1 Shot [75]

Kamar itu gelap dengan pencahayaan yang minim. Dengan sumber cahaya hanya berasal dari lampu tidur yang berada diatas nakas, sementara lampu utama dimatikan karena sudah larut.

Jimin berjalan pelan-pelan, melangkahkan kakinya dengan hati-hati melewati ruangan gelap itu sembari meraba. Kontak lensa telah dilepasnya, maka dari itu sedikit sulit melihat sesuatu di tengah kegelapan seperti ini. Melihat normal saja sudah sulit, apalagi saat berada di situasi gelap.

Di tengah perjalanan ia pun turut mengikat kuat tali bathrobenya. Menjaga agar tubuh bagian depannya tidak terekspos berlebihan.

“Oh, kamu udah selesai mandi?”

Suara berat itu memasuki indra pendengarannya. Bahkan bulu kuduknya sedikit berdiri merasakan rasa yang masih tersisa saat mereka bercinta tadi.

Ah, memalukan sekali jika diingat.

Kegiatan panas mereka berawal dari beberapa hari yang lalu ketika kesadaran mereka diambil oleh alkohol. Keadaan yang sedikit mabuk seketika membuat tubuhnya panas saat itu.

Benar-benar suatu hal yang sangat tidak ia kira bisa terjadi di hidupnya. Bercinta dengan orang lain? Mengalami hubungan percintaan saja tidak pernah. Apalagi disini Yoongi adalah sosok asing yang baru saja memasuki hidupnya belum lama ini.

Memalukan. Namun diam-diam ia ikut menikmati segala afeksi dan gempuran hangat Yoongi saat melewati malam-malam panas beberapa hari ini.

Jimin berbaring tepat di samping Yoongi yang bertelanjang dada. Bathrobe yang masih melekat di tubuhnya sedikit terbuka, memamerkan dada telanjangnya di depan mata Yoongi.

Spontan Yoongi yang merasakan Jimin merebahkan tubuh tepat di sampingnya pun seketika memeluk pinggang sempit lelaki itu dengan nyaman. Seperti biasa, dirinya menempelkan hidungnya, membaui bagian leher belakang si lelaki yang berbau seperti buah-buahan.

Ah, Jimin mengganti shampoo rupanya. Karena ia tahu jelas jika beberapa hari yang lalu lelaki itu tidak mempunyai aroma seperti ini.

Namun, jika itu Jimin, ia selalu suka. Selalu manis mau di hidung atau pun di hati.

“Capek, ya?”

“Sedikit....”

Kedua insan itu berbicara dengan berbisik sembari memejamkan mata. Saling merasakan debaran jantung masing-masing.

Jimin memainkan jari-jemari Yoongi yang saling mengait di atas perutnya. Mengamati bagaimana jari panjang dan besar itu mendekap perutnya dengan erat.

Jari jemari yang setiap hari menggenggam tangannya, juga jari jemari yang sering kali memasuki lubang hangatnya.

Jimin memerah ketika pikiran itu terlintas di dalam kepalanya. Mengutuk dirinya sendiri karena bisa-bisanya berpikiran seperti itu saat sedang bersantai tanpa nafsu seperti saat ini.

“Kamu senang jadi guru dance di agensi Hoseok?”

Jimin mengangguk, mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan Yoongi kepadanya.

“Hoseok baik banget sama aku.”

“Kamu suka dia?”

“Iya, maksudku sebagai teman. Kak Hoseok enak untuk diajak ngobrol bersama.”

Yoongi menghela napasnya lega. Entah mengapa. Apa karena ia cemburu jika ada kemungkinan Hoseok menyukai Jimin?

Temannya itu secerah matahari, begitu juga dengan Jimin. Jujur, mereka bisa menjadi pasangan yang cocok antara satu sama lain. Apalagi mereka sama-sama positif. Sementara dirinya...

Yoongi semakin memeluk erat tubuh Jimin. Bibirnya mengecupi leher penuh bekas kemerahan karyanya itu dengan pelan. Menyebabkan Jimin tertawa kecil karenanya.

Untuk saat ini, hanya sentuhan kecil dan bermakna lah yang diutamakan Yoongi. Terlalu takut untuk berkomitmen lebih jauh, takut jika nantinya Jimin meninggalkannya setelah lama mengenal dan tahu bagaimana sifatnya.

Untuk saat ini, hal yang mereka lakukan sudah sangat cukup. Meskipun nantinya ia harap hubungan mereka bisa dilanjutkan ke ranah yang lebih jauh karena ia pun tahu Jimin menginginkan itu.[]