1 Shot [63]
Kedua insan itu duduk berhadapan tanpa membuka mulut. Yang satu sibuk memainkan beberapa kunci nada dengan gitarnya, sementara yang lainnya fokus mendengarkan melodi indah yang keluar.
Suhu ruangan diatas dua puluh derajat, harum aroma terapi yang bernuansakan hutan, belum lagi lampu redup yang terasa sepi menemani. Sangat hangat jika dirasakan lebih dalam dan jauh.
Yoongi menyelesaikan permainannya sembari menatap kearah Jimin dengan senyuman lebar. Mengamati bagaimana bulu mata indah itu mengikuti pergerakan kelopaknya yang menutup dan membuka beberapa kali, mengamati bagaimana bibir yang tebal itu membentuk senyuman yang cantik, dan tentu kedua manik mata Jimin yang binarnya sangat Yoongi sukai.
Bercengkrama selama hampir sebulan penuh bersama Jimin membuatnya sadar betapa mengagumkannya lelaki itu. Sangat kuat berdiri kokoh dengan caranya sendiri.
Yoongi iri sebetulnya, kenapa Jimin bisa sekuat itu sedangkan dirinya tidak? Rasanya ingin sekali menertawakan diri sendiri. Orang-orang bilang kamu kuat jika tidak menangis atau menunjukkan sisi lemahnya dirimu, namun baginya Jimin terlihat kuat ketika lelaki itu mencoba bangkit dari keterpurukannya.
“Kamu mau dengar aku main apalagi?”
“Piano?”
Kebetulan manik mata Jimin menangkap sebuah piano klasik yang tertidur lelap di sudut ruangan. Piano itu terlihat kesepian dan sepertinya sudah lama tidak dimainkan, meskipun tidak se-berdebu tas gitar yang kini sudah bersih dan terlihat hidup kembali.
Yoongi bangkit berdiri dari duduknya. Pria itu berjalan pelan menuju piano yang rasanya kembali membangkitkan memori lama yang sudah lama ia kubur dalam ingatan.
“Rasanya, ruangan kamu isinya alat musik yang kesepian, ya?”
“Memainkan mereka hanya membangkitkan memori lamaku.”
Jimin menyentuh satu persatu tuts putih pada piano itu. Memainkan nada twinkle-twinkle little star dengan senyuman lembut yang masih melekat di wajahnya.
“Dulu ibu bilang, kenapa manusia itu masih sibuk mengingat masa yang sudah lampau? Padahal disini kita hidup untuk masa depan.”
“Dulu aku menganggap jika hal itu cuma omongan asal yang ibu sampaikan, tetapi sekarang aku pun merasakan dan ternyata benar adanya. Daripada sibuk memikirkan masa lalu, kenapa aku tidak bekerja keras di hari ini untuk diriku di masa depan,”
lanjut Jimin. Lelaki itu mempersilakan yang lebih tua untuk duduk di sebelahnya. Yoongi duduk di atas kursi itu, tepat di sebelah Jimin. Ia menatap tuts hitam dan putih yang seolah-olah memanggil dirinya mendekat.
Sudah berapa lama ya, ia tidak memainkan mereka? Beralasan terus dikejar memori buruk serta jam kerja yang padat. Ia baru menyadari jika dirinya kembali bermain musik ketika Jimin datang di hidupnya.
Tangannya mulai bergerak melakukan pemanasan dengan memainkan beberapa musik yang dirasa mudah. Memori pada ototnya pun tidak bisa berbohong jika ia sungguh merindukan waktu-waktu seperti ini. Merindukan waktu ketika ia bisa bermain piano ditemani ibunya.
Rindu.
Diam-diam Jimin tersenyum bahagia ketika Yoongi mulai lancar memainkan beberapa judul lagu. Ia ikut menyenandungkan nada yang ia tahu sebagai bentuk dukungan kepada pria di sampingnya itu.
Beberapa menit yang Yoongi syukuri bisa terjadi lagi dalam hidupnya. Sungguh menyenangkan ketika bisa melakukan hal yang dicintai dari dulu.
“Bravo!“
Jimin bertepuk tangan meriah. Seirama dengan Yoongi yang menutup permainannya dengan melodi indah.
Yang bersurai hitam menatap seseorang di sebelahnya itu dengan senyuman teduh. Dengan kaku ia mengusap bagian belakang telinganya di karenakan rasa gugup yang tiba-tiba melanda hatinya.
“Jimin, sebetulnya aku punya satu lagu baru yang aku buat kemarin, mau dengar?”
“Boleh.”
“Tapi, ini masih draft awal, sih.”
Yoongi berjalan menuju meja tempat ia menyusun aransemen lagunya. Matanya dengan jeli mengamati semua judul yang lewat. Berusaha mencari satu lagu yang sebetulnya ia buat untuk Jimin.
Ketika sudah menemukannya, ia memainkan lagu yang masih berupa draft itu dengan volume yang lumayan kencang. Mengamati ekspresi Jimin untuk mengetahui apa pendapat jujur dari lelaki itu.
“Bagus! Ah... rasanya jadi ingin menari....”
“Boleh.”
“Apa?”
“Menari. Silakan saja.”
Jimin meremat tangannya disertai semburat kemerahan yang mulai muncul di pipinya. Lelaki itu kembali menatap kearah Yoongi guna meminta persetujuan.
Dengan pasrah ia melangkahkan kakinya ke tengah ruangan. Melakukan sedikit pemanasan sebelum mulai menari ketika Yoongi kembali memainkan lagu itu.
Indah. Rasanya benar-benar seperti bukan melihat seorang manusia biasa. Terlampau indah untuk seorang manusia.
Bahkan, Yoongi menyiapkan kameranya untuk merekam momen yang indah itu. Mungkin, untuk dilihat kembali ketika ia sedang merindukan Jimin?
“Ih, kok di rekam?!”
Jimin berlari dengan cepat menuju kearah Yoongi yang dengan segera mematikan rekamannya. Pria itu tertawa lepas sembari menyembunyikan ponsel yang ia gunakan tadi dari Jimin.
Beberapa saat Yoongi dan Jimin berebut alat elektronik itu dengan diiringi canda dan tawa. Meskipun pada akhirnya Jimin yang mengalah dan membiarkan Yoongi untuk tidak menghapus video itu. Ya, walaupun dompet milik Yoongi juga harus terkuras habis guna meminta maaf pada lelaki itu. Tak apa, asal videonya tidak terhapus. Karena ia akan berusaha untuk mengubah dan membantu hidup Jimin menjadi lebih baik sebagai balas budi atas kebaikan lelaki itu.[]