<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>Yourjiminie</title>
    <link>https://yourjiminie.writeas.com/</link>
    <description>Hello!</description>
    <pubDate>Fri, 17 Apr 2026 04:32:39 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Cliche [208]</title>
      <link>https://yourjiminie.writeas.com/cliche-208?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Capek, ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Not at all. Memangnya, capek kenapa?&#34; jawab Yoongi dengan cepat. Pria itu memandangi sosok laki-laki yang saat ini ada di depannya dengan tatapan penuh rasa bingung. !--more--&#xA;&#xA;Bagaimana tidak? Jimin tiba-tiba saja memberikan pertanyaan apakah dirinya lelah atau tidak, tanpa menyertakan konteks perihal hal apa yang akan membuatnya lelah pada saat itu juga. Apakah kegiatan santai seperti ini seharusnya membuatnya lelah?&#xA;&#xA;&#34;Ya ... take video berulang kali karena kelihatan jelek di kamera, ngobrol secara terus menerus, semua hal yang jarang kamu lakukan di siaran kamu sendiri.&#34; Jimin membalas tatapan si pria, memasang senyum tipis, lalu kembali fokus pada sepiring kue cokelat yang sudah tersaji di hadapannya. &#34;Gak capek? Melakukan banyak hal baru, yang sebelumnya terbilang sangat jarang kamu lakukan.&#34;&#xA;&#xA;Yoongi terdiam. Memikirkan baik-baik, perihal jawaban seperti apa yang nantinya akan ia berikan kepada laki-laki itu. &#34;Asal bersama kamu, I&#39;m really okay. Karena kalau bersama kamu, semua jadi terasa menyenangkan.&#34;&#xA;&#xA;Pria itu pun tertawa singkat saat melihat wajah laki-laki di depannya ini berubah menjadi sedikit kemerahan. Lelaki itu malu, dan sungguh dirinya ini sangatlah mengerti. Namun, ia berusaha untuk diam dan tidak menghiraukan hal itu agar Jimin tidak semakin merasa malu ataupun merasa jika dirinya ini sedang mengejeknya. &#xA;&#xA;Ya, menghormati perasaan Jimin adalah salah satu hal yang menjadi kewajibannya. Ia tidak ingin Jimin merasakan rasa tidak nyaman saat berada di sekitarnya. Ia tidak pernah menginginkan hal itu terjadi pada hubungan mereka saat ini. &#xA;&#xA;&#34;Habis ini kita mau ke—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Woah! Min Yoongi dan Park Jimin?!&#34; Ketika suara teriakan itu terdengar lantang memasuki gendang telinga Yoongi dan Jimin, saat itu juga seluruh perhatian semua orang yang ada di kafe berpusat menatap ke arah dua sejoli yang tengah asik mengobrol itu dengan begitu cepat.&#xA;&#xA;Jimin yang sedikit merasa tidak nyaman pun langsung menutupi wajahnya dengan buku menu, menghindari kilatan kamera dari beberapa orang yang mencoba mengambil foto mereka berdua.&#xA;&#xA;Sumpah, Jimin benci dengan hal-hal seperti ini. Diganggu saat sedang bersantai dengan teman, diganggu saat sedang bersantai dengan koleganya, diganggu saat sedang melakukan rutinitas hariannya. Ia tahu, ia adalah salah satu public figure yang lumayan dikenal oleh banyak orang. Namun, hal inilah terkadang yang membuat dirinya memberi tahu teman-temannya untuk tidak memposting apa pun di media sosial selama mereka masih ada di tempat yang sama pada saat itu juga.&#xA;&#xA;Jimin hanya takut, jika teman-teman terdekatnya merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Hanya itu yang ia takuti.&#xA;&#xA;Namun, tampaknya saat ini rasa takut itu terasa sangat berbeda. Tidak seperti rasa takut yang biasa ia rasakan saat mengalami kejadian seperti ini. Semuanya tampak membingungkan hingga Jimin hanya bisa terdiam menatap kosong ke arah meja bundar yang ada di hadapannya.&#xA;&#xA;Sebelum Jimin sempat memikirkan hal lain, tiba-tiba saja ia merasakan lengannya ditarik menjauh dari kerumunan oleh seseorang. Yang ia tahu hanyalah punggung lebar yang menutupi jarak pandangnya ke depan, tengkuk yang terlihat manis, serta wangi maskulin dari parfum yang sangat ia kenal. Yang ia tahu, Yoongi lah satu-satunya orang yang menariknya pergi terbebas dari kerumunan itu. &#xA;&#xA;Dan satu hal lagi yang ia tahu dan mulai ia sadari, jika rasa takut yang ia rasakan adalah rasa takut kalau nantinya hubungannya dengan Yoongi mulai tercium oleh publik. Takut, jika nantinya semua orang mulai mengetahui hubungan mereka yang tidak bisa dibilang hanya berstatus sebagai teman biasa.[]]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Capek, ya?”</p>

<p>“<em>Not at all</em>. Memangnya, capek kenapa?” jawab Yoongi dengan cepat. Pria itu memandangi sosok laki-laki yang saat ini ada di depannya dengan tatapan penuh rasa bingung. </p>

<p>Bagaimana tidak? Jimin tiba-tiba saja memberikan pertanyaan apakah dirinya lelah atau tidak, tanpa menyertakan konteks perihal hal apa yang akan membuatnya lelah pada saat itu juga. Apakah kegiatan santai seperti ini seharusnya membuatnya lelah?</p>

<p>“Ya ... <em>take</em> video berulang kali karena kelihatan jelek di kamera, ngobrol secara terus menerus, semua hal yang jarang kamu lakukan di siaran kamu sendiri.” Jimin membalas tatapan si pria, memasang senyum tipis, lalu kembali fokus pada sepiring kue cokelat yang sudah tersaji di hadapannya. “Gak capek? Melakukan banyak hal baru, yang sebelumnya terbilang sangat jarang kamu lakukan.”</p>

<p>Yoongi terdiam. Memikirkan baik-baik, perihal jawaban seperti apa yang nantinya akan ia berikan kepada laki-laki itu. “Asal bersama kamu, <em>I&#39;m really okay</em>. Karena kalau bersama kamu, semua jadi terasa menyenangkan.”</p>

<p>Pria itu pun tertawa singkat saat melihat wajah laki-laki di depannya ini berubah menjadi sedikit kemerahan. Lelaki itu malu, dan sungguh dirinya ini sangatlah mengerti. Namun, ia berusaha untuk diam dan tidak menghiraukan hal itu agar Jimin tidak semakin merasa malu ataupun merasa jika dirinya ini sedang mengejeknya.</p>

<p>Ya, menghormati perasaan Jimin adalah salah satu hal yang menjadi kewajibannya. Ia tidak ingin Jimin merasakan rasa tidak nyaman saat berada di sekitarnya. Ia tidak pernah menginginkan hal itu terjadi pada hubungan mereka saat ini.</p>

<p>“Habis ini kita mau ke—”</p>

<p>“Woah! Min Yoongi dan Park Jimin?!” Ketika suara teriakan itu terdengar lantang memasuki gendang telinga Yoongi dan Jimin, saat itu juga seluruh perhatian semua orang yang ada di kafe berpusat menatap ke arah dua sejoli yang tengah asik mengobrol itu dengan begitu cepat.</p>

<p>Jimin yang sedikit merasa tidak nyaman pun langsung menutupi wajahnya dengan buku menu, menghindari kilatan kamera dari beberapa orang yang mencoba mengambil foto mereka berdua.</p>

<p>Sumpah, Jimin benci dengan hal-hal seperti ini. Diganggu saat sedang bersantai dengan teman, diganggu saat sedang bersantai dengan koleganya, diganggu saat sedang melakukan rutinitas hariannya. Ia tahu, ia adalah salah satu <em>public figure</em> yang lumayan dikenal oleh banyak orang. Namun, hal inilah terkadang yang membuat dirinya memberi tahu teman-temannya untuk tidak memposting apa pun di media sosial selama mereka masih ada di tempat yang sama pada saat itu juga.</p>

<p>Jimin hanya takut, jika teman-teman terdekatnya merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Hanya itu yang ia takuti.</p>

<p>Namun, tampaknya saat ini rasa takut itu terasa sangat berbeda. Tidak seperti rasa takut yang biasa ia rasakan saat mengalami kejadian seperti ini. Semuanya tampak membingungkan hingga Jimin hanya bisa terdiam menatap kosong ke arah meja bundar yang ada di hadapannya.</p>

<p>Sebelum Jimin sempat memikirkan hal lain, tiba-tiba saja ia merasakan lengannya ditarik menjauh dari kerumunan oleh seseorang. Yang ia tahu hanyalah punggung lebar yang menutupi jarak pandangnya ke depan, tengkuk yang terlihat manis, serta wangi maskulin dari parfum yang sangat ia kenal. Yang ia tahu, Yoongi lah satu-satunya orang yang menariknya pergi terbebas dari kerumunan itu.</p>

<p>Dan satu hal lagi yang ia tahu dan mulai ia sadari, jika rasa takut yang ia rasakan adalah rasa takut kalau nantinya hubungannya dengan Yoongi mulai tercium oleh publik. Takut, jika nantinya semua orang mulai mengetahui hubungan mereka yang tidak bisa dibilang hanya berstatus sebagai teman biasa.<strong>[]</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://yourjiminie.writeas.com/cliche-208</guid>
      <pubDate>Wed, 03 Aug 2022 11:10:33 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>PDKT Class [402]</title>
      <link>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-402?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Jimin kembali menertawakan dirinya saat ia mendapati kakinya kembali melangkah di sepanjang trotoar menuju rumah Yoongi. Trotoar yang ia hafal betul, entah karena kejadian kemarin yang menyesakkan hati, atau karena kunjungan pertama kalinya yang sangat mengesankan. !--more--&#xA;&#xA;Rumah besar dengan pagar tinggi khas orang berada. Sungguh rumah yang rasanya tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidup.&#xA;&#xA;Hari ini, entahlah. Mungkin memang lebih baik ia yang harus menyelesaikan semuanya. &#xA;&#xA;Ketika rasa percaya sudah tidak bisa lagi mereka rasakan untuk satu sama lain. Ketika hatinya sudah hancur berkeping-keping saat melihat kekasihnya mencium pipi orang lain.&#xA;&#xA;Harusnya ia tahu, jika dirinya ini bukanlah siapa-siapa. Bukanlah seseorang yang amat berharga di dalam hidup laki-laki itu. Harusnya ia sudah menyadari, sejak pertama kali rasa cemburunya hadir saat perempuan bernama Wendy mulai memenuhi isi dari laman Twitter sang kekasih.&#xA;&#xA;Tungkai kakinya berhenti melangkah saat mendengar namanya dipanggil dari kejauhan. Suara berat yang sangat ia rindukan, kini terdengar begitu menyebalkan di telinganya. &#xA;&#xA;Apalagi saat rasa hangat mulai menyebar di bagian luar tubuhnya, kembali ia rasakan pelukan hangat dari sang kekasih, yang justru terasa hambar. Pelukan yang begitu hangat, meski sesuatu di dalam tubuhnya tetaplah dingin seolah tidak tersentuh sama sekali.&#xA;&#xA;&#34;Baru gue mau ke rumah lo. Soal beberapa hari yang lalu gue minta maaf, ya. Makanya gue mau kasih—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue mau putus,&#34; ucap Jimin dengan suara yang begitu parau. &#xA;&#xA;Seketika Yoongi melepaskan pelukannya. Ia menjauhkan tubuh Jimin, sementara matanya yang penuh keterkejutan berusaha untuk menatap manik mata lelakinya. Meski tidak berhasil, sebab Jimin benar-benar menundukkan kepalanya dalam-dalam.&#xA;&#xA;&#34;Lo bercanda, kan?&#34; tanya Yoongi. &#34;Jimin, lo bercanda, kan? Kita masih bisa perbaikin ini, Ji. Gue sama lo.&#34;&#xA;&#xA;Bahu Jimin bergetar samar, kepalan tangan yang berada di kedua sisi tubuhnya terlihat dikepalkan begitu keras untuk menahan segala emosi yang kini sedang ia rasakan.&#xA;&#xA;&#34;Gue mau putus, Kak.&#34;&#xA;&#xA;Tepat saat Jimin mengatakan satu kalimat penuh itu, hujan mulai turun membasahi mereka. Baju yang sudah basah kuyup bahkan tidak lagi mereka hiraukan.&#xA;&#xA;Saat ini, yang berdengung berkali-kali di kepala Yoongi hanyalah ajakan putus dari Jimin. Yang tentunya, tidak akan pernah ia duga akan keluar dari mulut lelaki itu.&#xA;&#xA;Yoongi sedikit mundur beberapa langkah. Telapak tangannya mengusap wajahnya yang terlihat begitu frustrasi, sementara jari telunjuk serta ibu jarinya mengusap kedua matanya yang berair.&#xA;&#xA;&#34;Jimin ... gue minta maaf,&#34; ucap Yoongi dengan suaranya yang mulai terdengar bergetar. Ia mencoba untuk meraih tangan Jimin, meski akhirnya lelaki itu melangkah mundur menjauhi dirinya. &#xA;&#xA;Helaan napas yang begitu berat Yoongi keluarkan dari mulutnya. &#34;Kenapa? Kenapa lo mau putus?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue gak bisa LDR, gue gak sanggup.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo bohong,&#34; bantah Yoongi. Karena sejujurnya ia tahu, Jimin juga merasakan sakit yang sama seperti rasa sakit yang kini tengah ia rasakan. Karena hal itu tampak sangat jelas dari tubuh kecil si lelaki yang terlihat begitu rapuh.&#xA;&#xA;Sekali lagi Yoongi memanggil nama Jimin dengan suara yang begitu lantang saat akhirnya Jimin berjalan menjauh darinya. Ia jatuh terduduk, menatap putus asa ke arah punggung si lelaki yang terlihat semakin menjauh dan pudar. &#34;Jimin please ... gue minta maaf.&#34;&#xA;&#xA;Sementara di sisi lain, air mata yang ditahan sedari tadi pun akhirnya tumpah membaur dengan air hujan yang membasahi tubuhnya. Dari awal Jimin sudah mempersiapkan segala hal untuk menghadapi Yoongi. &#xA;&#xA;Namun, semua usahanya itu seolah hilang begitu saja saat melihat wajah dari lelaki yang begitu ia rindukan. Wajah sang cinta pertama, yang masih ia cintai dengan begitu kuatnya.&#xA;&#xA;Momen yang begitu menyakitkan. Keputusan yang sudah ia pikirkan entah sejak berapa bulan lamanya. Keputusan berat, yang ia tidak tahu apakah dirinya akan menyesali keputusan ini nantinya.&#xA;&#xA;Dan ia jamin. Setiap hujan turun, momen ini akan selalu membekas di dalam benaknya. Momen di mana ia kehilangan cinta pertamanya, kebahagiaannya, serta sosok yang akan terus meninggalkan rasa pahit bercampur manis di sepanjang hidupnya kelak.[]]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Jimin kembali menertawakan dirinya saat ia mendapati kakinya kembali melangkah di sepanjang trotoar menuju rumah Yoongi. Trotoar yang ia hafal betul, entah karena kejadian kemarin yang menyesakkan hati, atau karena kunjungan pertama kalinya yang sangat mengesankan. </p>

