Akhir Tak Bahagia [5]

Sejak saat itu intensitas pertemuan Yoongi dan Jimin meningkat. Terkadang menghabiskan waktu bersama setelah pulang kuliah, terkadang menghabiskan waktu bersama di kantin rumah sakit, mau pun bertemu secara sengaja hanya untuk jalan-jalan mengitari Hongdae.

Yoongi tahu banyak hal tentang Jimin. Lelaki itu anak tunggal dari keluarga sederhana, kuliah jurusan seni, serta sangat menyukai es krim cokelat. Lelaki itu menyukai seni tari modern dan berusaha menekuninya. Bahkan Yoongi tahu perihal mimpi Jimin yang ingin menjadi dancer terkenal.

Yoongi suka memandangi wajah Jimin ketika lelaki itu sedang bercerita tentang hal-hal yang ia sukai. Begitu tulus menyejukkan hati.

Satu bulan yang indah bagi Yoongi. Satu bulan yang begitu Yoongi syukuri kehadirannya. Tidak pernah ia sebegitu bahagianya ketika menjalani hidup.

Ia suka bagaimana cara Jimin tertawa. Ia suka bagaimana cara Jimin berjalan. Ia suka Jimin yang mem-poutkan bibirnya ketika kesal. Ia menyukai seorang lelaki bernama Park Jimin yang mulai mengambil atensinya.

Satu bulan yang indah bagi Yoongi. Bahkan dikabarkan keadaan ibunya semakin membaik. Dunia sedang berbaik hati kepadanya.

“Yoongi... aku benci dunia.”

“Eh? Kenapa?”

“Sangat melelahkan. Dunia jahat sama aku. Aku capek.”

Yoongi merangkul tubuh kecil itu. Membawa tubuh Jimin ke dalam dekapannya. Karena ia tahu hal itu adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh Jimin untuk saat ini.

“Aku disini, bahuku ada kalau kamu mau bersandar.”

Sekali lagi hal yang ia syukuri, merasa dekat dengan Jimin. Dekat dengan seorang lelaki pujaan hatinya.

Ia ingin berterima kasih untuk dunia yang telah berbaik hati kepadanya untuk satu bulan penuh. Sekali lagi ia berharap agar hari-harinya terus berjalan seperti ini adanya.[]