1 Shot [46]

Malam ini terasa seperti malam-malam biasanya. Jam delapan orang kantoran mampir membeli soju, jam sepuluh anak sekolahan yang baru pulang dari jam tambahan belajar mampir membeli makanan ringan, dan memasuki jam sebelas jalanan mulai sepi.

Bisa dihitung dengan jari orang-orang yang berlalu lalang di depan minimarket saat menunjukkan jam sebelas. Entah hanya sekadar orang mabuk dengan jalannya yang sempoyongan atau hanya orang biasa yang kebetulan lewat. Mungkin tampak mengerikan bagi orang yang tidak biasa, tetapi bagi Jimin hal-hal tersebut lah yang menemaninya ketika mendapat shift malam.

Bosan dan sepi yang dirasa. Berdiri mematung di belakang meja kasir, menghabiskan sekotak susu cokelat yang ia beli, sembari menunggu baterai ponselnya terisi penuh.

Kepalanya sakit ketika mendengar lagu yang sama diputar berulang kali. Entah minimarket milik Namjoon ini tidak memiliki playlist lain yang setidaknya bisa mereka mainkan atau hanya nasib sialnya saja yang mendapatkan lagu-lagu dengan judul sama yang terus diputar.

Ah, ngomong-ngomong soal Namjoon, sudah menginjak hari keempat dirinya mengabaikan semua pesan dari pria itu. Bahkan panggilan telepon dari Namjoon total juga ia abaikan. Karena ia teramat tahu apa yang akan dibahas oleh pria itu.

Ya, apa lagi kalau bukan perihal si wanita yang tempo hari Jimin tolak ajakan bercintanya. Menyebalkan sekali kalau diingat. Memang wajahnya terlihat seperti seorang penggila seks? Melakukan saja tidak pernah.

Karena kejadian itu Jimin menjadi sedikit sebal dengan Namjoon. Ingin menemui pun takut canggung. Padahal ia tahu jika pria yang merupakan temannya itu bermaksud baik dengan memiliki niat untuk membuat dirinya tidak hidup sendiri lagi. Setidaknya mempunyai kekasih di hidupnya. Memiliki cinta yang bisa menjaganya.

Tanpa pria itu tahu pun, dirinya sudah lama jatuh cinta padanya. Menyimpan rasa pada sahabatnya sendiri, memang kisah cinta yang klise.

Ia memiliki rasa berlebih pada Namjoon pun bukan tanpa alasan. Namjoon itu adalah satu-satunya orang yang setia menemaninya dari jaman sekolah menengah atas sampai sekarang. Jika ditanya siapa orang yang paling mengerti luar dalam seorang Park Jimin, maka Kim Namjoon lah jawaban. Bahkan pria itu tahu jika Jimin adalah seseorang yang cenderung pasif dalam suatu hubungan. Berulang kali gagal dalam percintaan, berulang kali ditolak, hingga hatinya berlabuh pada seorang Namjoon pada suatu hari.

Oh, mungkin ada hal yang belum Namjoon tahu sampai saat ini. Orientasi seksualnya adalah satu dari sekian banyak hal yang Jimin rahasiakan dari pria itu. Kepalang takut dijauhi dan di blacklist dari daftar teman si pria.

Suara pintu yang terbuka memasuki gendang telinganya. Kepalanya menoleh menatap kearah pelanggan yang masuk untuk berbelanja.

Seorang pria dengan baju kasual hitam-hitam dan sneakers high top yang terlihat familiar. Bucket hat itu menutupi kepala sampai sekitaran matanya. Belum lagi masker (yang tentunya juga berwarna hitam) menutupi area hidung sampai mulut.

Terlalu familiar. Bahkan rasanya dari jarak dua meter pun Jimin bisa tahu aroma khas milik siapa ini. Aroma pepohonan yang lembut dan menenangkan. Satu dari sekian aroma yang menjadi favoritnya.

“Oh, Yoongi?”

“Hai.”

Jimin menatap bingung pria itu. Telinganya sedikit peka ketika mendengar nada suara yang sedikit berbeda. Ia pun berinisiatif keluar dari area meja kasir untuk menghampirinya. Entah karena sudah tidak bertemu atau pun berkomunikasi selama beberapa hari, Jimin menjadi sedikit kaku. Ia berdiri disana dengan tubuh tegap yang terlihat canggung serta tidak tahu menahu harus melakukan apa.

Malu. Malu akan jantungnya yang berdegup lebih cepat ketika berdekatan dengan pria ini. Pikirannya melayang bagaimana jika pria itu mendengar degup jantungnya yang berdegup dengan sangat cepat.

Pada akhirnya Jimin meminta Yoongi untuk duduk di salah satu meja kosong yang terletak di luar. Ia kembali menghampiri Yoongi setelah membeli dua kaleng bir non alkohol serta memasak ramyeon lengkap dengan telur untuk mereka berdua. Tentu Jimin membayar makanan-makanan itu dengan uangnya sendiri.

Kedua insan yang baru bertemu setelah beberapa hari tidak berbagi kabar itu duduk dengan tenang. Ditemani udara yang sedikit dingin dan hembusan angin yang entah kenapa terasa sedih. Sesak tanpa alasan.