<p>Rumah besar dengan pagar tinggi khas orang berada. Sungguh rumah yang rasanya tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidup.</p>

<p>Hari ini, entahlah. Mungkin memang lebih baik ia yang harus menyelesaikan semuanya.</p>

<p>Ketika rasa percaya sudah tidak bisa lagi mereka rasakan untuk satu sama lain. Ketika hatinya sudah hancur berkeping-keping saat melihat kekasihnya mencium pipi orang lain.</p>

<p>Harusnya ia tahu, jika dirinya ini bukanlah siapa-siapa. Bukanlah seseorang yang amat berharga di dalam hidup laki-laki itu. Harusnya ia sudah menyadari, sejak pertama kali rasa cemburunya hadir saat perempuan bernama Wendy mulai memenuhi isi dari laman Twitter sang kekasih.</p>

<p>Tungkai kakinya berhenti melangkah saat mendengar namanya dipanggil dari kejauhan. Suara berat yang sangat ia rindukan, kini terdengar begitu menyebalkan di telinganya.</p>

<p>Apalagi saat rasa hangat mulai menyebar di bagian luar tubuhnya, kembali ia rasakan pelukan hangat dari sang kekasih, yang justru terasa hambar. Pelukan yang begitu hangat, meski sesuatu di dalam tubuhnya tetaplah dingin seolah tidak tersentuh sama sekali.</p>

<p>“Baru gue mau ke rumah lo. Soal beberapa hari yang lalu gue minta maaf, ya. Makanya gue mau kasih—”</p>

<p>“Gue mau putus,” ucap Jimin dengan suara yang begitu parau.</p>

<p>Seketika Yoongi melepaskan pelukannya. Ia menjauhkan tubuh Jimin, sementara matanya yang penuh keterkejutan berusaha untuk menatap manik mata lelakinya. Meski tidak berhasil, sebab Jimin benar-benar menundukkan kepalanya dalam-dalam.</p>

<p>“Lo bercanda, kan?” tanya Yoongi. “Jimin, lo bercanda, kan? Kita masih bisa perbaikin ini, Ji. Gue sama lo.”</p>

<p>Bahu Jimin bergetar samar, kepalan tangan yang berada di kedua sisi tubuhnya terlihat dikepalkan begitu keras untuk menahan segala emosi yang kini sedang ia rasakan.</p>

<p>“Gue mau putus, Kak.”</p>

<p>Tepat saat Jimin mengatakan satu kalimat penuh itu, hujan mulai turun membasahi mereka. Baju yang sudah basah kuyup bahkan tidak lagi mereka hiraukan.</p>

<p>Saat ini, yang berdengung berkali-kali di kepala Yoongi hanyalah ajakan putus dari Jimin. Yang tentunya, tidak akan pernah ia duga akan keluar dari mulut lelaki itu.</p>

<p>Yoongi sedikit mundur beberapa langkah. Telapak tangannya mengusap wajahnya yang terlihat begitu frustrasi, sementara jari telunjuk serta ibu jarinya mengusap kedua matanya yang berair.</p>

<p>“Jimin ... gue minta maaf,” ucap Yoongi dengan suaranya yang mulai terdengar bergetar. Ia mencoba untuk meraih tangan Jimin, meski akhirnya lelaki itu melangkah mundur menjauhi dirinya.</p>

<p>Helaan napas yang begitu berat Yoongi keluarkan dari mulutnya. “Kenapa? Kenapa lo mau putus?”</p>

<p>“Gue gak bisa LDR, gue gak sanggup.”</p>

<p>“Lo bohong,” bantah Yoongi. Karena sejujurnya ia tahu, Jimin juga merasakan sakit yang sama seperti rasa sakit yang kini tengah ia rasakan. Karena hal itu tampak sangat jelas dari tubuh kecil si lelaki yang terlihat begitu rapuh.</p>

<p>Sekali lagi Yoongi memanggil nama Jimin dengan suara yang begitu lantang saat akhirnya Jimin berjalan menjauh darinya. Ia jatuh terduduk, menatap putus asa ke arah punggung si lelaki yang terlihat semakin menjauh dan pudar. “Jimin <em>please</em> ... gue minta maaf.”</p>

<p>Sementara di sisi lain, air mata yang ditahan sedari tadi pun akhirnya tumpah membaur dengan air hujan yang membasahi tubuhnya. Dari awal Jimin sudah mempersiapkan segala hal untuk menghadapi Yoongi.</p>

<p>Namun, semua usahanya itu seolah hilang begitu saja saat melihat wajah dari lelaki yang begitu ia rindukan. Wajah sang cinta pertama, yang masih ia cintai dengan begitu kuatnya.</p>

<p>Momen yang begitu menyakitkan. Keputusan yang sudah ia pikirkan entah sejak berapa bulan lamanya. Keputusan berat, yang ia tidak tahu apakah dirinya akan menyesali keputusan ini nantinya.</p>

<p>Dan ia jamin. Setiap hujan turun, momen ini akan selalu membekas di dalam benaknya. Momen di mana ia kehilangan cinta pertamanya, kebahagiaannya, serta sosok yang akan terus meninggalkan rasa pahit bercampur manis di sepanjang hidupnya kelak.<strong>[]</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-402</guid>
      <pubDate>Sat, 23 Apr 2022 15:49:13 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>PDKT Class [383]</title>
      <link>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-383?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Hari yang menyebalkan. Justru beruntung dirinya diajak Mina untuk datang ke pameran seni kali ini. Memang terkadang kepalanya yang terasa sangat penuh ini butuh sekali untuk menikmati sedikit hiburan, dibanding harus memikirkan hal-hal yang sama setiap menitnya. !--more--&#xA;&#xA;Rasanya begitu melelahkan, saat hal itu-itu saja yang berputar di dalam kepalanya. Membuat kepalanya justru terasa pusing dan panas. &#xA;&#xA;Bahkan kini kepalanya terasa sangat berat untuk menyelesaikan beberapa soal matematika. Yang biasanya dapat ia selesaikan dalam hitungan menit, kini dalam hitungan jam, itu pun dengan hasil perhitungan yang jauh berbeda dengan jawaban sebenarnya. &#xA;&#xA;Mungkin inilah mengapa banyak orang melarang anak-anak kelas 12 untuk berkencan, sebab pastilah fokus mereka terpecah menjadi beberapa bagian. Atau mungkin hanya Jimin yang mengalami hal ini? Alias dirinya yang terlalu memikirkan hubungan Yoongi dan Wendy.&#xA;&#xA;Menyebalkan.&#xA;&#xA;&#34;Kamu gak mau ke lukisan selanjutnya?&#34; &#xA;&#xA;Suara itu telak mengagetkan Jimin hingga membuat si lelaki berjengit kecil. Ia beberapa kali mengusap dada kirinya, berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak dengan sangat cepat. &#xA;&#xA;Meskipun suara Mina terdengar sangatlah lembut dan halus, tetapi tetap saja perempuan itu datang secara tiba-tiba. Membuat dirinya yang takut dengan makhluk-makhluk gaib menjadi kaget setengah mati dengan kemunculannya.&#xA;&#xA;&#34;Eh? Maaf-maaf, kayaknya kamu lagi fokus banget, ya? Sampai kaget begitu,&#34; ucap Mina sembari tertawa kecil.&#xA;&#xA;Tidak. Bahkan kini pikiran Jimin sama sekali tidak tertuju pada lukisan abstrak di depannya ini. Tidak sedikit pun ia menaruh perhatian pada kunjungan kali ini.&#xA;&#xA;Menyedihkan. &#xA;&#xA;&#34;Lo udah selesai keliling?&#34; Mina menganggukkan kepalanya saat mendengar pertanyaan yang Jimin lontarkan. Senyumnya merekah, semakin menunjukkan sisinya yang begitu cantik. &#34;Mumpung udah sore, mau sekalian jajan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, aku gak bisa lama-lama,&#34; tolak Mina, &#34;aku ajak kamu ke sini juga karena mau bilang sesuatu.&#34;&#xA;&#xA;Merasakan atmosfer yang sedikit terasa canggung, Jimin hanya berdiri di sana seraya mengusap tengkuknya kaku. Matanya menatap lurus ke arah wajah sang lawan bicara yang terlihat sangat bersemangat dan cerah, berbeda sekali dengan dirinya yang terlihat kusut.&#xA;&#xA;Ah, ia jadi merasa bersalah. Harusnya ia bisa berdandan dan menunjukkan usaha lebih saat sedang pergi bersama orang lain. Memalukan.&#xA;&#xA;&#34;Aku suka sama kamu, Jimin.&#34; &#xA;&#xA;Ungkapan perasaan yang tentunya sangat tiba-tiba itu seketika membuat Jimin membelalakkan matanya kaget. Jantungnya terasa berat, sementara napasnya seolah sesak. &#xA;&#xA;Sungguh. Pernyataan cinta pertama, dari seorang perempuan. &#xA;&#xA;Yang justru mengingatkannya pada pernyataan cinta yang diutarakan oleh Yoongi saat pertama kali mereka nonton bioskop bersama. Dadanya terasa semakin sesak saat dirinya kembali teringat oleh lelaki itu, tidak satu pun momen yang bisa ia lupakan jika itu menyangkut Yoongi.&#xA;&#xA;&#34;Dari ... kapan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dari kelas sepuluh,&#34; jawab Mina. Yang justru semakin membuat Jimin tambah terkejut. &#xA;&#xA;&#34;Bukannya lo suka sama Kak Yoongi?&#34;&#xA;&#xA;Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Jimin dengan nada penuh kebingungan, Mina memiringkan kepalanya ke arah kanan, memasang pose berpikir. Mungkin ia sedang mengingat-ingat kembali apa saja yang telah ia ucapkan di depan Jimin. &#xA;&#xA;&#34;Kalau yang kamu maksud itu tentang pertama kali chat kita di WhatsApp, aku nanya itu buat basa-basi.&#34;&#xA;&#xA;Oh. Ternyata memang selama ini ia sudah salah sangka. Malu sekali! &#xA;&#xA;Seketika Jimin menjadi gagap. Huruf-huruf di dalam kepalanya terasa berantakan, kata-kata yang ingin ia ucapkan seolah tertahan di ujung lidah. &#xA;&#xA;Sial. Harusnya di saat seperti ini ia melakukan sesuatu. Menjawab pernyataan cintanya, misalnya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu gak harus pusing mau nerima atau nolak, kok. Karena aku cuma mau kamu tahu perasaanku aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf.&#34; Dari sekian banyak kata yang telah Jimin pelajari sedari kecil, hanya kata maaf yang paling cocok menurutnya.&#xA;&#xA;Memang ia adalah seseorang yang payah, sampai-sampai di keadaan seperti ini pun dirinya hanya bisa diam. Bagaimana nanti jika ia harus bertemu secara tatap muka dengan Yoongi?&#xA;&#xA;Yang pastinya butuh lebih banyak keberanian dan kesabaran untuk tidak melepaskan emosinya begitu saja. Butuh lebih banyak usaha agar ia tidak melakukan hal-hal yang dapat membuat dirinya menyesal di kemudian hari.[]]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Hari yang menyebalkan. Justru beruntung dirinya diajak Mina untuk datang ke pameran seni kali ini. Memang terkadang kepalanya yang terasa sangat penuh ini butuh sekali untuk menikmati sedikit hiburan, dibanding harus memikirkan hal-hal yang sama setiap menitnya. </p>

