Akhir Tak Bahagia [6]

Yoongi menertawakan dirinya sendiri yang masih terjebak dengan ingatan beberapa tahun yang lalu itu. Ingatan yang memang sulit untuk dilupakan.

Benci. Namun rasanya sayang jika ingatan indah itu dihapus begitu saja.

Ia ingat sekali, sejak pertemuan itu, Jimin tiba-tiba saja menghilang. Lelaki itu menghilang setelah memasuki enam bulan pertemuan mereka, enam bulan juga Yoongi mencintai lelaki itu dalam diam.

Ingin menjenguk ibu dari lelaki itu pun sudah tidak bisa karena tiba-tiba saja kamar inapnya kosong. Semua kontaknya di blokir bahkan hingga sosial medianya. Entah kesalahan apa yang ia perbuat pada lelaki itu.

Bulan-bulan setelahnya pun menjadi bulan yang berat baginya. Ibunya yang sudah tiada, dirinya yang menganggur lama, hingga Jimin yang pergi meninggalkan dirinya tanpa alasan dan kabar.

Ingin mati namun tak bisa.

Beruntung dirinya ada pikiran untuk kembali bangkit. Maka dimulailah seorang Yoongi yang sibuk memotret sana sini. Beruntung dirinya masih bisa bertahan hingga saat ini.

“Pak, sudah sampai.”

Supir taksi itu memanggil Yoongi, menyebutkan jika taksi yang ia tumpangi sudah sampai ke tujuan.

Setelah melakukan pembayaran, ia segera keluar dari taksi itu. Sepatunya menginjak aspal basah sehabis hujan untuk pertama kalinya di hari itu. Diam-diam ia menghirup aroma hujan yang sangat ia cintai.

Setidaknya dunia masih berbaik hati padanya.

Ia menatap gedung tempat berlangsungnya acara pernikahan itu lamat-lamat. Gedung berwarna putih yang terlihat megah. Tipikal orang kaya sekali.

Yoongi berjalan masuk sembari mengatur kameranya. Beberapa kali sikutnya menyenggol orang lain, tidak peduli juga sih. Yang pasti ia lanjut berjalan sembari tetap fokus kepada kameranya.

Pesta itu meriah, termasuk berisik bagi Yoongi. Selama ia hidup dirinya hanya pernah menghadiri dua pernikahan temannya. Selebihnya ia malas. Oh, itu jika tidak dihitung oleh sesi pemotretan di acara pernikahan seperti ini. Meskipun jarang ia dapatkan.

“Yoongi?”

Telinganya berdengung pelan mendengar suara yang cukup kencang memanggil namanya itu dari jarak yang dekat. Kepalanya mendongak, mencari asal suara yang ia rindukan.

Tentu ia hapal. Suara cinta pertamanya, Park Jimin.

“Jadi kamu yang akan memotret pernikahanku, ya?”

Hah? Entah Yoongi yang salah dengar atau memang benar kalimat itu yang terucap. Dirinya kembali menatap Jimin yang sedang bersama seorang wanita cantik yang mengenakan gaun pernikahan.

Sekali lagi, ia benci dunia setelah sekian lama. Padahal rasanya baru saja ia memuji semesta. Namun, dirinya kembali dijatuhkan sejatuh-jatuhnya.

Setelah menghela napas pelan, Yoongi mengangguk sembari memasang senyuman palsu. Meminta izin untuk melaksanakan pekerjaannya, yang berarti harus memotret cintanya dengan orang lain.

Dua jam penuh ia mengambil gambar. Dua jam penuh juga ia menahan rasa sakit di hatinya.

Siapa juga dirimu Yoongi, yang berharap kepada seorang lelaki keturunan dewa dan dewi Yunani yang sangat indah. Rasanya sangat tidak pantas jika dirinya disandingkan dengan Jimin.

Setelah pekerjaannya selesai ia segera undur diri. Beruntung Jimin hanya memintanya mengirimkan foto-foto itu melalui email, ia terlalu tidak sanggup untuk mencetaknya. Dengan langkah pelan ia keluar dari gedung acara, kembali menatap langit malam bertabur bintang yang tampak indah seperti malam itu.

Kembali Yoongi teringat ketika dirinya dan Jimin bertukar cerita di atap rumah sakit. Menangis bersama serta tertawa bersama. Memori indah yang rasanya tak akan pernah bisa Yoongi hilangkan dari pikirannya.

