1 Shot [52]
Setelah menghabiskan berbagai macam jajanan yang dibeli Yoongi, Jimin merebahkan tubuhnya diatas sofa. Dengan perlahan ia memainkan selimut putih yang membungkus tubuhnya.
Kembali ia di tinggal sendirian oleh Yoongi karena pria itu mengatakan jika ingin membuang sampah diluar. Sedikit tidak enak sih karena Yoongi yang melakukan semuanya. Namun, bagaimana, pria itu sendiri yang meminta. Ketika Jimin ingin merapikan sampah sisa makanan mereka pun Yoongi melarangnya.
Entah karena terlalu baik, atau memang Yoongi adalah orang yang seperti itu. Bahkan sempat pria itu mengatakan jika Jimin adalah tamu dan Yoongi yang bertanggung jawab karena merupakan pemilik tempat.
Yasudah lah. Bisa apa Jimin selain menerima. Mungkin lain kali ia harus mengundang Yoongi ke tempatnya sebagai balas budi.
“Aku kagum, kamarmu rapi, ya,”
ucap Jimin kepada Yoongi yang baru masuk setelah dari luar. Pria dengan surai hitam itu hanya tertawa sejenak sembari melepas topi dan maskernya.
“Kerapihan itu adalah hal dasar yang harus dipelajari setiap orang ketika hidup.”
”... benar juga, sih.”
Jimin menganggukkan kepalanya beberapa kali, menyetujui pendapat yang Yoongi utarakan. Kembali hening menghampiri mereka. Hanya terdengar suara dari CPU komputer Yoongi yang menemani. Saking sepinya, suara napas masing-masing pun masih bisa mereka dengar.
Bukan karena canggung mau pun tidak ada yang dibahas. Hanya... masing-masing terasa sedang menyelami pikiran satu sama lain.
Rasanya seperti sedang berkomunikasi, namun melalui telepati antar pikiran. Terdengar lucu dan tidak mungkin, namun seperti benar adanya.
“Eh? Kamu punya gitar, Yoongi?”
Jimin bangkit dari tidurnya. Duduk menyamping menunjuk kearah tas gitar di sudut ruangan yang tergeletak begitu saja. Seperti sudah lama tidak dimainkan.
Terlihat seperti sebuah gitar yang sedih.
“Iya, punya.”
Yoongi berdiri, berjalan mengambil tas gitar itu dan mengeluarkan gitar akustik berwarna biru kehitaman dari dalamnya. Sesekali ia memetik senarnya, berusaha untuk menemukan nada yang pas.
Yoongi dengan gitar. Salah satu hal yang tidak ada dibayangan seorang Jimin. Dengan adanya itu, Min Yoongi dimatanya menjadi lebih sempurna dan menawan adanya.
“Mau aku mainkan?”
“Boleh?”
Pria dengan gitar akustik yang sudah nyaman ia pegang itu duduk tepat di sisi kiri Jimin. Membuat yang lebih kecil memutar tubuhnya sembilan puluh derajat untuk melihat sebuah 'pertunjukan' yang akan Yoongi lakukan dengan gitarnya.
Gugup. Bahkan ketika Yoongi hanya memainkan nada asal, jantungnya pun berdegup sangat cepat. Rasanya menyenangkan, tetapi aneh.
Mendengar pria itu bermain gitar di depannya, menyanyikan lagu Creep dari Radiohead dengan suara rendahnya, serta melemparkan senyum gummy smile itu untuk dirinya. Ia merasakan perasaan yang, seribu kali lebih menakjubkan. Badannya bergerak ke kanan dan kiri, menatap kosong kearah Yoongi yang masih bernyanyi.
“Bagus... ga?”
“Ehm.. bagus, kok.”
Bagus sekali sehingga Jimin tidak bisa memberikan reaksi lebih darinya. Entah terlalu terpesona oleh Yoongi, atau dirinya terlalu lelah karena ini sudah memasuki dini hari.
Kembali ia dibuat tertegun ketika Yoongi kembali memetik senar gitar itu. Menyetemnya sejenak, sebelum kembali memainkan beberapa kunci.
Ia tahu lagu ini. Begitu tahu, karena menggambarkan kehidupannya.
“I'm jealous of the rain.”
Jealous yang dinyanyikan oleh Labrinth. Benar-benar lagu yang menyentuh hati. Ia pernah baca, jika Labrinth menyanyikan lagu ini untuk ayahnya yang meninggalkan dirinya ketika kecil. Hanya demi untuk berkeluarga kembali dengan orang lain.
Lagu yang sangat menyentuh bagi Jimin, karena ayahnya pun meninggalkan ibunya demi wanita lain. Meninggalkan ibunya yang sakit. Hingga ibunya sudah tiada pun pria itu tidak ada niatan untuk mengunjunginya barang sebentar saja.
Ia sendiri yang mencari uang untuk melakukan upacara kremasi. Ia sendiri yang menangisi guci yang berisi abu milik ibunya. Ia sendiri yang berjuang di tengah ketidakadilan di dunia ini.
Lelah rasanya. Berkali-kali ia meraung dan menangis, mengatakan kepada dunia jika hidupnya tidak adil. Berusaha ia menemukan sandaran, namun berulang kali takdir memainkannya.
“It's hard for me to say, I'm jealous of the way, you're happy without... me.”
Yoongi menyelesaikan lagu sepanjang empat menit empat puluh tujuh detik itu dengan senyuman sendu. Ia mengusap gitarnya sejenak, sebelum kembali memasukkan alat musik itu ke dalam tasnya.
“Kenapa... Jealous?”
“Katanya ini lagu untuk seorang ayah yang meninggalkan anaknya, ya?”
Oh.. Yoongi juga tahu. Ia tidak ingin berpikiran jelek, namun apakah iya? Jimin mengamati ekspresi pria di depannya dengan saksama.
Mengamati guratan lelah yang terlukis di wajah yang proporsional itu, mengamati kantung mata yang mulai muncul, serta mengamati ekspresi sendu yang ditunjukkan oleh Yoongi. Rasanya... ia ingin menangis. Bahkan hanya dengan melihat ekspresi yang Yoongi tunjukkan, bisa membuatnya ingin menangis.
“Waktu umurku lima tahun, ayah meninggalkan aku dengan ibu untuk wanita lain. Tumbuh tanpa ayah di lingkungan yang semua keluarganya hangat, sangatlah sulit. Ibu membesarkanku sendirian, bekerja mencari uang, sampai akhirnya beliau sudah ngga tahan. Mungkin, aku terlalu menyusahkan beliau, ya? Beliau pada akhirnya juga meninggalkanku untuk pria lain, kalau ngga salah umurku lima belas waktu itu. Tetapi, yasudah lah. Hidup terus berjalan, kan.”
Jimin seperti... melihat dirinya di dalam Yoongi. Melihat bagaimana rapuhnya pria itu, bagaimana pria itu serasa di tertawakan oleh dunia, bagaimana lelahnya pria itu menginjakkan kaki sendiri tanpa siapa pun yang menuntun.
Jimin memeluk tubuh yang sedikit lebih besar darinya itu tanpa perintah. Murni dari lubuk hatinya yang ingin memberikan kenyamanan, ingin memberitahukan jika masih ada orang yang sayang kepadanya. Ia ingin selalu berada di sisi pria ini sebagai seseorang yang spesial atau pun hanya sekadar menjadi sebuah tumpuan Yoongi untuk berdiri menghadapi dunia.
Ia ingin, mencintai pria ini lebih dalam. Ia ingin, dunia memperbolehkannya untuk membahagiakan Yoongi dan dirinya yang sama-sama pernah terpuruk.[]