<p>Rasanya begitu melelahkan, saat hal itu-itu saja yang berputar di dalam kepalanya. Membuat kepalanya justru terasa pusing dan panas.</p>

<p>Bahkan kini kepalanya terasa sangat berat untuk menyelesaikan beberapa soal matematika. Yang biasanya dapat ia selesaikan dalam hitungan menit, kini dalam hitungan jam, itu pun dengan hasil perhitungan yang jauh berbeda dengan jawaban sebenarnya.</p>

<p>Mungkin inilah mengapa banyak orang melarang anak-anak kelas 12 untuk berkencan, sebab pastilah fokus mereka terpecah menjadi beberapa bagian. Atau mungkin hanya Jimin yang mengalami hal ini? Alias dirinya yang terlalu memikirkan hubungan Yoongi dan Wendy.</p>

<p>Menyebalkan.</p>

<p>“Kamu gak mau ke lukisan selanjutnya?”</p>

<p>Suara itu telak mengagetkan Jimin hingga membuat si lelaki berjengit kecil. Ia beberapa kali mengusap dada kirinya, berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak dengan sangat cepat.</p>

<p>Meskipun suara Mina terdengar sangatlah lembut dan halus, tetapi tetap saja perempuan itu datang secara tiba-tiba. Membuat dirinya yang takut dengan makhluk-makhluk gaib menjadi kaget setengah mati dengan kemunculannya.</p>

<p>“Eh? Maaf-maaf, kayaknya kamu lagi fokus banget, ya? Sampai kaget begitu,” ucap Mina sembari tertawa kecil.</p>

<p>Tidak. Bahkan kini pikiran Jimin sama sekali tidak tertuju pada lukisan abstrak di depannya ini. Tidak sedikit pun ia menaruh perhatian pada kunjungan kali ini.</p>

<p>Menyedihkan.</p>

<p>“Lo udah selesai keliling?” Mina menganggukkan kepalanya saat mendengar pertanyaan yang Jimin lontarkan. Senyumnya merekah, semakin menunjukkan sisinya yang begitu cantik. “Mumpung udah sore, mau sekalian jajan?”</p>

<p>“Ah, aku gak bisa lama-lama,” tolak Mina, “aku ajak kamu ke sini juga karena mau bilang sesuatu.”</p>

<p>Merasakan atmosfer yang sedikit terasa canggung, Jimin hanya berdiri di sana seraya mengusap tengkuknya kaku. Matanya menatap lurus ke arah wajah sang lawan bicara yang terlihat sangat bersemangat dan cerah, berbeda sekali dengan dirinya yang terlihat kusut.</p>

<p>Ah, ia jadi merasa bersalah. Harusnya ia bisa berdandan dan menunjukkan usaha lebih saat sedang pergi bersama orang lain. Memalukan.</p>

<p>“Aku suka sama kamu, Jimin.”</p>

<p>Ungkapan perasaan yang tentunya sangat tiba-tiba itu seketika membuat Jimin membelalakkan matanya kaget. Jantungnya terasa berat, sementara napasnya seolah sesak.</p>

<p>Sungguh. Pernyataan cinta pertama, dari seorang perempuan.</p>

<p>Yang justru mengingatkannya pada pernyataan cinta yang diutarakan oleh Yoongi saat pertama kali mereka nonton bioskop bersama. Dadanya terasa semakin sesak saat dirinya kembali teringat oleh lelaki itu, tidak satu pun momen yang bisa ia lupakan jika itu menyangkut Yoongi.</p>

<p>“Dari ... kapan?”</p>

<p>“Dari kelas sepuluh,” jawab Mina. Yang justru semakin membuat Jimin tambah terkejut.</p>

<p>“Bukannya lo suka sama Kak Yoongi?”</p>

<p>Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Jimin dengan nada penuh kebingungan, Mina memiringkan kepalanya ke arah kanan, memasang pose berpikir. Mungkin ia sedang mengingat-ingat kembali apa saja yang telah ia ucapkan di depan Jimin.</p>

<p>“Kalau yang kamu maksud itu tentang pertama kali <em>chat</em> kita di WhatsApp, aku nanya itu buat basa-basi.”</p>

<p>Oh. Ternyata memang selama ini ia sudah salah sangka. Malu sekali!</p>

<p>Seketika Jimin menjadi gagap. Huruf-huruf di dalam kepalanya terasa berantakan, kata-kata yang ingin ia ucapkan seolah tertahan di ujung lidah.</p>

<p>Sial. Harusnya di saat seperti ini ia melakukan sesuatu. Menjawab pernyataan cintanya, misalnya.</p>

<p>“Kamu gak harus pusing mau nerima atau nolak, kok. Karena aku cuma mau kamu tahu perasaanku aja.”</p>

<p>“Maaf.” Dari sekian banyak kata yang telah Jimin pelajari sedari kecil, hanya kata maaf yang paling cocok menurutnya.</p>

<p>Memang ia adalah seseorang yang payah, sampai-sampai di keadaan seperti ini pun dirinya hanya bisa diam. Bagaimana nanti jika ia harus bertemu secara tatap muka dengan Yoongi?</p>

<p>Yang pastinya butuh lebih banyak keberanian dan kesabaran untuk tidak melepaskan emosinya begitu saja. Butuh lebih banyak usaha agar ia tidak melakukan hal-hal yang dapat membuat dirinya menyesal di kemudian hari.<strong>[]</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-383</guid>
      <pubDate>Fri, 22 Apr 2022 18:23:47 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>PDKT Class [332]</title>
      <link>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-332?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Kok lo makan cimol sendiri, sih?&#34; tanya Yoongi saat motor yang mereka kendarai berhenti saat di lampu merah. !--more--&#xA;&#xA;Jimin mendongakkan kepalanya, memperhatikan angka yang bergerak, yang menunjukkan berapa lama lagi lampu akan berubah menjadi hijau. Baru saat melihat angkanya masih berada pada angka dua ratusan, Jimin memberikan plastik cimol yang ada di genggamannya untuk Yoongi.&#xA;&#xA;Yoongi pun menerima plastik itu dengan wajah penuh kebingungan. Maksud dari ucapannya itu ingin disuapi oleh kekasihnya itu, tetapi Jimin malah langsung memberikan plastik itu untuknya.&#xA;&#xA;&#34;Bahaya, kalo gue yang nyuapin lo,&#34; ucap Jimin seolah bisa membaca pikiran dari Yoongi. &#34;Nanti kalo lo keselek tusukan cimol, siapa yang mau tanggung jawab?&#34;&#xA;&#xA;Mendengar ucapan polos yang dilontarkan oleh kekasihnya itu, Yoongi hanya tertawa pelan. Telapak tangannya yang lebar digunakan untuk mengusap lutut Jimin yang tertutupi oleh kain celananya. &#34;Lo, lah. Kan lo yang nyuapin gue.&#34;&#xA;&#xA;Suara tawa pun akhirnya terdengar saat Jimin mencubit pinggang Yoongi dengan kekuatan sedang. &#xA;&#xA;&#34;Lo emang suka banget main kekerasan, ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Diem lo. Gue bisa taekwondo,&#34; ucap Jimin sambil mendongakkan kepalanya bangga, seolah memberikan peringatan keras untuk lelaki yang merupakan kekasihnya itu. Ya, meskipun maksud darinya adalah hanya untuk bercanda semata.&#xA;&#xA;Waktu seolah berjalan lambat pada saat itu. Kini waktu di lampu merah itu hanya sekitar 120 detik atau sama dengan dua menit lamanya, yang semakin membuat Jimin mengeratkan pelukannya pada pinggang sang kekasih.&#xA;&#xA;Waktu sudah semakin sore, matahari juga sudah hampir tenggelam dengan meninggalkan warna kuning kejinggaan di langit pada sore itu. Entah kenapa, rasanya ia tidak ingin segera mengakhiri hari ini begitu saja. Ia masih ingin meluangkan waktu bersama Yoongi, untuk berjaga-jaga jika nantinya tidak akan ada hari-hari seperti hari ini lagi.&#xA;&#xA;&#34;Kok motor lo bukan yang kemarin, Kak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lagi diservis, makanya gue pake yang ada aja.&#34; &#xA;&#xA;Jimin berucap &#39;ooh&#39; dengan pelan dan samar, tanda jika ia mengerti dan paham. Kembali mereka saling mengunci mulut, sampai hanya terasa angin sore yang berdesir halus, usapan lembut pada lutut kanan Jimin, serta detak jantung mereka yang sama-sama menggila.&#xA;&#xA;Sore ini, mereka kembali merasakan perasaan satu sama lain yang sebegitu dalamnya untuk masing-masing insan. Jimin hanya berharap, jika sore ini akan terulang lagi dan bukan sore terakhir mereka menghabiskan waktu bersama.&#xA;&#xA;Karena perasaan yang ia rasakan untuk Yoongi, bukanlah perasaan main-main yang bisa hilang begitu saja meski untuk waktu yang lama.[]]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Kok lo makan cimol sendiri, sih?” tanya Yoongi saat motor yang mereka kendarai berhenti saat di lampu merah. </p>

<p>Jimin mendongakkan kepalanya, memperhatikan angka yang bergerak, yang menunjukkan berapa lama lagi lampu akan berubah menjadi hijau. Baru saat melihat angkanya masih berada pada angka dua ratusan, Jimin memberikan plastik cimol yang ada di genggamannya untuk Yoongi.</p>

<p>Yoongi pun menerima plastik itu dengan wajah penuh kebingungan. Maksud dari ucapannya itu ingin disuapi oleh kekasihnya itu, tetapi Jimin malah langsung memberikan plastik itu untuknya.</p>

<p>“Bahaya, kalo gue yang nyuapin lo,” ucap Jimin seolah bisa membaca pikiran dari Yoongi. “Nanti kalo lo keselek tusukan cimol, siapa yang mau tanggung jawab?”</p>

<p>Mendengar ucapan polos yang dilontarkan oleh kekasihnya itu, Yoongi hanya tertawa pelan. Telapak tangannya yang lebar digunakan untuk mengusap lutut Jimin yang tertutupi oleh kain celananya. “Lo, lah. Kan lo yang nyuapin gue.”</p>

