Akhir Tak Bahagia [1]

Yang namanya hidup itu terus berjalan. Ada yang datang dan pergi, ada yang disatukan oleh semesta lalu dipisahkan oleh keadaan, ada juga yang berakhir bahagia mau pun berakhir dengan penuh kesedihan. Bahkan terkadang semesta hanya mempertemukan, tanpa niatan untuk menyatukan dua orang yang saling jatuh cinta.

Banyak orang bilang cara kerja dunia itu jahat. Mungkin saja bukan semesta atau dunia yang kejam, tetapi hanyalah kita yang terlalu berharap pada suatu hal semu yang tidak pasti.

Yoongi melihat kembali hasil foto yang ia potret. Jarinya menekan-nekan tombol di kameranya, melihat satu persatu dengan cermat untuk memastikan foto mana saja yang sekiranya bagus untuk ia berikan pada kliennya.

Setelah menunjukkan foto-foto itu serta mendapat persetujuan dari yang terkait, Yoongi kembali memasukkan kameranya ke dalam tas. Segera menuntaskan pekerjaannya dan bergegas untuk mencetak foto-foto itu sebelum kembali bekerja.

Tahun ini sudah memasuki tahun kedua ia bekerja sebagai fotografer panggilan tanpa kontrak. Dua tahun ia mencoba memantaskan portofolio milìknya. Dua tahun ia mencoba berjuang sendirian membuat mimpinya menjadi nyata.

Sendirian, tanpa seseorang yang seharusnya berada disini bersamanya. Tidak, bukan seharusnya. Mungkin memanglah dirinya yang terlalu berharap kepada seseorang itu.

Pekerjaannya tidak mudah sebetulnya. Ya, mana ada sih pekerjaan yang mudah di dunia ini.

Dirinya harus pergi kesana kemari, pergi ke luar kota hingga pergi ke negara yang berbeda. Menemui klien di berbagai tempat unik nan indah sembari melakukan pekerjaannya. Mulai dari foto pre-wedding, foto antar sahabat, foto model, bahkan hingga foto cover majalah.

Semua ia lakukan demi mewujudkan mimpinya sejak dulu.

Pria itu melangkah kearah taksi yang sudah ia pesan sejak lima menit yang lalu. Sengaja tidak menggunakan kendaraannya sendiri, ia masih harus melakukan ini dan itu. Mengirim file foto yang ingin dicetak contohnya.

Sesudah ia mendudukkan dirinya dengan posisi paling nyaman, Yoongi menyebutkan alamat tujuannya. Setelah ini pun ia harus tetap kembali bekerja. Ya, kembali bekerja. Kali ini mengabadikan sebuah pesta pernikahan.

Yoongi membuka ponselnya, memperlihatkan foto wallpaper seorang lelaki dengan bibir tebal kemerahan. Wallpaper yang tidak pernah ia ubah semenjak dua tahun yang lalu.

Ia ingat sekali, foto itu ia ambil ketika mereka sedang makan ramen bersama. Kebetulan sekali lelaki yang ada di dalam foto tidak bisa memakan makanan pedas sama sekali, maka dihasilkannya lah foto wajah penuh keringat serta bibir yang begitu kemerahan.

Pria yang memiliki surai sehitam langit malam itu tertawa pelan. Mengingat-ingat tentang sang cinta pertama yang pernah mengisi hari-harinya ketika dahulu.

Setelah mengamati foto itu selama beberapa menit, Yoongi beralih membuka memonya. Kembali memastikan tanggal dengan memo yang ia catat persis sama. Karena, siapa sih yang ingin salah tanggal ketika melakukan pekerjaan?

Sebenarnya pun Yoongi cukup bersyukur dengan dirinya yang tetap dapat bekerja. Meskipun sibuk setengah mati. Setidaknya, ia bisa makan dari hasil memotret beberapa orang. Walapun terkadang harus merasakan yang namanya makan pas-pasan dengan uang seadanya, atau berjalan kaki beberapa kilometer karena tidak sanggup membayar bensin atau pun angkutan umum.

Yoongi menatap keluar melalui jendela di sampingnya. Menatap bulir air hujan yang turun perlahan membasahi kaca. Untunglah ia membawa payung bersamanya. Inilah gunanya menonton ramalan cuaca ketika ingin berangkat kerja.

Matanya melihat orang-orang dengan payung warna warni berjalan di jalan setapak. Hanya beberapa, meskipun tidak banyak orang berlalu lalang seperti biasanya. Kemungkinan besar hujan penyebabnya.

Siapa yang suka berjalan di tengah hujan yang dapat membuat pakaianmu basah? Mungkin, hanya Yoongi satu-satunya orang yang menyukai hujan.

Tidak heran karena hujan adalah cuaca favoritnya. Karena ketika pada hari itu semua pemotretannya akan dibatalkan. Waktunya untuk bergelung seharian dibalik selimut, mengistirahatkan tubuhnya, serta menjernihkan pikirannya. Apalagi hujan dapat mengingatkannya dengan memori paling indah yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Selain itu, yang ia suka dari hujan adalah banyak waktu untuk berpikir dan menyendiri di rumah. Terutama, berusaha menghilangkan pikiran tentang si lelaki yang menjadi wallpaper ponselnya itu.

Hah... sayang sekali kali ini ia tetap harus bekerja. Ia hanya berharap pernikahan itu diadakan di dalam gedung. Mengingat kliennya yang satu ini merupakan konglomerat ternama. Sepengalaman Yoongi mereka suka sekali dengan pemotretan dengan ruang terbuka.

Kembali ia menghela napas panjang. Menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang.

Ya, sebaiknya pernikahan itu diadakan di dalam gedung. Hari ini sudah cukup buruk untuknya. Dan ia rasa, tidak perlu ditambah lagi dengan hal-hal yang lain.[]