Akhir Tak Bahagia [2]

Yoongi berlari di lorong rumah sakit itu dengan tergesa. Dadanya naik turun dengan napas yang menghembus tidak stabil. Tangan kanannya menenteng tas laptop, beserta tangan kiri yang membawa kertas-kertas tugas kuliahnya. Jantungnya berdetak begitu cepat begitu pun kakinya bergerak memacu kecepatan yang terus bertambah setiap sekonnya.

Tentu ia harus bergegas. Baru saja dua puluh menit yang lalu pihak dari rumah sakit mengabarkan jika keadaan ibunya yang sedang dirawat tiba-tiba saja drop. Ia yang sebetulnya sedang berada di kelas dengan cepat datang ke rumah sakit dengan berlari, hanya untuk menghampiri satu-satunya anggota keluarga yang ia punya.

Setelah ayah dan kakaknya meninggal dunia, yang ia punya hanyalah ibunya. Ia hanya tidak ingin kehilangan seseorang yang penting di hidupnya untuk ke sekian kalinya.

Yoongi membuka pintu kamar itu secara perlahan setelah membersihkan tangannya menggunakan hand sanitizer yang selalu ia bawa kemana-mana. Sehabis mendengarkan penjelasan para perawat yang sedang menjelaskan keadaan ibunya, Yoongi menghela napas lega.

Setidaknya, ibunya masih baik-baik saja. Setidaknya, ia masih punya satu alasan untuk hidup.

Yoongi duduk di kursi yang tepat berada di samping ibunya. Dengan perlahan mengusap jari jemari yang mulai kurus. Ia menatap wajah ibunya yang tertidur dengan damai sembari tersenyum sendu.

Setidaknya, ibunya masih bersamanya disini. Tak apa.

Pria itu mengeluarkan laptop dari tasnya. Memasang kacamata minus dengan frame hitam dan mulai mengerjakan tugas kuliah yang kelasnya sempat ia tinggal. Beruntung dirinya masih memiliki teman yang bersedia untuk membantunya, meskipun hanya dengan cara mengirimkan email tugas yang terlambat ia dapat.

“Permisi! Dok- ter...”

Manik mata Yoongi dan orang asing itu bertemu. Timbul tatapan bingung yang sangat kentara dari wajah keduanya. Terlebih lagi pada wajah Yoongi.

Siapa orang ini? Tidak sopan sekali. Bukannya mengetuk dahulu malah langsung saja masuk ke dalam, sembari berteriak pula.

Yoongi membetulkan kacamatanya yang sedikit turun, menatap lelaki itu dengan tajam. Sementara yang ditatap hanya berdiri mematung dengan wajah bingung.

“Ah, maaf! Aku salah ruangan.”

Dan... lelaki itu langsung pergi, begitu saja. Ya, nilai plus karena menutup pintu dengan pelan dan mengucap maaf, tetapi tetap saja kan?

Dasar tidak sopan.[..]