<p>Suara tawa pun akhirnya terdengar saat Jimin mencubit pinggang Yoongi dengan kekuatan sedang.</p>

<p>“Lo emang suka banget main kekerasan, ya?”</p>

<p>“Diem lo. Gue bisa taekwondo,” ucap Jimin sambil mendongakkan kepalanya bangga, seolah memberikan peringatan keras untuk lelaki yang merupakan kekasihnya itu. Ya, meskipun maksud darinya adalah hanya untuk bercanda semata.</p>

<p>Waktu seolah berjalan lambat pada saat itu. Kini waktu di lampu merah itu hanya sekitar 120 detik atau sama dengan dua menit lamanya, yang semakin membuat Jimin mengeratkan pelukannya pada pinggang sang kekasih.</p>

<p>Waktu sudah semakin sore, matahari juga sudah hampir tenggelam dengan meninggalkan warna kuning kejinggaan di langit pada sore itu. Entah kenapa, rasanya ia tidak ingin segera mengakhiri hari ini begitu saja. Ia masih ingin meluangkan waktu bersama Yoongi, untuk berjaga-jaga jika nantinya tidak akan ada hari-hari seperti hari ini lagi.</p>

<p>“Kok motor lo bukan yang kemarin, Kak?”</p>

<p>“Lagi diservis, makanya gue pake yang ada aja.”</p>

<p>Jimin berucap &#39;ooh&#39; dengan pelan dan samar, tanda jika ia mengerti dan paham. Kembali mereka saling mengunci mulut, sampai hanya terasa angin sore yang berdesir halus, usapan lembut pada lutut kanan Jimin, serta detak jantung mereka yang sama-sama menggila.</p>

<p>Sore ini, mereka kembali merasakan perasaan satu sama lain yang sebegitu dalamnya untuk masing-masing insan. Jimin hanya berharap, jika sore ini akan terulang lagi dan bukan sore terakhir mereka menghabiskan waktu bersama.</p>

<p>Karena perasaan yang ia rasakan untuk Yoongi, bukanlah perasaan main-main yang bisa hilang begitu saja meski untuk waktu yang lama.<strong>[]</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-332</guid>
      <pubDate>Fri, 15 Apr 2022 07:28:32 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>PDKT Class [322]</title>
      <link>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-322?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Jimin mengeluarkan kepalanya dari jendela kamarnya saat ia mendengar namanya dipanggil samar dari luar sana. Bukan Yoongi dengan tangga yang dipinjam dari tetangga seperti saat itu, tetapi tetap kali ini yang memanggilnya adalah Yoongi. !--more--&#xA;&#xA;Pastinya lelaki itu sudah tahu jika mood-nya dari kemarin selalu jelek. Ya, karena siapa lagi kalau bukan karena pacarnya itu sendiri?&#xA;&#xA;Ingatan tentang Yoongi yang mengatakan akan pergi ke acara keluarga, tetapi malah pergi dengan Wendy, salah satu kakak kelas yang mempunyai penggemar di seluruh sudut sekolah. Bagaimana bisa ia lupa, saat lelaki itu menghampirinya di kelas dengan wajah tanpa dosa dan senyum gusinya.&#xA;&#xA;Menyebalkan.&#xA;&#xA;&#34;Jimin!&#34; panggil Yoongi sekali lagi saat melihat jendela kamar Jimin sudah terbuka, dengan kepala si lelaki yang sedikit mengintip, menatapnya dengan wajah sinis. &#34;Pintu lo!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gamau! Bokap sama nyokap gaada di rumah, pergi lo!&#34; &#xA;&#xA;Sesaat Jimin merasa menang saat Yoongi berjalan kembali ke motornya dengan lemas. Namun, perasaan itu segera dipatahkan saat Yoongi mengangkat plastik dengan sekotak martabak telur di dalamnya.&#xA;&#xA;Makanan, adalah kelemahan terbesarnya. Dan hal itulah yang bisa membuat Yoongi masuk hingga ke dalam kamar Jimin dengan senang hati. Ya, meskipun Jimin masih memberikan jarak, dengan membiarkan Yoongi duduk di dekat pintu kamar sementara dirinya duduk di atas ranjang seraya melahap martabak yang dibawakan oleh Yoongi untuknya.&#xA;&#xA;Jimin tidak menaruh atensi sama sekali untuk lelaki itu, membiarkan Yoongi duduk di lantai sambil menepuk-nepuk nyamuk yang hinggap di lengannya yang putih. Bahkan ia sudah sibuk bermain ponsel, berusaha mendiami Yoongi, melampiaskan rasa kesal yang sudah ia pendam dari beberapa hari yang lalu.&#xA;&#xA;Berusaha untuk tidak luluh dengan cepat untuk lelaki itu.&#xA;&#xA;&#34;Lo kenapa?&#34; tanya Yoongi meski Jimin enggan untuk membuka mulut. Helaan napas yang begitu berat keluar dari bibir tipisnya, memutar otak untuk bertanya hal lain yang sekiranya akan dijawab oleh lelaki itu. &#34;Lusa jadi jalan, kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terserah,&#34; jawab Jimin singkat.&#xA;&#xA;Senyum tipis terukir pada bibir Yoongi. Setidaknya, kekasih kecilnya itu masih mau menjawab.&#xA;&#xA;Selanjutnya ia pun mengeluarkan gitar miliknya dari dalam tas, sedikit memetiknya perlahan, sebelum memainkan beberapa kunci diikuti sebuah nyanyian pelan. Celengan Rindu, memangnya apa lagi?&#xA;&#xA;Bukannya senang mendengar suara berat Yoongi yang memang terdengar seksi dan maskulin, Jimin malah semakin mengerutkan keningnya. Kenapa setiap lelaki itu memegang gitar, selalu lagu itu yang ia mainkan. Aneh sekali.&#xA;&#xA;Jimin menunggu sampai Yoongi selesai bernyanyi sebelum berucap, &#34;Setiap lo main gitar selalu nyanyi lagu itu, lo rindu sama siapa, sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sama lo. Gue selalu kangen sama lo,&#34; jawab Yoongi dengan cepat. Matanya menatap lurus ke arah Jimin, menatap paras lelakinya yang begitu menawan. &#34;Mau se-lama apa pun kita nge-date di luar, mau sesering apa pun kita ketemu, gue tetep selalu kangen sama lo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kangen gue apa kangen yang lain, tuh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo, lah. Cuma lo.&#34;&#xA;&#xA;Terdengar bunyi dari gitar yang bersinggungan dengan lantai di bawah mereka, sebelum mulai terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah Jimin. Lelaki itu mendongakkan kepalanya dengan berani hingga tatapan matanya bertemu dengan manik mata hitam legam milik sang kekasih.&#xA;&#xA;Tampan, memang selalu tampan. Tidak heran jika seluruh isi sekolah membuat lelakinya ini menjadi idola mereka. &#xA;&#xA;&#34;Lo kenapa? Seminggu ini lo ngehindar dari gue, tapi akhirnya hari ini lo bisa natap mata gue lagi, ya.&#34; &#xA;&#xA;Mendengar kalimat yang Yoongi lontarkan barusan, seketika Jimin langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Malu, hampir saja pertahanannya runtuh.&#xA;&#xA;Tidak. Pada dasarnya, memang ia akan selalu luluh untuk Yoongi.&#xA;&#xA;Jari jemari Yoongi yang panjang dan besar membelai rahangnya dengan lembut. Jari telunjuk lelaki itu menyentuh dagunya, membuat kepalanya yang tadinya menunduk kini kembali menatap manik hitam itu dengan lurus.&#xA;&#xA;Wajah mereka semakin dekat, hidung yang saling bersentuhan, serta embusan napas satu sama lain yang membelai hangat bibir masing-masing.&#xA;&#xA;Apa mereka ... akan berciuman? Seperti film-film romantis yang sering Jimin tonton saat sedang liburan. Perlahan ia menutup matanya, memasrahkan seluruhnya pada lelaki di depannya ini.&#xA;&#xA;&#34;Jiji, ini Papa—Ya Tuhan, Jimin!&#34;[]]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Jimin mengeluarkan kepalanya dari jendela kamarnya saat ia mendengar namanya dipanggil samar dari luar sana. Bukan Yoongi dengan tangga yang dipinjam dari tetangga seperti saat itu, tetapi tetap kali ini yang memanggilnya adalah Yoongi. </p>

<p>Pastinya lelaki itu sudah tahu jika <em>mood</em>-nya dari kemarin selalu jelek. Ya, karena siapa lagi kalau bukan karena pacarnya itu sendiri?</p>

<p>Ingatan tentang Yoongi yang mengatakan akan pergi ke acara keluarga, tetapi malah pergi dengan Wendy, salah satu kakak kelas yang mempunyai penggemar di seluruh sudut sekolah. Bagaimana bisa ia lupa, saat lelaki itu menghampirinya di kelas dengan wajah tanpa dosa dan senyum gusinya.</p>

<p>Menyebalkan.</p>

<p>“Jimin!” panggil Yoongi sekali lagi saat melihat jendela kamar Jimin sudah terbuka, dengan kepala si lelaki yang sedikit mengintip, menatapnya dengan wajah sinis. “Pintu lo!”</p>

<p>“Gamau! Bokap sama nyokap gaada di rumah, pergi lo!”</p>

<p>Sesaat Jimin merasa menang saat Yoongi berjalan kembali ke motornya dengan lemas. Namun, perasaan itu segera dipatahkan saat Yoongi mengangkat plastik dengan sekotak martabak telur di dalamnya.</p>

<p>Makanan, adalah kelemahan terbesarnya. Dan hal itulah yang bisa membuat Yoongi masuk hingga ke dalam kamar Jimin dengan senang hati. Ya, meskipun Jimin masih memberikan jarak, dengan membiarkan Yoongi duduk di dekat pintu kamar sementara dirinya duduk di atas ranjang seraya melahap martabak yang dibawakan oleh Yoongi untuknya.</p>

<p>Jimin tidak menaruh atensi sama sekali untuk lelaki itu, membiarkan Yoongi duduk di lantai sambil menepuk-nepuk nyamuk yang hinggap di lengannya yang putih. Bahkan ia sudah sibuk bermain ponsel, berusaha mendiami Yoongi, melampiaskan rasa kesal yang sudah ia pendam dari beberapa hari yang lalu.</p>

<p>Berusaha untuk tidak luluh dengan cepat untuk lelaki itu.</p>

<p>“Lo kenapa?” tanya Yoongi meski Jimin enggan untuk membuka mulut. Helaan napas yang begitu berat keluar dari bibir tipisnya, memutar otak untuk bertanya hal lain yang sekiranya akan dijawab oleh lelaki itu. “Lusa jadi jalan, kan?”</p>

<p>“Terserah,” jawab Jimin singkat.</p>

<p>Senyum tipis terukir pada bibir Yoongi. Setidaknya, kekasih kecilnya itu masih mau menjawab.</p>

<p>Selanjutnya ia pun mengeluarkan gitar miliknya dari dalam tas, sedikit memetiknya perlahan, sebelum memainkan beberapa kunci diikuti sebuah nyanyian pelan. Celengan Rindu, memangnya apa lagi?</p>

<p>Bukannya senang mendengar suara berat Yoongi yang memang terdengar seksi dan maskulin, Jimin malah semakin mengerutkan keningnya. Kenapa setiap lelaki itu memegang gitar, selalu lagu itu yang ia mainkan. Aneh sekali.</p>

<p>Jimin menunggu sampai Yoongi selesai bernyanyi sebelum berucap, “Setiap lo main gitar selalu nyanyi lagu itu, lo rindu sama siapa, sih?”</p>

<p>“Sama lo. Gue selalu kangen sama lo,” jawab Yoongi dengan cepat. Matanya menatap lurus ke arah Jimin, menatap paras lelakinya yang begitu menawan. “Mau se-lama apa pun kita nge-<em>date</em> di luar, mau sesering apa pun kita ketemu, gue tetep selalu kangen sama lo.”</p>

<p>“Kangen gue apa kangen yang lain, tuh?”</p>

<p>“Lo, lah. Cuma lo.”</p>

<p>Terdengar bunyi dari gitar yang bersinggungan dengan lantai di bawah mereka, sebelum mulai terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah Jimin. Lelaki itu mendongakkan kepalanya dengan berani hingga tatapan matanya bertemu dengan manik mata hitam legam milik sang kekasih.</p>