“Kamu... udah lama gak ke bar lagi, ya?”

Yang dilemparkan pertanyaan mengangguk kaku. Tangannya dihimpit di antara kakinya, bibir tebalnya di gigit tanda sedang gugup. Di dalam kepalanya sedang ada perdebatan perihal apa yang ingin di sampaikan oleh Yoongi.

Entah mungkin kebiasaan overthinking nya masih terbawa hingga saat ini. Bisa saja kan, sebenarnya Yoongi tidak ingin bertemu dengannya lagi dan mencoba untuk berbicara dengan baik-baik kepadanya, atau sebenarnya Yoongi ingin memberitahukan sebuah hal penting kepadanya.

“Aku putus.”

Jimin sedikit tersedak ketika medengar Yoongi mengatakan hal itu. Tangannya mengusap sudut bibirnya yang ternodai cipratan bir dan mengelapkan ke celana jeans hitam miliknya dengan cepat.

Ekspresinya penuh dengan keterkejutan. Ya, maksudnya, beberapa hari yang lalu ia masih melihat Yoongi sedang bermesraan dengan kekasihnya. Siapa yang tidak terkejut jika tiba-tiba Yoongi mengatakan mereka sudah putus.

Ia tidak ingin terlihat jahat, tetapi apakah iya doa nya terkabul? Setidaknya ia tidak harus merasa bersalah karena mempunyai perasaan untuk seorang pria di sampingnya itu.

“Hm.. kenapa?”

“Empat hari yang lalu, waktu kita berpapasan. Ternyata, di hari itu Heein berniat menyudahi hubungan kita. Bodohnya, aku kira dia ajak keluar karena rindu.”

Yoongi meneguk habis sekaleng birnya baru setelahnya mengusap kasar wajahnya. Frustrasi sekali.

Jimin disana pun hanya bisa terdiam tanpa mengucapkan apa pun. Ia berinisiatif menggeser kursinya mendekat kearah Yoongi, menepuk punggung lebar si pria berusaha untuk menenangkannya. Ya, setidaknya ia sudah berusaha.

Hening tercipta di antara keduanya. Asap putih hangat dari cup ramyeon itu sudah hilang digantikan dengan cup yang kosong. Beberapa kali suara langkah kaki dari orang-orang yang lewat terdengar nyaring menemani hening mereka. Sebenarnya, Jimin bukannya tidak ingin berbicara kepada pria itu, ia hanya... mencoba memberikan waktu sendiri yang mungkin nantinya bisa membuat perasaan Yoongi sedikit membaik.

“Aku cari kamu di bar, aku tunggu tapi kamunya ngga datang. Berhari-hari aku lakuin hal yang sama, sampai akhirnya aku pergi kesini nemuin kamu.”

“Kenapa... aku?”

Yoongi menatap Jimin yang menolak untuk melihat wajahnya. Lelaki itu mengalihkan pandangannya kearah bawah, menatap aspal hitam yang dingin.

“You're different.”

“Aku gak ngerti.”

“Aku pun ngga paham. Cuma... di mataku, kamu itu spesial.”

Bohong jika Jimin bilang ia tidak tersipu. Bohong jika Jimin bilang dadanya tidak berdebar setelah Yoongi mengatakan jika dirinya spesial.

Berkali-kali ia dibuat jatuh kepada pria ini, dan hal itu tidak bisa ia hentikan. Jatuh kepada seorang pria bernama Min Yoongi yang memiliki sejuta pesona yang indah dan menawan.

Jimin menyesap birnya untuk menutupi rona halus yang timbul di pipinya. Tawa kecil keluar dari bibirnya yang tebal dan matanya menyipit menatap kearah depan.

“Aku bukan orang yang seperti kamu bayangkan, Yoongi.”

“No, aku rasanya sangat kenal sama kamu. Padahal baru bertemu sebentar, ya.”

Kembali hening menghampiri. Namun, dengan atmosfir yang jelas berbeda dari sebelumnya.

Mungkin terasa berbeda karena senyum tipis yang disembunyikan masing-masing insan. Atau mungkin, karena semburat merah yang muncul di permukaan wajah keduanya?

“Shift-mu selesai jam berapa, Jimin?”

“Mungkin... sekitar satu jam lagi. Ada apa, Yoongi?”

“Ingin menginap di tempatku? Ada aransemen musik baru yang... aku tidak tahu ingin tunjukkan ke siapa. Mungkin, kalau kamu mau, kamu bisa jadi pendengar pertamanya.”

Jimin menganggukkan kepalanya penuh semangat. Senang sekali jika bisa menjadi pendengar pertama musik yang Yoongi ciptakan. Terlebih lagi mendengar lagu ciptaan orang yang ia sukai.

Ia juga penasaran sebetulnya. Karena waktu itu Yoongi pernah mengatakan jika dirinya senang sekali membuat musik.

Malam itu pun, ketika Yoongi menunggu shift Jimin selesai di luar minimarket selama satu jam penuh membuat kedekatan mereka tanpa sadar menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Malam ketika Jimin pun menyadari dan mengakui, jika pria yang ia sukai adalah seseorang bernama Min Yoongi. Dan tentu ia siap untuk menerima sebuah perasaan yang baru hadir itu.[]