Memori dengan cinta pertama yang kandas setelah tiga tahun lamanya ia mencintai lelaki itu. Kandas dengan sangat tragis, tanpa ia tahu akan menjadi seperti ini.

“Yoongi!”

Yoongi menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya kearah seseorang yang memanggil namanya dengan suara cerah. Bahkan bisa ia bayangkan senyum yang sama seperti senyum beberapa tahun lalu terpatri di wajah lelaki itu.

“Ya?”

“Terima kasih ya, untuk hari ini. Istriku sangat suka dengan hasil fotomu.”

“Ya? Terima kasih kembali.”

Yoongi tersenyum singkat. Hatinya mencelos ketika kembali mendengar kata 'istri' terucap dari bibir indah lelaki itu.

Sebelum ia memutar tubuhnya untuk kembali berjalan pulang, Jimin menahan tangannya. Perlahan Jimin menyelipkan sebuah tas karton yang berukuran lumayan besar. Entah isinya apa, namun cukup berat.

“Ini... apa?”

“Kamera, untukmu.”

“Jiminie- Jimin, aku tidak perlu ini. Aku sudah punya kamera sendiri. Lagipula, kapan kamu menyiapkannya?”

Sial. Bahkan ia masih ingat panggilan favorit si pujaan hati. Panggilan manis yang sulit untuk ia lupakan.

“Terima saja. Ini aku beli beberapa jam yang lalu, hehe.”

“Oke. Terima kasih.”

Jimin dan hatinya yang baik. Seorang lelaki yang penuh kejutan.

Kedua insan itu terdiam, berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Entah karena apa, yang jelas Yoongi diam karena dirinya yang mencoba untuk menetralkan detak jantungnya yang menggila.

“Aku suka kamu, Yoongi.”

Yang lebih tua mengangkat kepalanya terkejut. Menatap Jimin yang berdiri di depannya dengan wajah sendu yang sangat kentara. Terkejut? Tentu, hal itu merupakan fakta baru yang ia dapat dari Jimin.

“Aku suka kamu, sejak dulu. Tapi, papa gak mau aku suka sama pria. Jadi, ibu dipindahkan ke rumah sakit di Busan aku pun ikut pindah. Aku-”

“Aku juga suka sama kamu, Jimin.”

Gantian pria itu yang berucap. Mengucapkan sebuah kalimat yang sangat ingin ia ucapkan sejak dulu. Seandainya, jika ia mengucapkan itu lebih cepat, apakah dirinya bisa bersama dengan Jimin berdiri di altar sembari memasangkan cincin di jari manis lelaki itu?

“Aku suka sama kamu, tidak, aku cinta sama kamu. Maaf aku terlambat.”

Jimin beringsut ke dalam pelukan Yoongi. Menghirup wewangian yang tidak pernah berubah sejak dulu. Aroma yang paling ia sukai.

“Aku lelah Yoongi.... Ibu sudah engga ada, papa pun pergi sama wanita lain, aku sendirian disini.”

Yoongi bisa mendengar ucapan Jimin yang dibarengi isakan pelan yang dikeluarkan lelaki itu. Bahkan kemeja putihnya terasa basah menembus hingga ke kulit. Sementara yang ia bisa lakukan hanyalah menepuk punggung lelaki yang ia cintai sembari memeluknya erat. Menenangkan cintanya sembari mengucapkan kata-kata manis menyejukkan hati.

“Sudah, kembali pada istrimu. Pasti dia panik kamu hilang dari sisinya.”

“Yoongi, maaf.”

“Tak apa, maafkan aku juga ya. Semoga kamu bahagia.”

Yoongi mengusap pipi yang basah itu untuk terakhir kalinya. Menghirup aroma jeruk si pujaan hati untuk terakhir kalinya. Dan menatap punggung sempit lelaki yang ia cintai pergi menjauh untuk menemui masa depannya.

Semesta itu baik. Kalau ekspektasi kita hancur, mungkin memang salah kita yang terlalu berharap lebih kepada dunia. Mungkin semesta punya cara lain untuk bisa membuat kita bahagia. Dan itulah yang Yoongi percaya hingga saat ini.

Dipertemukan semesta, walau berakhir tak bahagia.[]