<p>Tampan, memang selalu tampan. Tidak heran jika seluruh isi sekolah membuat lelakinya ini menjadi idola mereka.</p>

<p>“Lo kenapa? Seminggu ini lo ngehindar dari gue, tapi akhirnya hari ini lo bisa natap mata gue lagi, ya.”</p>

<p>Mendengar kalimat yang Yoongi lontarkan barusan, seketika Jimin langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Malu, hampir saja pertahanannya runtuh.</p>

<p>Tidak. Pada dasarnya, memang ia akan selalu luluh untuk Yoongi.</p>

<p>Jari jemari Yoongi yang panjang dan besar membelai rahangnya dengan lembut. Jari telunjuk lelaki itu menyentuh dagunya, membuat kepalanya yang tadinya menunduk kini kembali menatap manik hitam itu dengan lurus.</p>

<p>Wajah mereka semakin dekat, hidung yang saling bersentuhan, serta embusan napas satu sama lain yang membelai hangat bibir masing-masing.</p>

<p>Apa mereka ... akan berciuman? Seperti film-film romantis yang sering Jimin tonton saat sedang liburan. Perlahan ia menutup matanya, memasrahkan seluruhnya pada lelaki di depannya ini.</p>

<p>“Jiji, ini Papa—Ya Tuhan, Jimin!”<strong>[]</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-322</guid>
      <pubDate>Tue, 12 Apr 2022 14:01:53 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>PDKT Class [284]</title>
      <link>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-284?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Tas lo taruh aja di atas meja gue,&#34; ucap Yoongi seraya menggantung jaketnya pada hanger yang ada di dalam lemari. Ia memperhatikan kekasihnya itu dengan yakin, baru selanjutnya membuka pintu kamar bermaksud untuk keluar dari ruangan itu. Ya, jika saja tangannya tidak ditahan oleh lelaki itu. !--more--&#xA;&#xA;&#34;Kenapa lo ninggalin gue di sini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue mau ambil minuman buat lo,&#34; jawab Yoongi dengan suara yang teramat sangat lembut. Tangannya melepaskan genggaman Jimin pada lengan bajunya sembari berucap, &#34;Tunggu di sini dulu, ya, Pangeran kecil. Gak ada dedemit, kok.&#34;&#xA;&#xA;Jimin pun hanya memberikan tatapan tajam saat kekasihnya itu berucap mengejek. Menyebalkan, memang. &#xA;&#xA;Setelah Yoongi pergi, Jimin yang ditinggal sendiri di kamar itu mengalihkan tatapannya untuk memperhatikan sekelilingnya dengan cermat. Sesekali berdecak kagum, sebab ternyata kakak kelasnya itu terlahir dengan sendok emas.&#xA;&#xA;Padahal, Yoongi yang selama ini ia lihat, seperti orang-orang kebanyakan. Akan tetapi, setelah dilihat lagi, mungkin juga alasan dari lelaki itu bisa dengan mudah memberikan barang kepunyaannya pada orang lain—seperti jaket yang dilepas begitu saja untuk dirinya—karena Yoongi bisa membeli lagi dengan uangnya sendiri.&#xA;&#xA;Manik mata Jimin bergulir pelan mulai dari meja belajar yang terlihat minimalis, rak buku dengan susunan yang begitu rapi nyaris seperti tidak pernah disentuh, hingga matanya berhenti pada sebuah gitar akustik yang terletak di sudut ruangan.&#xA;&#xA;Kekasihnya ini, memang terkenal dengan kalimat &#39;Si serba bisa Yoongi&#39;. Sudahlah merupakan bagian dari komite kedisiplinan, kapten di tim basket sekolah, masuk peringkat paralel, bahkan hingga bermain musik seperti ini.&#xA;&#xA;Benar-benar mengagumkan. Jimin ingin sekali membanggakan kekasihnya yang begitu hebat, tetapi sayang sekali mereka malah backstreet. &#xA;&#xA;&#34;Udah selesai ngelamunnya, Tuan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ih! Lo ngagetin ....&#34; Jimin menatap sebal pada lelaki yang lebih tua darinya itu sebelum menerima segelas teh hangat dari tangan Yoongi. Datang tidak memberi salam, wajar saja dirinya kaget.&#xA;&#xA;&#34;Lagian, lo lagi mikir apa, sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo emang serba bisa, ya?&#34;&#xA;&#xA;Terdengar tawa samar dari mulut Yoongi. Ia mengikuti arah pandang kekasih kecilnya, sebelum mengangguk mengerti. &#34;Gitar? Mau gue mainin buat lo?&#34;&#xA;&#xA;Manik mereka bertatapan. Jimin sedikit mendongak sebab dirinya duduk di atas kasur, sementara Yoongi menunduk sebab posisinya saat ini sedang berdiri tepat di sebelah lelaki itu.&#xA;&#xA;Melihat tatapan memohon mirip anjing kecil yang manis, akhirnya Yoongi pun menghela napas pasrah. Sungguh, ia tidak akan pernah bisa menang melawan kekasihnya ini. Siapa yang bisa mengatakan tidak saat lawan bicaramu memiliki tampang semanis Jimin?&#xA;&#xA;Yoongi melangkahkan tungkai kakinya, perlahan meraih gitar yang sering ia mainkan jika sudah bosan dengan rentetan huruf dan angka yang menemani dirinya setiap malam. Sedikit memetiknya asal, sebelum akhirnya memainkan beberapa kunci nada yang terdengar sangat familiar.&#xA;&#xA;Dan tunggulah, aku di sana,&#xA;Memecahkan celengan rinduku,&#xA;Berboncengan denganmu, mengelilingi kota, menikmati surya perlahan menghilang,&#xA;&#xA;Celengan rindu, oleh Fiersa Besari. Lagu itu memang sering kali diputar dan menjadi favorit anak-anak kelas jika ada seseorang yang membawa speaker. Namun, melihat Yoongi bernyanyi di depannya seperti ini, sungguh terasa berbeda sekali.&#xA;&#xA;Hingga kejamnya waktu, menarik paksa kau dari pelukku,&#xA;Lalu kita kembali, menabung rasa rindu, saling mengirim doa,&#xA;Sampai nanti, sayangku.&#xA;&#xA;Apalagi, saat lelaki itu menatap matanya lurus-lurus pada baris terakhir lagu itu. Membuat jantungnya berdebar cepat, serta wajahnya menjadi panas hingga ke telinga.&#xA;&#xA;Ia benar-benar ... menyukai kakak kelasnya ini.[]]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Tas lo taruh aja di atas meja gue,” ucap Yoongi seraya menggantung jaketnya pada hanger yang ada di dalam lemari. Ia memperhatikan kekasihnya itu dengan yakin, baru selanjutnya membuka pintu kamar bermaksud untuk keluar dari ruangan itu. Ya, jika saja tangannya tidak ditahan oleh lelaki itu. </p>

<p>“Kenapa lo ninggalin gue di sini?”</p>

<p>“Gue mau ambil minuman buat lo,” jawab Yoongi dengan suara yang teramat sangat lembut. Tangannya melepaskan genggaman Jimin pada lengan bajunya sembari berucap, “Tunggu di sini dulu, ya, Pangeran kecil. Gak ada dedemit, kok.”</p>

<p>Jimin pun hanya memberikan tatapan tajam saat kekasihnya itu berucap mengejek. Menyebalkan, memang.</p>

<p>Setelah Yoongi pergi, Jimin yang ditinggal sendiri di kamar itu mengalihkan tatapannya untuk memperhatikan sekelilingnya dengan cermat. Sesekali berdecak kagum, sebab ternyata kakak kelasnya itu <em>terlahir dengan sendok emas</em>.</p>

<p>Padahal, Yoongi yang selama ini ia lihat, seperti orang-orang kebanyakan. Akan tetapi, setelah dilihat lagi, mungkin juga alasan dari lelaki itu bisa dengan mudah memberikan barang kepunyaannya pada orang lain—seperti jaket yang dilepas begitu saja untuk dirinya—karena Yoongi bisa membeli lagi dengan uangnya sendiri.</p>

<p>Manik mata Jimin bergulir pelan mulai dari meja belajar yang terlihat minimalis, rak buku dengan susunan yang begitu rapi nyaris seperti tidak pernah disentuh, hingga matanya berhenti pada sebuah gitar akustik yang terletak di sudut ruangan.</p>

<p>Kekasihnya ini, memang terkenal dengan kalimat &#39;Si serba bisa Yoongi&#39;. Sudahlah merupakan bagian dari komite kedisiplinan, kapten di tim basket sekolah, masuk peringkat paralel, bahkan hingga bermain musik seperti ini.</p>

<p>Benar-benar mengagumkan. Jimin ingin sekali membanggakan kekasihnya yang begitu hebat, tetapi sayang sekali mereka malah <em>backstreet</em>.</p>

<p>“Udah selesai ngelamunnya, Tuan?”</p>

<p>“Ih! Lo ngagetin ....” Jimin menatap sebal pada lelaki yang lebih tua darinya itu sebelum menerima segelas teh hangat dari tangan Yoongi. Datang tidak memberi salam, wajar saja dirinya kaget.</p>

<p>“Lagian, lo lagi mikir apa, sih?”</p>

<p>“Lo emang serba bisa, ya?”</p>

<p>Terdengar tawa samar dari mulut Yoongi. Ia mengikuti arah pandang kekasih kecilnya, sebelum mengangguk mengerti. “Gitar? Mau gue mainin buat lo?”</p>

<p>Manik mereka bertatapan. Jimin sedikit mendongak sebab dirinya duduk di atas kasur, sementara Yoongi menunduk sebab posisinya saat ini sedang berdiri tepat di sebelah lelaki itu.</p>

<p>Melihat tatapan memohon mirip anjing kecil yang manis, akhirnya Yoongi pun menghela napas pasrah. Sungguh, ia tidak akan pernah bisa menang melawan kekasihnya ini. Siapa yang bisa mengatakan tidak saat lawan bicaramu memiliki tampang semanis Jimin?</p>

<p>Yoongi melangkahkan tungkai kakinya, perlahan meraih gitar yang sering ia mainkan jika sudah bosan dengan rentetan huruf dan angka yang menemani dirinya setiap malam. Sedikit memetiknya asal, sebelum akhirnya memainkan beberapa kunci nada yang terdengar sangat familiar.</p>

<p><em>Dan tunggulah, aku di sana,</em>
<em>Memecahkan celengan rinduku,</em>
<em>Berboncengan denganmu, mengelilingi kota, menikmati surya perlahan menghilang,</em></p>

<p>Celengan rindu, oleh Fiersa Besari. Lagu itu memang sering kali diputar dan menjadi favorit anak-anak kelas jika ada seseorang yang membawa <em>speaker</em>. Namun, melihat Yoongi bernyanyi di depannya seperti ini, sungguh terasa berbeda sekali.</p>

<p><em>Hingga kejamnya waktu, menarik paksa kau dari pelukku,</em>
<em>Lalu kita kembali, menabung rasa rindu, saling mengirim doa,</em>
<em>Sampai nanti, sayangku.</em></p>

<p>Apalagi, saat lelaki itu menatap matanya lurus-lurus pada baris terakhir lagu itu. Membuat jantungnya berdebar cepat, serta wajahnya menjadi panas hingga ke telinga.</p>

