar saya yang sudah lama gak ada kabar, pak.”
Lho malah curhat. Yah, nasib juga tidak ada teman untuk cerita. Sementara dirinya di sini harus tegar mencari alamat sang kekasih yang entah di mana.
Rumah di komplek memang seperti ini, ya? Tampak depannya sama semua, heran. Rasanya alamat yang diberikan oleh teman kekasihnya itu sudah benar daerah sini.
Karena dirinya tidak ingin menyusahkan sang bapak-bapak ojek online, Jimin turun dari motornya, memilih untuk berjalan kaki mencari sendiri alamat yang ia tuju.
Daripada menyusahkan dua orang, lebih baik dirinya sendiri yang menanggung semuanya.
Dengan pasrah, Jimin mengucap terima kasih dan baru setelahnya membayar tarif yang tertera pada aplikasi itu.
Tungkainya lanjut di bawa berjalan tetap berpikiran positif menemukan alamat sang kekasih yang hilang seperti di telan bumi. Mata bulatnya membaca nomor rumah yang ada menempel pada tembok rumah-rumah itu, berusaha menyocokkan dengan alamat yang diberikan oleh teman kekasihnya.
“Dua puluh... satu? Lho ini rumahnya toh, udah dekat ternyata.”
Dengan bangganya Jimin mengetuk pintu berwarna hitam legam itu secara perlahan. Berulang kali mengetuk berharap ada jawaban dari dalam sana.
Raut sumringahnya terpampang jelas saat dengan perlahan pintu itu terbuka, memamerkan seorang pria di tengah umur dua puluhan yang tampak baru saja bangun tidur. Bisa dilihat dari rambutnya yang acak-acakan, serta matanya yang mengerjap berulang kali berusaha memroses kejadian aneh itu.
“Kak Jae— lho?”
“Siapa Jae? Gue—hoahm.. Min Yoongi.”
Mata mereka bertatapan, sama-sama bingung dengan apa yang terjadi.
Tidak, maksudnya, penglihatan Jimin masih normal meskipun minus. Jadi ia tahu jika pria ini bukanlah orang yang ia cari, jelas bukan kekasihnya.
Namun...
“Kok gantengan kamu daripada pacarku? Kamu aja yang jadi pacarku, yuk?”
“Hah?”[]