Akhir Tak Bahagia [4]

Hidup di keluarga yang serba kekurangan membuat Yoongi sudah susah dari dulu. Telah merasakan betapa pahitnya dunia sejak ia kecil telah membuatnya mengerti jika dunia tidaklah sebaik itu.

Rasanya, dunia dikuasai orang yang berada, tidak sepenuhnya benar sekali pun tidak sepenuhnya salah. Telah merasakan itu dari kecil membuatnya mengerti cara bertahan hidup di dunia ini.

Namun terkadang orang-orang sudah memegang senapan mahal dengan teknologi canggih, sementara ia disini berperang menggunakan pisau dapur yang tidak seberapa. Maka, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah dengan memperbagus senjatamu dengan ilmu yang kamu dapat.

Begitu setidaknya prinsip hidup Yoongi.

Mungkin, jika orang lain melihat bagaimana dirinya selama beberapa bulan ini berkuliah, bekerja, serta merawat ibunya secara bersamaan, mereka akan menganggap Yoongi gila. Bahkan masih sempat-sempatnya ia memotret dengan kamera yang ia beli lima tahun lalu ketika sedang cuci gudang.

Memotret adalah salah satu jalan agar ia tidak gila sebetulnya. Karena demi apa pun, hidupnya sangat melelahkan.

“Eh? Kamu yang tadi ya?!”

Suara bernada tinggi dari seorang laki-laki itu membuat Yoongi tersadar dari lamunannya. Belum lagi bahunya yang disentuh lembut oleh telapak tangan orang itu. Ia menolehkan kepalanya ke samping, menatap seseorang yang tengah tersenyum kepadanya.

Begitu keras ia mencoba mengingat, hingga akhirnya berhasil menemukan wajah yang cocok. Si lelaki salah ruangan, yang beberapa hari lalu memasuki kamar inap ibunya tanpa ketukan, lalu seenaknya keluar ruangan sembari tersenyum dan meminta maaf.

Ia bisa tahu dari bentuk bibirnya yang khas. Bahkan langit malam di atap rumah sakit itu tidak bisa menyembunyikan bibir kemerahan itu. Belum lagi tahi lalat di leher yang cukup menyita perhatiannya, serta alis cantik yang terlihat cocok sekali di wajahnya.

Se-detail itu ia mengingat si lelaki. Yah, tidak peduli juga sih sebenarnya.

Maka, yang ia lakukan untuk meresponnya hanyalah mengangguk pelan disertai hembusan napas samar yang terdengar seperti mengusir lelaki itu perlahan. Ia sudah cukup lelah dengan hidup. Setidaknya berikan ia waktu sebentar untuk mensyukuri hidupnya, walau hanya dari menatapi langit malam dipenuhi bintang yang terlihat cantik.

“Maaf ya, waktu itu aku panik banget. Katanya ibuku lagi kritis.”

Oh? Yoongi memalingkan wajahnya kearah lelaki itu. Menaikkan kedua alisnya memasang wajah terkejut. Sedikit merasa bersalah sebenarnya. Yang ditatap hanya tersenyum tipis sebelum kembali menatap langit malam.

Entah kenapa, Yoongi melihat dirinya dalam lelaki itu. Mereka yang sama-sama merasa lelah dengan hidup.

“Ibu kamu, kritis? Apakah beliau baik-baik saja?”

Lelaki itu mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Yoongi. Senyumnya yang indah masih terpatri di wajahnya. Meskipun Yoongi hanya melihat siluet samping lelaki itu, ia tahu, jika lelaki di sampingnya ini adalah manusia paling indah yang pernah ia temui.

Entah sebuah kebetulan atau memang semesta yang ingin mempertemukan mereka berdua. Yoongi diam-diam mensyukuri itu.

Satu dari seribu hal indah yang pernah dijumpainya semasa ia hidup. Kapan lagi kan, ia mengalami hal-hal seperti ini?

“Namaku, Park Jimin. Jika kamu ingin tahu saja.”

Satu dari seribu hal indah yang Yoongi syukuri keberadaannya, adalah bertemu Park Jimin. Bertemu dengan seorang lelaki bersurai cokelat gelap di atap rumah sakit untuk kedua kalinya. Musim semi yang indah untuk siapa pun yang mengalaminya, terutama untuk dirinya.[]