<p>Ia benar-benar ... menyukai kakak kelasnya ini.<strong>[]</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-284</guid>
      <pubDate>Thu, 31 Mar 2022 14:44:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>PDKT Class [256]</title>
      <link>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-256?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Pake mi bihun sama mi kuning,&#34; ucap Jimin sembari menahan pergerakan Yoongi yang baru saja ingin beranjak dari meja mereka. Tangannya meremat ujung kemeja putih yang Yoongi pakai, sementara wajahnya menunduk malu. &#34;Favorit gue. Gue gak mau makan kalo lo salah pesennya.&#34; !--more--&#xA;&#xA;Hanya terdengar suara tawa kecil dari yang lebih tua, diikuti dengan usapan ringan pada pucuk kepala. Yang sungguh, membuat jantung Jimin menjadi lebih berdebar-debar dari biasanya. &#xA;&#xA;Pun setelahnya, Yoongi baru benar-benar berjalan menjauh, menghampiri penjual bakso langganan mereka.&#xA;&#xA;Jimin yang sedari tadi menahan malu hanya berusaha mengalihkan perhatiannya pada ponsel genggam bututnya. Berulang kali mengumpat sebab layarnya yang nge-heng, sampai-sampai kembali mengundang suara tawa dari sang kekasih.&#xA;&#xA;&#34;Setiap lo sama gue, kenapa ngumpat terus, sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo juga gitu, kalo kalah sparing.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tabiat buruk gue jangan ditiru, dong, Pacar.&#34; Panggilan singkat dari Yoongi itu lagi-lagi membuat wajahnya memerah samar. Entah sudah berapa kali hari ini dirinya dibuat malu-malu seperti ini hanya karena gombalan receh yang dituturkan oleh lawan bicaranya itu.&#xA;&#xA;Menyebalkan. Yoongi yang ia kenal, memang selalu menyebalkan.&#xA;&#xA;&#34;Biarin. Orang gue udah gini dari dulu.&#34; Tawa Yoongi kembali menyambut ucapan yang dilontarkan oleh Jimin. Menertawakan betapa imut lelakinya ini, serta betapa manis pangeran kecilnya.&#xA;&#xA;Tidak ada yang menemani hening di antara mereka saat tengah menunggu 2 bakso dan 2 es teh yang mereka pesan untuk makan siang di hari itu. Tidak terasa canggung sama sekali, bahkan malah terasa hangat. &#xA;&#xA;Entah karena mereka yang berbicara melalui tatapan dan sentuhan tangan di atas meja, atau karena memang ikatan batin mereka yang terjalin begitu kuatnya sejak menjadi sepasang kekasih. &#xA;&#xA;&#34;Ji,&#34; panggil Yoongi, &#34;lo gak mau kayak orang-orang lainnya? Manggil aku—kamu, gitu.&#34;&#xA;&#xA;Kepala Jimin naik, menatap kedua pupil hitam legam milik kakak kelasnya itu dengan tatapan bingung. Sejenak ia berpikir dalam-dalam, baru akhirnya membuka mulut dan berkata, &#34;Gak jijik, lo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kan, sama pacar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Najis,&#34; balas Jimin sembari tertawa ringan. Senyum terukir pada bilah bibir plum-nya, turut mengundang sang lawan bicara ikut tersenyum kecil menemani dirinya. &#34;Kalo sama kamu, aku ikut aja.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ini baksonya, Den.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Eh, iya, Mang.&#34; Jimin menyahut dengan sedikit gugup. Seolah tertangkap basah habis melakukan suatu kejahatan yang tiada duanya.&#xA;&#xA;Ia begitu malu, sebab dirinya seperti tengah menggoda Yoongi. Yang padahal lelaki itu adalah kekasihnya sendiri. Memalukan.&#xA;&#xA;Kembali ia fokus kepada mangkuk baksonya. Berusaha melupakan semua pikiran yang bergejolak di dalam kepalanya. Ia menyeruput kuahnya dengan tenang, seraya sesekali mengibaskan tangan di sekitar wajahnya dengan raut tidak nyaman. &#xA;&#xA;&#34;Woy! Rafli, kan, ya?&#34; teriak Yoongi yang ditujukan untuk seseorang di belakang Jimin. &#34;Tolong matiin rokok lo, ada orang lagi makan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh? Iya, Bang, maaf.&#34; &#xA;&#xA;Jimin pun hanya mengulum senyum dengan wajahnya yang tetap menunduk dalam-dalam menyembunyikan wajahnya yang total memerah. Jika kuah bakso ini sudah panas maka wajah Jimin tidak kalah panasnya dengan benda cair itu. &#xA;&#xA;Apalagi saat Yoongi berbisik tepat di wajahnya. Mengatakan, &#34;Gak bisa kena asap rokok, catet. Biar kamu nyaman jalan sama aku tiap hari.&#34;[]]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Pake mi bihun sama mi kuning,” ucap Jimin sembari menahan pergerakan Yoongi yang baru saja ingin beranjak dari meja mereka. Tangannya meremat ujung kemeja putih yang Yoongi pakai, sementara wajahnya menunduk malu. “Favorit gue. Gue gak mau makan kalo lo salah pesennya.” </p>

<p>Hanya terdengar suara tawa kecil dari yang lebih tua, diikuti dengan usapan ringan pada pucuk kepala. Yang sungguh, membuat jantung Jimin menjadi lebih berdebar-debar dari biasanya.</p>

<p>Pun setelahnya, Yoongi baru benar-benar berjalan menjauh, menghampiri penjual bakso langganan mereka.</p>

<p>Jimin yang sedari tadi menahan malu hanya berusaha mengalihkan perhatiannya pada ponsel genggam bututnya. Berulang kali mengumpat sebab layarnya yang nge-heng, sampai-sampai kembali mengundang suara tawa dari sang kekasih.</p>

<p>“Setiap lo sama gue, kenapa ngumpat terus, sih?”</p>

<p>“Lo juga gitu, kalo kalah <em>sparing</em>.”</p>

<p>“Tabiat buruk gue jangan ditiru, dong, Pacar.” Panggilan singkat dari Yoongi itu lagi-lagi membuat wajahnya memerah samar. Entah sudah berapa kali hari ini dirinya dibuat malu-malu seperti ini hanya karena gombalan receh yang dituturkan oleh lawan bicaranya itu.</p>

<p>Menyebalkan. Yoongi yang ia kenal, memang selalu menyebalkan.</p>

<p>“Biarin. Orang gue udah gini dari dulu.” Tawa Yoongi kembali menyambut ucapan yang dilontarkan oleh Jimin. Menertawakan betapa imut lelakinya ini, serta betapa manis pangeran kecilnya.</p>

<p>Tidak ada yang menemani hening di antara mereka saat tengah menunggu 2 bakso dan 2 es teh yang mereka pesan untuk makan siang di hari itu. Tidak terasa canggung sama sekali, bahkan malah terasa hangat.</p>

<p>Entah karena mereka yang berbicara melalui tatapan dan sentuhan tangan di atas meja, atau karena memang ikatan batin mereka yang terjalin begitu kuatnya sejak menjadi sepasang kekasih.</p>

<p>“Ji,” panggil Yoongi, “lo gak mau kayak orang-orang lainnya? Manggil aku—kamu, gitu.”</p>

<p>Kepala Jimin naik, menatap kedua pupil hitam legam milik kakak kelasnya itu dengan tatapan bingung. Sejenak ia berpikir dalam-dalam, baru akhirnya membuka mulut dan berkata, “Gak jijik, lo?”</p>

<p>“Kan, sama pacar.”</p>

<p>“Najis,” balas Jimin sembari tertawa ringan. Senyum terukir pada bilah bibir <em>plum</em>-nya, turut mengundang sang lawan bicara ikut tersenyum kecil menemani dirinya. “Kalo sama kamu, aku ikut aja.”</p>

<p>“Ini baksonya, Den.”</p>

<p>“Eh, iya, Mang.” Jimin menyahut dengan sedikit gugup. Seolah tertangkap basah habis melakukan suatu kejahatan yang tiada duanya.</p>

<p>Ia begitu malu, sebab dirinya seperti tengah menggoda Yoongi. Yang padahal lelaki itu adalah kekasihnya sendiri. Memalukan.</p>

<p>Kembali ia fokus kepada mangkuk baksonya. Berusaha melupakan semua pikiran yang bergejolak di dalam kepalanya. Ia menyeruput kuahnya dengan tenang, seraya sesekali mengibaskan tangan di sekitar wajahnya dengan raut tidak nyaman.</p>

<p>“Woy! Rafli, kan, ya?” teriak Yoongi yang ditujukan untuk seseorang di belakang Jimin. “Tolong matiin rokok lo, ada orang lagi makan.”</p>

<p>“Eh? Iya, Bang, maaf.”</p>

<p>Jimin pun hanya mengulum senyum dengan wajahnya yang tetap menunduk dalam-dalam menyembunyikan wajahnya yang total memerah. Jika kuah bakso ini sudah panas maka wajah Jimin tidak kalah panasnya dengan benda cair itu.</p>

<p>Apalagi saat Yoongi berbisik tepat di wajahnya. Mengatakan, “Gak bisa kena asap rokok, catet. Biar kamu nyaman jalan sama aku tiap hari.”<strong>[]</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-256</guid>
      <pubDate>Thu, 24 Mar 2022 17:45:19 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>PDKT Class [217]</title>
      <link>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-217?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Ruang keluarga di rumah Jimin pada pagi itu malah terasa sepi sekali semenjak kedatangan satu tamu—yang tentunya sudah tidak terlalu asing—dari luar. Entah apa yang menyebabkan suasananya terasa kaku seperti itu, yang pastinya Jimin dan Yoongi adalah salah satu dalang dari penyebabnya hal itu terjadi. !--more--&#xA;&#xA;Kedua anak SMA yang 2 minggu lalu baru saja mengubah status itu kini terlihat sangat canggung dengan satu sama lain. Padahal biasanya mereka tidak segan-segan melempar candaan untuk satu sama lain dan saling mengejek.&#xA;&#xA;Namun, situasi kali ini terlalu canggung dan kaku hingga membuat Ayah Jimin berdecak keras. &#34;Kalian ini mau diem-dieman terus, ya, sampai itu buburnya bakal jadi nasi lagi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hush, Papa. Gak boleh begitu, ah, sama adek,&#34; sahut Mama Jimin dari arah dapur. Lalu, wanita yang terlihat berada di pertengahan umur empat puluhan itu dengan lembut berucap, &#34;Yoongi kalau mau lama-lama di sini juga gapapa. Sekalian kalau perlu Jiminnya diajak malam mingguan, udah lama kami gak pernah lihat Jiji pacaran, soalnya.&#34;&#xA;&#xA;Satu hal lagi yang Yoongi ketahui tentang Jimin. Bahwa lelaki itu kelihatannya benar-benar suka mengerjai dirinya sebab tidak ada satu pun raut galak yang terpancar dari wajah Ibu dari kekasihnya itu. &#xA;&#xA;Justru malah ia sangat disambut baik saat pertama kali mengetuk pintu rumah keluarga Jimin. Keluarga mereka sangatlah hangat.&#xA;&#xA;&#34;Mama, ih.&#34; Jimin mendesis malu, seraya mengerutkan dahinya dalam-dalam. Entah kenapa malu sekali jika digoda oleh keluarga habis-habisan seperti itu. &#xA;&#xA;Setelah kedua orang tua Jimin pergi untuk belanja bulanan, Jimin baru berani menatap kedua mata Yoongi. Tentu menatap dengan penuh rasa kesal karena seperti hanya dirinya sendiri yang kelihatan malu-malu dengan status baru mereka.&#xA;&#xA;&#34;Katanya jogging, kok ke sininya malah naik motor.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kaki gue bisa patah kalo jalan dari rumah gue sampe rumah lo,&#34; jawab Yoongi sembari mengeluarkan satu per satu bubur yang ia bawa dari dalam plastik. Namun, setelahnya Yoongi hanya menatap Jimin bingung sebab lelaki itu tidak kunjung mengambil bubur yang ia belikan. &#xA;&#xA;Lelaki itu hanya membuka, menutup, lalu menatapnya dengan tatapan datar. &#34;Kenapa, Ji?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ada kacang sama daun bawangnya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, lo gak suka?&#34; Melihat sebuah anggukan Jimin berikan sebagai jawaban bagi pertanyaannya, Yoongi pun segera meraih sendok terdekat dan menyingkirkan semua bagian yang Jimin tidak suka sebelum dipindahkan ke mangkuknya sendiri. &#34;Lain kali gue bilangin ke abangnya biar gak pake kacang sama daun bawang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Makin sayang, deh, sama lo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo kalo bercanda jangan begitu, jantung gue mau meledak.&#34;[]&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Ruang keluarga di rumah Jimin pada pagi itu malah terasa sepi sekali semenjak kedatangan satu tamu—yang tentunya sudah tidak terlalu asing—dari luar. Entah apa yang menyebabkan suasananya terasa kaku seperti itu, yang pastinya Jimin dan Yoongi adalah salah satu dalang dari penyebabnya hal itu terjadi. </p>

<p>Kedua anak SMA yang 2 minggu lalu baru saja mengubah status itu kini terlihat sangat canggung dengan satu sama lain. Padahal biasanya mereka tidak segan-segan melempar candaan untuk satu sama lain dan saling mengejek.</p>

<p>Namun, situasi kali ini terlalu canggung dan kaku hingga membuat Ayah Jimin berdecak keras. “Kalian ini mau diem-dieman terus, ya, sampai itu buburnya bakal jadi nasi lagi?”</p>

<p>“Hush, Papa. Gak boleh begitu, ah, sama adek,” sahut Mama Jimin dari arah dapur. Lalu, wanita yang terlihat berada di pertengahan umur empat puluhan itu dengan lembut berucap, “Yoongi kalau mau lama-lama di sini juga gapapa. Sekalian kalau perlu Jiminnya diajak malam mingguan, udah lama kami gak pernah lihat Jiji pacaran, soalnya.”</p>

<p>Satu hal lagi yang Yoongi ketahui tentang Jimin. Bahwa lelaki itu kelihatannya benar-benar suka mengerjai dirinya sebab tidak ada satu pun raut galak yang terpancar dari wajah Ibu dari kekasihnya itu.</p>

<p>Justru malah ia sangat disambut baik saat pertama kali mengetuk pintu rumah keluarga Jimin. Keluarga mereka sangatlah hangat.</p>

<p>“Mama, ih.” Jimin mendesis malu, seraya mengerutkan dahinya dalam-dalam. Entah kenapa malu sekali jika digoda oleh keluarga habis-habisan seperti itu.</p>

<p>Setelah kedua orang tua Jimin pergi untuk belanja bulanan, Jimin baru berani menatap kedua mata Yoongi. Tentu menatap dengan penuh rasa kesal karena seperti hanya dirinya sendiri yang kelihatan malu-malu dengan status baru mereka.</p>

<p>“Katanya <em>jogging</em>, kok ke sininya malah naik motor.”</p>

<p>“Kaki gue bisa patah kalo jalan dari rumah gue sampe rumah lo,” jawab Yoongi sembari mengeluarkan satu per satu bubur yang ia bawa dari dalam plastik. Namun, setelahnya Yoongi hanya menatap Jimin bingung sebab lelaki itu tidak kunjung mengambil bubur yang ia belikan.</p>

<p>Lelaki itu hanya membuka, menutup, lalu menatapnya dengan tatapan datar. “Kenapa, Ji?”</p>

<p>“Ada kacang sama daun bawangnya.”</p>

<p>“Oh, lo gak suka?” Melihat sebuah anggukan Jimin berikan sebagai jawaban bagi pertanyaannya, Yoongi pun segera meraih sendok terdekat dan menyingkirkan semua bagian yang Jimin tidak suka sebelum dipindahkan ke mangkuknya sendiri. “Lain kali gue bilangin ke abangnya biar gak pake kacang sama daun bawang.”</p>

<p>“Makin sayang, deh, sama lo.”</p>

<p>“Lo kalo bercanda jangan begitu, jantung gue mau meledak.”<strong>[]</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://yourjiminie.writeas.com/pdkt-class-217</guid>
      <pubDate>Tue, 08 Mar 2022 03:17:24 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>The Case [185]</title>
      <link>https://yourjiminie.writeas.com/the-case-185?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Suara samar dari mesin penyeduh kopi yang ada di pojok ruangan menjadi penengah di antara ketegangan yang ada di dalam ruangan itu. Hari ini juga, hari yang sama dengan hari di mana salah satu sumber informasi mengungkapkan semua yang terjadi di dalam tim, mereka akhirnya dapat menginterogasi salah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan kematian Lim Youngchan. !--more--&#xA;&#xA;Ha Ki-joon. Pria berusia 57 tahun, yang akhirnya dipanggil ke dalam ruangan ini. &#xA;&#xA;Pria itu terlihat begitu santai. Ia tetap mempertahankan raut wajahnya yang datar, bahkan dengan berani membalas tatapan yang dilayangkan Jimin padanya.&#xA;&#xA;&#34;Pria ini benar-benar tidak ingin berbicara, aku ngantuk-&#34; &#xA;&#xA;&#34;Jungkook!&#34; Jimin mendengar dengan jelas bagaimana teman-temannya berbincang dengan satu sama lain di ruang sebelah. Pun akhirnya Jimin kembali menghiasi wajahnya dengan senyuman tipis.&#xA;&#xA;&#34;Anda tahu, kenapa Anda bisa dipanggil ke sini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalian cuma penegak hukum yang sedang bosan saja. Lagi pula kasus Youngchan sudah selesai, buntu.&#34; Ki-joon menjawab dengan santai. &#xA;&#xA;Mendengar tawa kecil yang keluar dari mulut tersangka di depannya ini, sontak membuat Jimin sedikit naik pitam. Menghadapi orang yang arogan seperti ini bukanlah hal baru lagi baginya, tetapi tetap saja terasa melelahkan.&#xA;&#xA;Apalagi di saat Yoongi tidak bisa menemaninya di saat-saat seperti ini. Pria itu malah sibuk dan meninggalkannya sendirian di ruangan interogasi. &#xA;&#xA;&#34;Lihat ini, pakaian yang Anda pakai saat di pertandingan saat itu.&#34; Jimin meletakkan foto yang ia bawa ke atas meja. Sebelum tangannya kembali mengeluarkan selembar kertas foto lainnya yang berupa tempat kejadian perkara saat Youngchan terbunuh. Lebih tepatnya, di sat Youngchan sedang dibunuh oleh sang pelaku. &#xA;&#xA;&#34;Kalian hanya punya ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Menggelapkan dana sponsor Red Tiger, mengancam anak didiknya, dan membunuh dua orang yang tidak bersalah.&#34; Atmosfer di ruangan itu terasa semakin menegang. Kedua orang di dalamnya tengah beradu pandang, tidak ada satu pun yang ingin mengalah dengan argumennya masing-masing.&#xA;&#xA;Dua orang dengan tujuan yang berbeda, tetapi dengan emosi yang sama besarnya. Sungguh membuat seisi ruangan itu seperti berada di tengah badai salju.&#xA;&#xA;&#34;Orang yang mati karena penyakit kanker, tidak ada urusannya dengan saya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh? Saya tidak pernah menyebutkan jika salah satunya adalah adik Lim Youngchan-ssi yang tengah mengidap penyakit kanker darah. Dari mana Anda tahu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jincheol bajingan,&#34; makinya dengan bersungut-sungut. Walaupun pada akhirnya, Ki-joon melempar senyum kepada Jimin yang tengah menatapinya sedari tadi dengan tatapan tajam. &#34;Lim Youngchan, memang pantas mati. Anak itu cuma menyusahkan saya, anak tidak berguna yang sudah sepantasnya mati di tangan saya sendiri.&#34; &#xA;&#xA;Di saat itu, Jimin menyadari. Jika yang dihadapinya saat ini, adalah sesosok iblis yang sangat jahat. Iblis dalam bentuk manusia, yang tidak ragu untuk melakukan apa pun pada sesuatu yang menghalangi jalannya.[]]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Suara samar dari mesin penyeduh kopi yang ada di pojok ruangan menjadi penengah di antara ketegangan yang ada di dalam ruangan itu. Hari ini juga, hari yang sama dengan hari di mana salah satu sumber informasi mengungkapkan semua yang terjadi di dalam tim, mereka akhirnya dapat menginterogasi salah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan kematian Lim Youngchan. </p>

<p>Ha Ki-joon. Pria berusia 57 tahun, yang akhirnya dipanggil ke dalam ruangan ini.</p>

<p>Pria itu terlihat begitu santai. Ia tetap mempertahankan raut wajahnya yang datar, bahkan dengan berani membalas tatapan yang dilayangkan Jimin padanya.</p>

<p><em>“Pria ini benar-benar tidak ingin berbicara, aku ngantuk-”</em></p>

<p><em>“Jungkook!”</em> Jimin mendengar dengan jelas bagaimana teman-temannya berbincang dengan satu sama lain di ruang sebelah. Pun akhirnya Jimin kembali menghiasi wajahnya dengan senyuman tipis.</p>

<p>“Anda tahu, kenapa Anda bisa dipanggil ke sini?”</p>

<p>“Kalian cuma penegak hukum yang sedang bosan saja. Lagi pula kasus Youngchan sudah selesai, buntu.” Ki-joon menjawab dengan santai.</p>

<p>Mendengar tawa kecil yang keluar dari mulut tersangka di depannya ini, sontak membuat Jimin sedikit naik pitam. Menghadapi orang yang arogan seperti ini bukanlah hal baru lagi baginya, tetapi tetap saja terasa melelahkan.</p>

<p>Apalagi di saat Yoongi tidak bisa menemaninya di saat-saat seperti ini. Pria itu malah sibuk dan meninggalkannya sendirian di ruangan interogasi.</p>

<p>“Lihat ini, pakaian yang Anda pakai saat di pertandingan saat itu.” Jimin meletakkan foto yang ia bawa ke atas meja. Sebelum tangannya kembali mengeluarkan selembar kertas foto lainnya yang berupa tempat kejadian perkara saat Youngchan terbunuh. Lebih tepatnya, di sat Youngchan sedang dibunuh oleh sang pelaku.</p>

<p>“Kalian hanya punya ini?”</p>

<p>“Menggelapkan dana sponsor Red Tiger, mengancam anak didiknya, dan membunuh dua orang yang tidak bersalah.” Atmosfer di ruangan itu terasa semakin menegang. Kedua orang di dalamnya tengah beradu pandang, tidak ada satu pun yang ingin mengalah dengan argumennya masing-masing.</p>

<p>Dua orang dengan tujuan yang berbeda, tetapi dengan emosi yang sama besarnya. Sungguh membuat seisi ruangan itu seperti berada di tengah badai salju.</p>

<p>“Orang yang mati karena penyakit kanker, tidak ada urusannya dengan saya.”</p>

<p>“Oh? Saya tidak pernah menyebutkan jika salah satunya adalah adik Lim Youngchan-<em>ssi</em> yang tengah mengidap penyakit kanker darah. Dari mana Anda tahu?”</p>

<p>“Jincheol bajingan,” makinya dengan bersungut-sungut. Walaupun pada akhirnya, Ki-joon melempar senyum kepada Jimin yang tengah menatapinya sedari tadi dengan tatapan tajam. “Lim Youngchan, memang pantas mati. Anak itu cuma menyusahkan saya, anak tidak berguna yang sudah sepantasnya mati di tangan saya sendiri.”</p>

<p>Di saat itu, Jimin menyadari. Jika yang dihadapinya saat ini, adalah sesosok iblis yang sangat jahat. Iblis dalam bentuk manusia, yang tidak ragu untuk melakukan apa pun pada sesuatu yang menghalangi jalannya.<strong>[]</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://yourjiminie.writeas.com/the-case-185</guid>
      <pubDate>Tue, 22 Feb 2022 17:13:01 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>The Case [174]</title>
      <link>https://yourjiminie.writeas.com/the-case-174?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Kamu masih belum pulang juga?&#34; Suara berat milik Yoongi menggema di dalam ruangan itu. Hoseok yang tengah melahap mi instannya pun sedikit mendongakkan kepalanya sebelum menggeleng pelan, memaklumi perselisihan yang kembali terjadi di antara anggota mereka. !--more--&#xA;&#xA;Ya, siapa lagi kalau bukan Yoongi dan Jimin? Semenjak pagi tadi, Yoongi terus-terusan meminta Jimin untuk beristirahat dan pulang ke rumah karena kondisi badan laki-laki itu yang sedang tidak baik. Meskipun pada akhirnya Jimin tetap bersikukuh tidak ingin pulang dengan tetap menempelkan pantatnya pada kursi kerjanya.&#xA;&#xA;Jika dua orang yang begitu keras kepala dipertemukan, seketika itu juga pertempuran akan terjadi. Bahkan Hoseok hanya bisa berdecak malas, serta melempar tatapan yang menyuarakan, &#39;Dasar bocah-bocah ini&#39; kepada kedua insan itu.&#xA;&#xA;&#34;Kamu itu lagi sakit, Ji—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Permisi,&#34; ucap salah seorang rekan mereka dari divisi lain. Dengan sigap, Yoongi mempersilakan sosok laki-laki berumur di awal dua puluhan itu untuk masuk ke dalam ruangan mereka.&#xA;&#xA;Sekilas terbentuk perempatan imajiner di saat ia melihat rekannya itu membawa salah seorang laki-laki yang lebih muda. Berdiri, mengekorinya begitu saja. &#xA;&#xA;&#34;Hwang Jincheol-ssi?&#34; sahut Hoseok dari jauh. Ia melupakan mi instannya di atas meja, dan segera bergerak mendekat ke arah meja Jimin. &#xA;&#xA;&#34;Siapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh? Temannya Lim Youngchan-ssi. Catcher dari Red Tiger.&#34; Hoseok menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Yoongi dengan pasti dan yakin. Namun, seketika tatapannya berubah menjadi tatapan penuh kebingungan. Bingung perihal hal apa yang membuat lelaki itu sampai datang kemari.&#xA;&#xA;Setelah sang pengantar sudah selesai dengan tugasnya dan keluar dari ruangan, kini hanya tersisa mereka bertiga di dalam sana. Jimin yang sedikit merasa pusing pun hanya menumpu dagunya dengan tangan, berusaha menangkap apa pun yang akan diucapkan dari teman si korban.&#xA;&#xA;Tentu, hal ini bisa menjadi bukti yang sangat kuat dan akurat. Karena sebelumnya baik anggota tim dan anggota lawan tidak ada satu pun yang ingin berbicara dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa.&#xA;&#xA;&#34;Apa kasus dari Youngchanie sudah selesai?&#34; tanya lelaki bermarga Hwang itu dengan suara yang begitu lirih. &#xA;&#xA;&#34;Dua tersangka terakhir tidak berhubungan dengan kasus itu. Jika hal ini berjalan konstan untuk lima tahun ke depan maka kasus ini akan ditutup.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Begitu, ya ....&#34; Helaan napas yang dikeluarkan dari bilah bibir lelaki itu terdengar sangat berat. Terlihat jika dirinya sangatlah sedih akibat kehilangan salah satu rekan se-timnya. &#34;Saya hanya ingin keadilan, untuk Youngchanie kami.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Keadilan?&#34; Mendengar sesuatu yang menarik keluar dari mulut lelaki itu, sontak Yoongi berdiri dengan tegap. Ia memasang telinganya baik-baik, berusaha memusatkan perhatiannya pada Jincheol. &#34;Jelaskan dengan rinci.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Youngchanie, telah melewati masa-masa sulit di dalam hidupnya.&#34; Lelaki itu tersenyum pahit, seraya menatap semua yang ada di ruangan itu secara bergantian. &#34;Awalnya kami gak terlalu dekat, dua tahun yang lalu dia masih muda sekali. Selalu bekerja keras banting tulang demi adiknya yang ada di rumah.&#xA;&#xA;&#34;Pulang larut malam, berangkat pagi buta. Sampai akhirnya titik awal kehancuran dia, adalah saat adiknya divonis kanker darah.&#34; Jincheol semakin mengeratkan genggaman tangannya satu sama lain, menahan rasa sesak yang ada di dadanya saat perlahan-lahan membuka luka lama rekan satu timnya.&#xA;&#xA;&#34;Dari dia yang kerja 100%, sampai melonjak jadi 200%, bahkan dia seringkali tertidur di tribun stadion tempat kami latihan. Dan itu wajar, dia butuh uang untuk mengobati adiknya. &#xA;&#xA;&#34;Namun, yang ada di otak &#39;dia&#39; hanyalah uang.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Dia? Lee Youngchan-nim?&#34; tebak Jimin walau akhirnya mendapat gelengan pelan dari sosok yang duduk tepat di depannya ini. &#xA;&#xA;&#34;Pelatih kami, Ha Ki-joon.&#34; Ketika mendengar nama yang tidak pernah mereka curigai dari awal, sungguh membuat Hoseok, Yoongi, dan Jimin terkejut. Nama yang bahkan tidak ada di dalam daftar tersangka. &#34;Dia menggunakan Youngchanie untuk mendapatkan uang lebih, dari sponsor. Meski akhirnya, uang bayaran untuk Youngchanie gak pernah sampai ke tangannya bahkan sampai dia beristirahat dengan tenang.&#xA;&#xA;&#34;Waktu itu dia tetap latihan, dengan tetap berpikir kalau nantinya pelatih kami akan membayar gajinya, tetapi nihil. Hal itu gak pernah terjadi. Sampai akhirnya adiknya meninggal di rumah sakit, lalu dia yang mulai kecanduan narkoba, dan mencoba self harming.&#34; Lelaki itu menjeda ucapannya untuk meraih segelas air putih yang baru saja diletakkan oleh Hoseok di atas meja. Entah sudah ke-berapa kalinya ia menghela napas untuk menghilangkan rasa sakit yang melekat di dadanya.&#xA;&#xA;&#34;Pelatih kami tentu tidak senang dengan hal itu, apalagi Youngchanie juga lumayan terang-terangan dengan pacarnya.&#34; Atmosfer semakin tegang seiring berjalannya waktu. Cerita yang baru saja dipaparkan oleh teman dari Lee Youngchan sungguh mengagetkan mereka. &#34;Pelatih kami pernah bilang, kalau dia ingin membunuh Youngchanie dengan tangannya sendiri.&#34; &#xA;&#xA;&#34;I found it. Video di hari Lee Youngchan terbunuh.&#34; Sontak pengakuan tersebut terputus saat masuknya Jungkook ke dalam ruangan sembari membawa bukti baru yang akan menuntun mereka ke titik akhir dari kasus ini.[]]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Kamu masih belum pulang juga?” Suara berat milik Yoongi menggema di dalam ruangan itu. Hoseok yang tengah melahap mi instannya pun sedikit mendongakkan kepalanya sebelum menggeleng pelan, memaklumi perselisihan yang kembali terjadi di antara anggota mereka. </p>

<p>Ya, siapa lagi kalau bukan Yoongi dan Jimin? Semenjak pagi tadi, Yoongi terus-terusan meminta Jimin untuk beristirahat dan pulang ke rumah karena kondisi badan laki-laki itu yang sedang tidak baik. Meskipun pada akhirnya Jimin tetap bersikukuh tidak ingin pulang dengan tetap menempelkan pantatnya pada kursi kerjanya.</p>

<p>Jika dua orang yang begitu keras kepala dipertemukan, seketika itu juga pertempuran akan terjadi. Bahkan Hoseok hanya bisa berdecak malas, serta melempar tatapan yang menyuarakan, &#39;Dasar bocah-bocah ini&#39; kepada kedua insan itu.</p>

<p>“Kamu itu lagi sakit, Ji—”</p>

<p>“Permisi,” ucap salah seorang rekan mereka dari divisi lain. Dengan sigap, Yoongi mempersilakan sosok laki-laki berumur di awal dua puluhan itu untuk masuk ke dalam ruangan mereka.</p>

<p>Sekilas terbentuk perempatan imajiner di saat ia melihat rekannya itu membawa salah seorang laki-laki yang lebih muda. Berdiri, mengekorinya begitu saja.</p>

<p>“Hwang Jincheol-<em>ssi</em>?” sahut Hoseok dari jauh. Ia melupakan mi instannya di atas meja, dan segera bergerak mendekat ke arah meja Jimin.</p>

<p>“Siapa?”</p>

<p>“Oh? Temannya Lim Youngchan-<em>ssi</em>. <em>Catcher</em> dari Red Tiger.” Hoseok menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Yoongi dengan pasti dan yakin. Namun, seketika tatapannya berubah menjadi tatapan penuh kebingungan. Bingung perihal hal apa yang membuat lelaki itu sampai datang kemari.</p>

<p>Setelah sang pengantar sudah selesai dengan tugasnya dan keluar dari ruangan, kini hanya tersisa mereka bertiga di dalam sana. Jimin yang sedikit merasa pusing pun hanya menumpu dagunya dengan tangan, berusaha menangkap apa pun yang akan diucapkan dari teman si korban.</p>

<p>Tentu, hal ini bisa menjadi bukti yang sangat kuat dan akurat. Karena sebelumnya baik anggota tim dan anggota lawan tidak ada satu pun yang ingin berbicara dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa.</p>

<p>“Apa kasus dari Youngchan<em>ie</em> sudah selesai?” tanya lelaki bermarga Hwang itu dengan suara yang begitu lirih.</p>

<p>“Dua tersangka terakhir tidak berhubungan dengan kasus itu. Jika hal ini berjalan konstan untuk lima tahun ke depan maka kasus ini akan ditutup.”</p>

<p>“Begitu, ya ....” Helaan napas yang dikeluarkan dari bilah bibir lelaki itu terdengar sangat berat. Terlihat jika dirinya sangatlah sedih akibat kehilangan salah satu rekan se-timnya. “Saya hanya ingin keadilan, untuk Youngchan<em>ie</em> kami.”</p>

<p>“Keadilan?” Mendengar sesuatu yang menarik keluar dari mulut lelaki itu, sontak Yoongi berdiri dengan tegap. Ia memasang telinganya baik-baik, berusaha memusatkan perhatiannya pada Jincheol. “Jelaskan dengan rinci.”</p>

<p>“Youngchan<em>ie</em>, telah melewati masa-masa sulit di dalam hidupnya.” Lelaki itu tersenyum pahit, seraya menatap semua yang ada di ruangan itu secara bergantian. “Awalnya kami gak terlalu dekat, dua tahun yang lalu dia masih muda sekali. Selalu bekerja keras banting tulang demi adiknya yang ada di rumah.</p>

<p>“Pulang larut malam, berangkat pagi buta. Sampai akhirnya titik awal kehancuran dia, adalah saat adiknya divonis kanker darah.” Jincheol semakin mengeratkan genggaman tangannya satu sama lain, menahan rasa sesak yang ada di dadanya saat perlahan-lahan membuka luka lama rekan satu timnya.</p>

<p>“Dari dia yang kerja 100%, sampai melonjak jadi 200%, bahkan dia seringkali tertidur di tribun stadion tempat kami latihan. Dan itu wajar, dia butuh uang untuk mengobati adiknya.</p>

<p>“Namun, yang ada di otak &#39;dia&#39; hanyalah uang.”</p>

<p>“Dia? Lee Youngchan-<em>nim</em>?” tebak Jimin walau akhirnya mendapat gelengan pelan dari sosok yang duduk tepat di depannya ini.</p>

<p>“Pelatih kami, Ha Ki-joon.” Ketika mendengar nama yang tidak pernah mereka curigai dari awal, sungguh membuat Hoseok, Yoongi, dan Jimin terkejut. Nama yang bahkan tidak ada di dalam daftar tersangka. “Dia menggunakan Youngchan<em>ie</em> untuk mendapatkan uang lebih, dari sponsor. Meski akhirnya, uang bayaran untuk Youngchan<em>ie</em> gak pernah sampai ke tangannya bahkan sampai dia beristirahat dengan tenang.</p>

<p>“Waktu itu dia tetap latihan, dengan tetap berpikir kalau nantinya pelatih kami akan membayar gajinya, tetapi nihil. Hal itu gak pernah terjadi. Sampai akhirnya adiknya meninggal di rumah sakit, lalu dia yang mulai kecanduan narkoba, dan mencoba <em>self harming</em>.” Lelaki itu menjeda ucapannya untuk meraih segelas air putih yang baru saja diletakkan oleh Hoseok di atas meja. Entah sudah ke-berapa kalinya ia menghela napas untuk menghilangkan rasa sakit yang melekat di dadanya.</p>

<p>“Pelatih kami tentu tidak senang dengan hal itu, apalagi Youngchan<em>ie</em> juga lumayan terang-terangan dengan pacarnya.” Atmosfer semakin tegang seiring berjalannya waktu. Cerita yang baru saja dipaparkan oleh teman dari Lee Youngchan sungguh mengagetkan mereka. “Pelatih kami pernah bilang, kalau dia ingin membunuh Youngchan<em>ie</em> dengan tangannya sendiri.”</p>

<p>“<em>I found it</em>. Video di hari Lee Youngchan terbunuh.” Sontak pengakuan tersebut terputus saat masuknya Jungkook ke dalam ruangan sembari membawa bukti baru yang akan menuntun mereka ke titik akhir dari kasus ini.<strong>[]</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://yourjiminie.writeas.com/the-case-174</guid>
      <pubDate>Mon, 21 Feb 2022 03:48:12 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>